Friday, December 24, 2010

(Incomplete)Christmas-Story Session 1

So... I was wondering.
Bagaimana hebohnya sorga saat Bayi itu hendak dilahirkan?

Here's the imagination of a-lonely-story-teller-during-Christmas-day-2010-in-Japan.
----
Part 1: Jejaring sosial malaikat
Sejak awal dijadikan, setiap malaikat punya fungsi tertentu. Mereka punya profil siapa dia, apa tugasnya, dan spesialisasi yang dipunyainya. Dan mereka tergabung dalam sebuah jejaring sosial malaikat. That's how they communicate with each others. Biasanya, setelah selesai bertugas di bumi, para malaikat saling share status dan foto-foto aksi mereka saat di bumi - lalu rame2 dikomentari oleh malaikat lain.

(and... one day, ide tentang jejaring sosial semacam ini menginspirasi seorang anak muda yang kemudian diwujudkan menggunakan teknologi internet yang menjadikan anak muda tersebut dinobatkan sebagai people of the year 2010 oleh majalah Times, you-kn0w-who-he-is).

Part 2:
Sometime - somewhere in heaven (estimated earth time: 4-6AD, 2000 years ago)
Rencana kelahiran Bayi itu menjadi trending topic dalam beberapa minggu terakhir di kalangan malaikat. Banyak malaikat yang merasa skeptis dengan ide kelahiran Bayi tersebut. Beberapa merasa ide tersebut doesn't make any sense at all... Bagaimana mungkin seorang Juruselamat harus lahir dalam rupa seorang bayi yang lemah?

Malaikat Jolie yang mendapatkan konfirmasi kelahiran Bayi itu segera menuliskan status "The saviour, it's 100% confirmed born as... a Baby-boy!!".
153 angels like this.
351 Comments:
  • 3212: "Gilleee... Beneran lahir bayi?"
  • 7842: "Ya jadi bayi lah... Yesaya aja tau..."
  • 4321: "Apa kata duniaaa...?"
  • 5542: "@4321: ya... siap2 ditolak... siap2 orang dunia nggak percaya... Manusia gitu looh...."
  • 5661: "@5542: hiks, tugas kita bakal tambah berat kayaknya..."
  • ...
Namun, spekulasi tentang siapa yang akan melahirkan Bayi tersebut dan di mana kelahirannya juga menjadi perdebatan yang tak kalah sengit di jejaring sosial malaikat itu. Malaikat Gabriel yang pernah menampakkan diri kepada Daniel menuliskan status, "Boleh percaya boleh nggak... Dia akan dilahirkan oleh seorang perawan!"
463 Angels like this.
  • 3611: "Perawan...?? HE really has a sense of humor..."
  • 6255: "Creative!!"
  • Gabriel: "Yup... Message dariNya udah sampe oii... Dalam beberapa hari ini gue ditugaskan menemui Ms. X di Bethlehem, nyampekan kabar baik kalo dia akan mengandung ^.^"
  • 6531: "@Gabriel: Wooow... jadi messenger, tugas penting, tugas berat... Ganbatte nee..."
  • 3112: "@Gabriel: Rencana nyamar jadi apa loe?"
  • Gabriel: "@6531: Thanks bro...!!! @3112: jadi diri gue sendiri kaleee... pesen penting kalo pake nyamar jadi manusia bisa tambah berabe... Tempo hari Si 7743 aja nggak dipercaya pas nyampekan pesen ke Zakaria kalo Elisabet akan mengandung, padahal nggak pake nyamar diee... Dasar manusia!"
  • 4121: "@Gabriel Penasaran niii... Ms. X-nya udah punya pacar blom yaa?"
  • @Gabriel: "@4121 Denger2 sih udah tunangan... Itu tunangannya kan masi keturunannya Daud."
  • 4121: "Wiii... ngeri juga kalo tunangannya tau tiba2 Ms. X udah hamil... Nggak kebayang deh..."
  • Gabriel: "Siap2 aja... ntar pasti ada yang dapet tugas nyampekan berita ini ke tunangannya..."
  • ...
------

Part 3:
To be continued on next Christmas. (Aslinya udah kering ide...)
[Or, you might want to read this-5-years-old-Christmas-story, the Christmas story that guarantee you wouldn't have heard before]

Ah, Merry Christmas 2010...



