Thursday, September 23, 2010

Second Language Acquisition

Bagaimana kita bisa berkomunikasi melalui bahasa adalah hal yang menakjubkan. Saat masih usia 2-3 tahun, kita nggak pernah sadar bagaimana kita mengembangkan kemampuan berbahasa ini. Tiba-tiba saja, kita dapat berbicara, membaca, dan menulis. Bahkan saat tulisan ini diketik, saya seolah-olah nyaris tidak memikirkan apa itu kata kerja, kata benda, kata sifat, prefiks dan sufiks. Konon kabarnya, prefiks (atau awalan seperti "me", "mem", "di", "ber") dan sufiks (seperti "i", "an", "kan", "nya") sangat sukar bagi orang asing yang mempelajari Bahasa Indonesia. Padahal bagi yang first language-nya Indonesia, prefiks atau sufiks semacam itu, hampir tidak pernah kita pikirkan saat kita berbahasa.

SLA atau dalam bahasa Indonesia "Pemerolehan Bahasa Kedua" adalah bagaimana kita mendapatkan kemampuan berbahasa asing (selain bahasa asli kita). Ini juga tidak kalah menakjubkannya (misterius menurut saya) dibandingkan pemerolehan bahasa pertama. Saya mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris (sebagai SLA) sejak SMP yang masuk dalam mata pelajaran intrakurikuler. Saya menghafal vocab, belajar grammar, berlatih membaca, mendengarkan, bercakap-cakap, dan menulis. Seperti halnya mendapatkan first language, bagaimana menguasai SLA ini juga sepertinya nggak disadari. Tahu-tahu kemampuan berbahasa itu nancap begitu saja di kepala (emm... beneran ada di kepala?).

Sekarang saya di Jepang, di mana 8 dari 10 orang yang saya temui (Statistik kasar - setidaknya di lab di mana saya melakukan research), tidak bisa berkomunikasi aktif dalam bahasa Inggris (apalagi bahasa Indonesia). Setiap hari, saya akan dipaksa untuk mendengarkan atau merespon dalam bahasa Jepang, yang merupakan second language buat saya. Minggu-minggu ini adalah proses SLA, mendapatkan bahasa kedua, yaitu bahasa Jepang. Saya mulai membaca buku-buku pelajaran Bahasa Jepang. Tapi SLA benar-benar misterius. Pertanyaan "toire wa doko desu ka?" (Di manakah toilet?) tiba-tiba dapat saya tanyakan kepada mbak-mbak informasi karena saya sangat kebelet pipis ingin tahu di mana letak toilet ketika jalan-jalan di sebuah mall. Saya cukup yakin di buku yang saya pelajari tidak pernah ada kalimat tersebut.

Hari ini, kami berencana ke Narita naik kereta api (yang sudah nggak ada api-nya lagi). Dengan mengikuti papan informasi, kami menuju ke line kereta jurusan Narita. Saat menunggu di kereta, rasanya ada yang kurang tepat. Jika kami salah naik kereta, maka akibatnya fatal - kami akan sampai di stasiun antah-berantah, dan semua jadwal perjalanan kami akan mundur. Saat duduk menunggu keberangkatan kereta, tiba-tiba tersusun kalimat pertanyaan kepada emak yang duduk di samping saya, "Sumimasen, kono densha wa Narita e ikimasu ka?" (Permisi, Apakah kereta ini menuju Narita?). Bagaimana emak tersebut merespon, sangat melekat dalam kepala saya, yaitu, "Ee... Narita ikunai" (Eee... Tidak ke Narita) - sambil tangannya memberikan isyarat bahwa kereta ini bukan ke Narita, "Tokyo ikimasu..." (Ke Tokyo). "Ahh... Arigatou!" Jawab saya, dan kami segera keluar dari kereta. Beberapa detik setelah kami keluar, pintu kereta tertutup dan pergi membawa emak dan penumpang di dalamnya ke Tokyo. Kami memandang keberangkatan kereta tersebut imajinasi liar apa yang akan terjadi jika kami masih tetap di dalam kereta tersebut.

Selain kepada emak tadi, saya merasa sangat berterimakasih kepada kalimat "Kono densha wa Narita e ikimasu ka?". Kalimat itu melekat sekali dalam kepala saya (dan kemungkinan, strukturnya juga akan atau segera terbentuk dalam kepala saya, sehingga ketika ada kalimat dengan struktur serupa akan lebih mudah dimengerti).

