Friday, January 8, 2010

Anti-Friending

Term "Anti-marketing" mengacu pada suatu teknik marketing yang nyeleneh, nggak lasim, nggak normal, dan sama sekali nggak punya dasar teori marketing, tapi sukses!

Kemarin, waktu makan siang, Mbak Putu cerita ada nasi pecel di Surabaya (Jl. Pandegiling). Kalo denger ceritanya (ato menurut teori marketing), seharusnya pecel ini nggak laris2 banget, selain harganya yang mahal (1 bungkus-nya sama dengan 4 bungkus harga nasi pecel di Malang), rasanya pedas-nya juga di luar batas kewajaran. Tapi nyatanya pecel ini laris setengah mati.

Saya jadi inget Depot Mie "XX" di depan Jl. C*. Tempatnya sempit (cuman ada 3 meja dan tiap meja muat 4 orang), harganya juga considered as expensive untuk ukuran Mie Ayam, ditambah lagi yang jual jauh dari kesan ramah... Lama waktu memesan akan berbanding lurus dengan ketidak-ramahan si penjual. Semakin lama waktu untuk memesan, maka tingkat ketidakramahan juga bertambah. Intinya, "cepat pesan, jangan merepotkan, kalo nggak mau pesan, pulang aja!" - setelah selesai makan, jangan harap bisa berleha2, ngobrol2 santai sambil ketawa-ketiwi... Sebaiknya langsung bayar dan cepat pulang sebelum diusir secara (tidak) halus. Customer satisfactory jelas bukan tujuannya... Berinvestasi tempat apalagi. Tapi Depot Mie ini, dari buka di pagi hari sampe tutup di siang hari, selalu dipenuhi pengunjung.

Warung nasi "Bu Jenggot" di Jl. Kawi juga sama. Hanya ada 3 jenis menu makanan dan 3 jenis minuman (panas - nggak ada es!). Tempat makannya jangan dibayangkan di gedung ber-AC, ato cozzy place yang diiringi lagu yang romantis. Jauh dari itu... Dengan bangunan tripleks 3x3, tinggi 2 meter, lantai semen dan kursi kayu panjang (plus jam buka yang tidak menentu), warung ini bisa dipenuhi (dan diantri) oleh orang2 yang berduit (kalo nggak punya duit ya jelas nggak bisa makan) dan rela menunggu untuk mulai antri sejak warung belum dibuka. Dengan bangunan seperti itu, makan di dalam sama sekali nggak nyaman, asap nasi, asap dari masakan dan minuman yang mengepul jadi satu menimbulkan kesan sumpek dan panas - siapa mau makan di tempat seperti itu. Tapi nyatanya, warung ini laris, laris dan laris... Aneh!

I'm not really sure, but that might called "Anti Marketing". Definitely, kamu pasti bisa menyebutkan berbagai anomali semacam itu.

So, let me introduce a new term called, "anti-friending" - dari kata "anti" dan "friend". Ini adalah jenis teman yang nyeleneh dan nggak memperhatikan kaidah-kaidah pertemanan. Dia bisa berkata dengan kasar ke seseorang dengan gampangnya. Ngomong-nya "as nice as his belly" (se-enak udelnya) tentang orang lain - dengan cara khas-nya, dia berani kritik dan mencoreng-moreng muka orang lain di depan publik... Tapi, sama seperti Pecel Pandegiling, Depot Mie "XX" dan Warung nasi "Bu Jenggot", dia bisa menjadi populer, dipercaya, disukai dan... some people, respect him very much. Anti-friending.

Allow me to explain the anomaly. Depot Mie "XX" keliatannya nggak memperhatikan customer satisfaction, nggak peduli dengan tempatnya yang sempit dan berkapasitas kecil, penjualnya juga nggak menunjukkan keramahan kepada para customernya. Tapi, di balik itu semua, let me tell you, si penjual menyediakan mie terbaik, racikan bumbu terbaik, kombinasi saus+sambal+acar+lombok dengan komposisi yang tepat. She's a pro! Si penjual tau persis kualitas mie seperti apa yang diinginkan oleh pembeli setelah (mungkin) riset bertahun2. Ketidakramahan yang ditunjukkan, simply membuat para pembeli hanya ingin menikmati mie-nya - lalu secepat mungkin meninggalkan tempat - sehingga lebih banyak lagi pelanggan yang bisa dilayani (dan dipuaskan)... and you still wonder why that Depot Mie "XX" has more and more customer?

So is Warung Nasi "Bu Jenggot". Menu makanan yang disajikan (yang hanya 3 macam itu), membuat suatu ciri khas yang simply the best untuk jenis makanan tersebut. Fokus pada jenis makanan tersebut membuat dia sangat mengerti bagaimana mengolah daging, mengolah tempe, tahu, sambel goreng, atau membuat sambal untuk soto dan rawon. Situasi tempat yang sempit (dan terkesan sumpek), ternyata menimbulkan orgasme tersendiri bagi yang telah selesai makan. Berkeringat, lega dan puas (yang tidak pernah bisa didapatkan pada suasana ruangan ber-AC). That's it! She provides the best food with her style, and you still wonder why that Warung is so crowd?

"Anti-friend" is more less the same. Kritisi yang diberikan, kata-kata menusuk yang "as nice as his belly" di depan publik, yang mencoreng moreng muka si "victim" sebenarnya hanya nampak di luar saja. Di balik itu semua, ada filosofi tulus untuk membuat situasi menjadi lebih baik - dan membuat si "victim" menjadi berkembang lebih dewasa. Trust me, mengatasi "Anti-friend" dengan emosi hanya memperkeruh suasana (sama seperti komplain ke penjual Mie "XX", hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan menikmati the best Mie in town).

We must see faaaaarrr beyond that, see the sincerity behind his "anti-friending" action... It's beautiful... dan nggak semua orang berani (dan bisa) melakukan itu. The risk is way too big! If people don't understand, he takes high risk to be their enemy.

And, really... I couldn't resist myself not to respect those people and simply thank you to those people. You're the man!



2 comments:

  1. itu juga ada tempat penyewaan alat2 camp d malang "d**ent"...
    gile bgt!!!
    galak dan juteknya minta ampuuuunn....
    tp pelanggan nya berjibuuunn....
    ga pernah sepi....T_T



    Situasi tempat yang sempit (dan terkesan sumpek), ternyata menimbulkan orgasme tersendiri bagi yang telah selesai makan<<<saya suka kalimat ini.....^^V

    ReplyDelete
  2. suka kalimatnya ato orgasmenya? haha2...

    ReplyDelete