Wednesday, December 22, 2010

Tagihan Air

Jadi, kemaren tiba2 ada surat di kotak pos saya. Seperti biasa, ditulis dengan rapi dalam bahasa Kanji. Tidak ada petunjuk itu surat apa. Yang bisa saya baca, tentunya adalah angka. Ada angka 1.257 dan diikuti simbol untuk mata uang yen.

Angka tersebut punya dua kemungkinan, (1) Saya dapat uang 1.257 yen. (2) Saya disuruh bayar 1.257 yen. Tentu kemungkinan ke-1 lebih menyenangkan ketimbang kemungkinan ke-2. Tapi mengingat saya nggak pernah pasang lotere dalam bentuk apapun, saya mengeliminasi kemungkinan pertama. Jadi tinggal kemungkinan ke-2, yaitu saya harus bayar 1.257 yen. Pertanyaan berikutnya adalah, kenapa.

Pertanyaan itu tidak mudah dijawab jika tidak ada petunjuk angka "5m (kubik)" yang muncul di dekat 1.257 yen. Jadi saya menyimpulkan itu adalah tagihan untuk sesuatu yang saya pakai sebanyak 5m (kubik). Jelas itu bukan tagihan listrik, karena saya nggak pernah pakai listrik dengan menggunakan satuan meter kubik. Saya menggunakan listrik dalam satuan kilo watt hour (KWh).

Saya mulai menganalisa. Seingat saya, zat yang bisa diukur dalam satuan meter kubik (di mana saya gunakan/konsumsi setiap hari) adalah (1) Air untuk masak/mandi (2) Gas untuk masak dan menghangatkan air (3) Udara yang saya hirup. Sepanjang pengetahuan saya, masih belom ada undang2 yang mewajibkan harus bayar 1.257 yen untuk menghirup udara sebanyak 5 meter kubik. Jadi kemungkinannya itu adalah tagihan untuk Air atau Gas, yang mana keduanya sudah saya bayar. Jadi ini tagihan apa?

Ternyata (setelah bertanya ke teman Lab yang sudah 20-an tahun lebih hidup sebagai warga negara Jepang), dia jawab:
"Oh, itu tagihan air..."
"Tagihan air? Tapi saya udah bayar tagihan air bulan ini."
"Iya... Yang dibayar baru air yang dipake..."
"Hah? Lalu saya mesti bayar air yang nggak saya pake?"
"Bukan gitu... Air yang dipake bayar. Air yang DIBUANG setelah kamu pake juga mesti dibayar."

Greaaattt...!! Welcome to Japan, di mana setiap tetes air yang kamu buang harus bayar. Berdasarkan fakta tersebut, let me propose some tips to reduce your water bill when you're living in Japan:
  • Mandilah di bak mandi dan jangan buang airnya. Bekas air itu bisa dipake untuk mandi keesokan harinya.
  • Kalo pipis, tampung dulu di bak. Kalo bak-nya sudah penuh, gunakan untuk menyiram tanaman di kebun - dan jangan dibuang melalui pembuangan air.
  • Kalo pas buang air besar, jangan buru2 disiram. Pastikan sudah nggak ada lagi yang keluar, barulah disiram. Jadi disiram sekali.


Tuesday, December 21, 2010

Selamat Ulang Tahun

Saya nggak lagi ulang tahun. Juga nggak lagi dapet ucapan selamat ulang tahun ato kepingin dikasi ucapan ulang tahun. Dan sedang nggak ada rencana ngucapkan selamat ulang tahun... Emang sekarang ada yang lagi ulang tahun? Ya pasti ada... Cuman saya nggak tau siapa. Lalu kenapa judul postingnya selamat ulang tahun? Ceritanya begini...

Dulu, waktu saya masih kecil , saya ngerasa sedikit bangga/senang kalo ada yang ngasi ucapan selamat ulang tahun (plus kado) ke saya. Siapapun dia, pasti dia nganggep saya spesial sampe mau "merepotkan" diri mengingat ato mencatat hari ulang tahun saya. Mau repot menemui saya untuk ngasi ucapan ke saya (secara waktu itu nggak ada hape).