Beberapa istilah seperti "Kochira", "Dozou", "Soo... soo...", "So desu ne", "Honto?" juga terbentuk secara otomatis setelah beberapa kali istilah tersebut "dikenakan" kepada kami dalam berbagai keadaan.

Saya kira SLA adalah hal yang misterius... Dan dalam minggu-minggu ini, proses pemerolehan bahasa kedua untuk Bahasa Jepang akan saya alami. Saya akan menikmati salah satu keajaiban otak manusia.

Diketik di Narita Airport, 22 September 2010, Pk. 13.48.
(Menunggu istri yang lebih senang jalan-jalan ketimbang blogging seperti saya)

Beasiswa ke Jepang? Enak ya...

Masih belum genap 2 minggu saya di Jepang (sejak sampe Narita tanggal 11 September lalu). Ketika masih di Indonesia, ungkapan "Wiih... enak ya bisa ke Jepang gratis..." sering saya dengar (baik secara eksplisit maupun implisit melalui body language).

Benaran enak ya? Ya... bisa disebut enak kalo definisi enak adalah:
  • Bisa jalan-jalan ke Jepang dengan tiket pesawat PP dibayarin.
  • Bisa menikmati tenangnya taman kota di sore hari tanpa kuatir dipalak preman.
  • Bisa ke mall di Tokyo yang dipenuhi dengan orang2 dengan berbagai dandanan (yang membuat kita aneh jika berjalan tanpa dandanan apapun)
  • Bisa menikmati praktisnya sistem transportasi menggunakan kereta, yang biaya untuk sekali transfer antar stasiun dalam jarak kurang dari 5KM bisa dipake naek mikrolet Arjosari-Tidar seminggu.
  • Bisa mencoba makanan dan minuman baru yang higienitasnya dipastikan terjamin.
  • Bisa mendapatkan teman-teman baru dengan latar belakang budaya yang berbeda.
  • Bisa mendapatan sistem pendidikan yang kabarnya salah satu yang terbaik di dunia.
  • Bisa jalan-jalan ke Tokyo Disneyland atau Tokyo DisneySea yang penuh dengan atraksi spektakuler (yang kalo di Indo katanya tempat liburannya orang kaya - padahal tiket masuknya setara dengan upah tukang sapu jalanan ato cleaning service sehari).
  • Bisa menikmati teknologi tercanggih untuk televisi, gadget, internet, dan perangkat2 elektronik lainnya.
  • Bisa pergi ke negara2 tetangga (Korea, China, Taiwan, Hongkong) dengan biaya tiket dan biaya hidup lebih murah ketimbang berangkat dari Indonesia.
So far enak. Tapi bayangkan kamu menghadapi situasi-situasi seperti ini:
  • First of all, kamu hidup di lingkungan di mana sebagian besar org2nya tidak mengerti bahasa yang kamu ngerti dan hanya ngerti bahasa yang tidak kamu mengerti. Jadi, either kamu yang berusaha ngerti ketika diajak ngomong ato kamu ngomong tapi nggak dimengerti atau menggunakan bahasa universal dunia, tubuh.
  • Kamu hidup dimana SEMUA INSTRUKSI ditulis dalam karakter2 yang seumur2 kamu nggak pernah nyangka bahwa karakter2 aneh itu ternyata punya arti. Which means, pas kamu naek kereta, kamu harus observasi dulu bagaimana caranya... Mau dibaca juga gak ngerti, mau nanya mas kondekturnya, dianya yang nggak ngerti. Hal yang sama terjadi ketika kamu mau laundry baju di mesin pencuci otomatis, membeli tiket kereta, beli makanan/minuman di vending machine, telepon di telepon umum, dsb.
  • Ketika pertama dateng, kamu nggak punya kolega sama sekali. Which means, all by yourself. Dalam keadaan nggak ada kolega seperti itu, hukum "nobody cares" akan berlaku. In my case, PPI-Chiba (Persatuan Pelajar Indonesia) sangat membantu. Tanpa dibantu rekan2 PPI-Chiba, kami akan so much in trouble.