Tapi sejak munculnya berbagai gadget dengan fitur reminder, nilai dari memberi ucapan selamat ulang tahun menjadi turun. Siapapun yang punya hape, bisa dengan mudah mencatat ulang tahun temannya. Pada hari-H, akan muncul reminder bahwa si X sedang ulang tahun hari ini. Si empunya HP, yang tadinya nggak sadar kalo hari itu hari ultahnya si-X, jadi tahu karena adanya reminder. SMS ucapan selamat ulang tahun segera dikirim... "Selamat ulang tahun, bla... bla... bla...". Somehow, saya merasa cara mengucapkan selamat ulang tahun ini (dengan diingatkan menggunakan reminder) seperti ini kurang bermakna ketimbang ucapan selamat ulang tahun jaman dahulu kala, ketika orang2 berusaha menghafalkan tanggal tertentu atau merepotkan diri mencatat pada buku catatan tertentu.

Fitur notifikasi siapa-yang-berulang-tahun-hari-ini di Facebook, membuat ucapan selamat ulang tahun lebih turun lagi harganya. Ngasih ucapan selamat ulang tahun, bisa dengan gampang diketik di wall dengan nyaris tanpa "cost" ato pengorbanan apapun (apa susahnya ngetik "Selamat ulang tahun..." di wall seseorang).

Saya kuatir, jangan2 hanya sekedar karena ada notifikasi yang nongol di FB bahwa si A, B, X ulang tahun, kemudian teman2 laen nulis di wall-nya dia, lalu kita jadi ikut2an nulis selamat ulang tahun. "Ya... Mendinglah, daripada nggak ngucapkan sama sekali..." ato "Kalo kita ngucapkan selamat ulang tahun, kan artinya kita perhatian sama dia..." Bukannya gitu?

Really?? Coba ukur, seberapa perhatiannya kamu dengan orang yang kamu kasi ucapan selamat ulang tahun? Kenal baik sama dia? Apa ucapan yang dikasi bisa "mengena" dan bener2 pas buat dia (ato asal ngasi ucapan? ato malah copy-paste dari "database ucapan selamat ulang tahun")?

Ucapan "Selamat ulang tahun... Semoga panjang umur, semoga banyak rejeki, dll, dll..." bukan ucapan yang salah, tapi lebih bermakna kalo kita bisa memberikan ucapan (dan doa) yang spesifik khusus untuk yang sedang berulang tahun, "Selamat ulang tahun, semoga langgeng selalu sama Tini ya dan sukses untuk studi magister-nya...!". It simply implies bahwa yang dikasi ucapan punya pacar namanya Tini dan sedang studi S2... Ucapan ini jelas nggak relevan ketika di-copy-paste untuk ngasi ucapan selamat ulang tahun ke Tono yang pacaran sama Tuti dan nggak lulus SMA.

Tapi ya whatever... Ngasih ucapan selamat ulang tahun adalah hak semua orang. I think we can't really appreciate birthday greeting anymore after all. Ucapan selamat ulang tahun (lewat wall di FB ato SMS) mungkin sudah nggak lagi bisa dijadikan patokan seberapa perhatian si pemberi ucapan tersebut kepada kita. Dan, saran garing dari saya: nggak perlu ge-er ketika nerima ucapan selamat ulang tahun dari orang2 yang bahkan nyaris nggak dikenal. It simply means nothing.


Thursday, December 16, 2010

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 3

Belajar bahasa membutuhkan kerja keras. Nggak bisa sekedar masuk kelas, mendengarkan guru menjelaskan, menghafalkan vocab dan mencontek pe-er teman, tiba2 bisa berbahasa dengan baik... Ada kerja keras lain yang dibutuhkan.

Beberapa hari ini, saya mulai mengubah metode belajar bahasa Jepang. Mungkin selama ini usaha saya belajar Bahasa Jepang kurang keras... Jadi saya mulai menambah porsi belajar saya. Dari yang awalnya hanya 100 menit per hari tatap muka dengan dosen, saya tambah 3-4 jam sehari dengan belajar secara mandiri. Seriously... Pulang dari Lab, sekitar jam 7 ato jam 8 malem. Sebenernya saya sudah capek... Tapi alih-alih istirahat, sambil nyiapkan makan malam, saya belajar... Sambil makan saya belajar. Selesai makan, saya lanjutkan. Beberapa hari ini, saya selalu menambah porsi belajar Bahasa Jepang di malam hari minimal 3 jam non-stop. Kemarin saya bahkan tidur jam 1 pagi.

Capek belajar keras kayak gitu? Jujur, kadang saya capek... Saya bahkan bisa nangis sendiri di tengah2 belajar. Di sini sendirian, struggling sendiri, berusaha ngerti bahasa jepang, tapi msih blom fasih juga... Walopun strategi belajar ini kliatannya berat, tapi saya akan berjuang... Kalopun harus nambah jadi 6 jam sehari, 7 hari seminggu, I'll do it. Kalopun saya harus kecapekan karena kurang tidur, I'll take it. Belajar bahasa butuh kerja kerjas, nggak bisa instan. Kalopun kerja kerasnya harus membuat kita berkorban waktu, pikiran, bahkan sampe harus meneteskan air mata, just do it. No pain no gain.

Saya menyebut metode belajar ini dengan sebutan: metode-tiap-malem-nonton-3-4-episode-drama-jepang-yang-romantis. Kisahnya kadang sangat menyentuh, sampai saya harus meneteskan air mata. Terharu dengan dramanya... (bukan karena capek belajar, hihi2...).


Tuesday, December 14, 2010

Live by faith

Note seorang teman di FB tentang Tuhan membuat saya merenung sepanjang pagi. Nggak peduli seberapa pintar (ato bodoh, kaya, cakep, jeleknya) kita, kita tetep manusia yang terbatas.
  1. Pengelihatan kita terbatas. Kita cuman bisa melihat benda yang memantulkan cahaya. Orang fisika bilang, mata kita hanya bisa menangkap gelombang elektromagnet yang panjang gelombangnya 400-700nm ato istilah mereka visible light. Gelombang lain dengan panjang gelombang di luar itu, sudah nggak bisa ditangkap oleh mata kita. Waktu masak pake Microwave, gelombangnya microwave (yang juga termasuk gelombang elektromagnetik) udah nggak bisa ditangkap oleh mata - tau2 masakannya jadi anget. Gelombangnya radio, televisi, ato hape juga nggak kedeteksi mata, tau2 radionya bisa bunyi, televisinya bisa menghasilkan gambar, hape-nya bisa buat komunikasi. Gelombangnya ada, tapi mata manusia nggak bisa nangkep.
  2. Pendengaran kita terbatas. Ada syarat yang harus dipenuhi kalau kita mau mendengar sesuatu. Harus ada sesuatu yang bergetar 20-20.000 kali per detik agar telinga kita bisa menangkap suara. Di fisika, namanya frekuensi yang satuannya adalah Hz (atau per detik). Frekuensi lain di bawah 20Hz atau di atas 20.000Hz, nggak akan bisa tertangkap oleh telinga.
  3. Dimensi kita terbatas. Tubuh kita terletak dalam 3 dimensi, yaitu dimensi panjang, lebar dan tinggi. Hanya 3? Iya, hanya 3. Kita nggak bisa membayangkan (atau memvisualisasikan) dimensi ke-4. Di matematika satu dimensi digambarkan sebagai titik. Dua dimensi digambarkan sebagai bidang (yang dimodelkan dalam koordinat x dan y). Tiga dimensi digambarkan sebagai ruang (yang masih bisa digambar dalam sumbu x, y dan z). Empat dimensi? Nggak bisa terbayang oleh otak kita - sama sekali.
  4. Usia kita terbatas. Once in a time, kita check-in di bumi dan akan ada waktunya kita check-out dari bumi. Berapa lama? 60 tahun? 70 tahun? 100 tahun? Somehow tubuh kita dibatasi oleh waktu. Kita nggak bisa berada di dua tempat sekaligus pada waktu yang sama. Kita juga nggak bisa berada di dua waktu yang berbeda. Satu tempat dan satu waktu. Tidak lebih.
So, mari berandai-andai.
Misalkan ada makhluk 2 dimensi (yang hanya punya panjang dan lebar), kemudian melihat kita yang berada dalam 3 dimensi, akankah dia bisa melihat kita dengan sempurna? Nggak akan bisa... Karena makhluk itu nggak kenal dimensi tinggi. Kalo kita ingin dilihat makhluk itu, kita harus memproyeksikan diri kita menjadi 2 dimensi (dengan cara dipenyet sedemikian rupa sampe dimensi tinggi atau dimensi lebar atau dimensi panjangnya menjadi 0), barulah makhluk itu bisa melihat versi 2 dimensi diri kita. Itupun nggak akan semuanya bisa dilihat. Ketika kita dikembalikan menjadi 3 dimensi, kemudian kita melompat (berada dalam dimensi tinggi), maka dalam pandangan makhluk 2 dimensi itu, kita "hilang" (karena mata mereka tidak bisa mengakses dimensi tinggi).