  • Lalu waktu pertama dateng, kamu nggak ada tempat tinggal tetap dan harus segera cari apartemen (secara asrama kampus baru bisa dimasuki bulan Januari tahun depan). Proses mencari apartemen nggak semudah kayak cari kos2an di Indonesia - yang 5 menit udah deal harga dan langsung bisa masuk kamar. Di Jepang, mencari apartemen butuh waktu minimal 2 hari sebelum kunci apartemen diberikan. Di apartment agency kamu dipaksa untuk mengerti apa yang dijelaskan dalam Bahasa Jepang... Kalo oke, kamu harus tanda tangan di sebuah kertas yang disebut dengan "kontrak apartemen" di mana akan berjumpa kembali dengan ratusan karakter aneh yang buat kamu nggak ada artinya.
  • Setelah dapet tempat tinggal, bukan berarti semua beres. Apartemen yang disewa, hanya dilengkapi AC dan shower buat mandi. Nggak ada kasur empuk, nggak ada peralatan dapur, nggak ada kulkas, nggak ada TV, nggak ada mesin cuci... Mau masak nasi? Berasnya sih jual, tapi rice cookernya? Mau masak mie instan yang dibawa dari Indonesia? Kompornya mana? Mau makan makanan instan yang dijual di supermarket? Bisa, opsinya dihangatin pake microwave, ato dimakan dingin2 (karena semua makanan instan di supermarket dipajang di refigrator). The best choice adalah makan di rumah makan. Hanya saja di sini nggak ada cabangnya soto lombok, nggak ada cabang rawon nguling, nggak ada pecel panderman, nggak ada lalapan mega mendung... Kalopun makan, kita harus milih yang ada gambar makanannya lalu nunjuk ke mbak pelayannya. Kalo nggak ada gambarnya dan asal nunjuk tulisan, you have no idea makanan apa yang akan muncul...
  • Berikutnya transportasi. Nggak ada mobil pribadi ato sepeda motor untuk bepergian jarak dekat (<=3KM). Nggak ada mikrolet jurusan AG ato ADL apalagi ojek. Jadi bagaimana? Ya, kembali ke metode transportasi di awal peradaban manusia... Bukan naik kuda, jauh sebelum itu... Jalan kaki. Bahkan untuk mencari tau di mana ada supermarket yang jual kebutuhan sehari2, kamu harus trial and error, menggunakan algoritma brute-force keliling kota dengan resiko kesasar karena papan petunjuk arah-pun menggunakan karakter aneh yang nggak kamu ngerti.
  • Gimana dengan uang? Karena masih baru, tentu kamu nggak punya bank account. Nggak ada ATM yang bisa dengan gampang tinggal tarik kayak pas di Indonesia. Jadi harus segera buka rekening bank agar uang dari Indonesia segera bisa ditransfer. Good idea! Segera buka rekening. Tapi ketika buka rekening, sekali lagi semua instruksi disajikan dalam bahasa kanji. Selain itu, syarat memiliki ID Card harus dipenuhi. Jadi harus memiliki ID Card. Oke, bagaimana mendapatkan mendapatkan ID Card? Menurut mbaknya, ID Card didapatkan dengan cara mendafatarkan diri di Ward Office - kalo di Indonesia namanya kantor catatan sipil. Di Malang saya tau persis letaknya dan saya bisa ke sana dengan naek mikrolet, sepeda motor, ojek, mobil, ato jalan kaki dengan mata terpejam. Tapi ini di Jepang...
Keadaan ini sangat jauh dibandingkan dengan ketika hidup di Indonesia. Ada tempat tinggal, ada kendaraan, lingkungan yang sangat ramah satu sama lain, kebutuhan pokok dapat terpenuhi... Di sini memulai segala dari 0...

Tapi overall, saya enjoy dengan lingkungan baru ini. Semakin lama pasti getting better walaupun di awal harus struggling. Kalo ada yang bilang "Wiiih, enak ya bisa dapet beasiswa ke Jepang...", hmm... you just have no idea what I've been through. :)

Diketik di Mall 1000City (Sencity), Chiba tanggal 22 September 2010 Pk. 18.38
(Sementara menunggu istri jalan2 di Sogo - nggak dia nggak belanja kok, cuman liat2 dan bandingkan harga)