Sama seperti makhluk 2 dimensi itu membayangkan makhluk 3 dimensi, otak kita nggak pernah bisa membayangkan Tuhan. Terlalu banyak batasan pada tubuh kita untuk bisa menjawab seperti apakah Tuhan, di mana Tuhan, bagaimana bisa Tuhan memperhatikan semua manusia, dsb...

Namun Tuhan cukup bijaksana dengan memberikan kepada kita what-so-called-"faith" yang (untungnya) bukan bagian dari tubuh yang terbatas. "Faith" dalam diri kita tidak dibatasi hukum2 alam dan lewat "faith" inilah kita bisa mengenal Tuhan. Tanpa adanya "faith" mustahil kita bisa kenal Tuhan. Terlalu terbatas diri kita untuk mengenal Tuhan kalau hanya mengandalkan apa yang ada dalam otak kita.

-------
"This is thousands of dimensions. We have no clue how does they behave." [Svetlana Avramov, 2009 - Compressed Sensing Online Lecturing]

Friday, December 3, 2010

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 2

Sebenarnya ya...

Sebenarnya saya agak frustasi belajar bahasa ((di) Jepang). Sudah tinggal 10 minggu di Jepang, dan genap 8 minggu ikut kelas intensif Bahasa Jepang Basic I (seminggu 5x @100menit, diajar langsung oleh profesor dan native speaker pula!) tapi waktu di lab, ketemu dengan teman2 Jepang, boro2 ngomong, dengerkan mereka ngomong aja nggak bisa nangkep... Entah versi bahasa Jepang berapa yang diucapkan temen2 lab saya itu...

Hipotesa saya, teman2 lab saya melakukan persetongkolan jahat dengan menggunakan bahasa yang mereka ciptakan sendiri. Mereka tidak berbicara dalam bahasa Jepang. Mereka punya encoder di pita suara mereka, sehingga waktu mereka berbicara, suara yang muncul bukan Bahasa Jepang, tapi bahasa acak yang memang tidak bisa dimengerti.

Sementara yang mendengar, punya decoder di telinga mereka. Begitu sinyal suara itu masuk di telinga, segera di-decode sehingga bisa dimengerti. Saya sengaja tidak diberi both encoder dan decoder itu sebagai salah satu bentuk ospek sebagai mahasiswa baru. Saya berharap, suatu hari mereka mengatakan, "Hei, Win-san... Here are the encoder and decoder. Welcome to our lab..." Tapi sudah 2 bulan, dan mereka masih tidak mau memberikan apapun kepada saya. Saya berinisiatif untuk memiliki encoder/decoder itu secara alami. Saya akan meng-crack sistem enkripsi mereka, sehingga walaupun tanpa encoder/decoder saya bisa berbicara dan mengerti bahasa Jepang versi mereka.

Butuh waktu memang. Mungkin another 2-3 months.

Tips #3: Memahami bahasa jalanan, nggak cukup kalau hanya belajar 2 bulan (ada yang bilang 5 atau 6 bulan).

Catatan: teman saya pernah share tentang sulitnya bahasa Jepang dibandingkan bahasa2 Eropa yang lain. Dia bilang, bahasa di Eropa seperti Bahasa Perancis, Belanda, Jerman, Italia dan semacamnya, kalo kita tinggal di negaranya langsung, dalam waktu 3 bulan, roughly kita sudah bisa mengerti jika diajak ngobrol (yang sudah tinggal di Eropa bisa konfirm statement ini?) Kalo di Jepang, boro2 ngerti, mau ngajak ngomong orang aja bisa2 ditinggal ngeloyor pergi karena they don't really speak to foreign.

Wednesday, December 1, 2010

(Kisah) Belajar Bahasa (Jepang) - part 1

Hari ini, genap sudah 2 bulan saya ikut kelas Bahasa Jepang. Lama course-nya 100 menit setiap pertemuan. Ada 4 guru berbeda yang ngajar, tapi murid2nya selalu sama. Salah satu gurunya sudah menunjukkan sikap tidak bersahabat dengan cara nggak mau menjelaskan dalam Bahasa Inggris kepada para murid yang jelas2 masih cupu dalam Bahasa Jepang. Gara-gara ibu itu, kelas jadi terbagi menjadi 2 kubu, either mengerti sekali yang dijelaskan ato yang blas nggak ngerti. (tolong, nggak perlu cari tau saya masuk di kubu yang mana).

Di awal pelajaran, selalu ada kuis vocab atau kuis grammar. Kata salah satu profesor bahasa senior di tempat saya kerja, saya punya kemampuan bahasa yang baik. Dari beberapa test potensi akademik yang pernah saya ikuti, juga menunjukkan hal yang sama (nilai verbal di atas 600 dari nilai penuh 800). Suka menulis posting blog juga mungkin bisa menunjukkan indikasi yang sama. Jadi, obvious bahwa belajar bahasa asing bukan masalah bagi saya... dan kalau ada kuis vocab ato kuis grammar, tentunya dengan fakta di atas, bisa dengan mudah ditebak nilai-nilai kuis vocab atau grammar saya.

Iyak, betul sodara-sodara... Nilai kuis vocab saya jelek-jelek (plural, bukan singular). Dan jelek-nya bukan dalam definisi pelajar China di kelas saya yang rajin-bin-pintar-binti-selalu-ngerjakan-pe-er itu (yang mana nilai vocab dapet nilai 9 sudah disesali sepanjang pelajaran dan berjanji akan menambah jam belajarnya lebih lama 3 jam). Nilai jelek(-jelek) dalam kasus saya adalah dalam definisi pelajar normal, di mana nilai 6 (dari maksimal 10) is considered as a very good mark.

Prinsip yang saya pegang teguh dalam belajar bahasa kali ini adalah, "buat-apa-dihafalkan-kalau-sekedar-untuk-bisa-menjawab-kuis". Gara-gara prinsip ini, saya menganggap menghafalkan vocab jadi cuma buang waktu karena apa yang dihafal cuman numpang lewat di short-term memory (dan sejam setelah kuis vocab selesai, segera menguap dari ingatan).

Jadi saya nggak pernah repot2 menghafal. Cukup dibaca sekedarnya. Dari membaca sekedarnya itu, kalo ada yang nyantol dijamin nyantolnya di long-term-memory (yang nggak menguap setelah kuis vocab berakhir). Sukur2 kalo beberapa biji kata yang nyantol itu pas keluar di kuis vocab. Setidaknya jadi ada yang benar 4 ato 5 kata (dari 10 kata yang diujikan).

* Mau bilang males menghafalkan vocab aja pake njelaskan dengan mbulet *

Teman2 lab saya, ada 14. Dari ke-14-nya, 13 orang Jepang dan 1 bukan orang Jepang. Yang 1 ini, dari China - dan sudah 8 tahun tinggal di Jepang. Jadi obvious sudah, siapa yang punya the worst japanese language on the lab.

Nah, kalo masih tertarik bagaimana belajar bahasa dengan cara yang nggak bener (seperti yang saya lakukan), boleh melanjutkan membaca. Sementara kalo tertarik belajar bahasa dengan cara yang baik, benar dan secara empiris sudah dibuktikan kesahihannya, silahkan baca blog belajar bahasa taktis dari Pak Profesor yang satu ini.

Dalam pengamatan saya belajar bahasa, di setiap bahasa, ada dua macam bahasa. Bahasa resmi dan bahasa jalanan. Bahasa resmi adalah bahasa saat rapat, saat presentasi, termasuk bahasa yang digunakan saat menjawab kuis vocab dan grammar. Sedangkan bahasa jalanan adalah bahasa yang digunakan saat menghasut teman untuk skip kuliah, saat ngerasani dosen yang mengajar, atau saat kita tersesat di jalan. Lebih penting yang mana? Ya, bisa diputuskan sendiri.

Pastinya bahasa jalanan seperti ini: "Lapo mlebu kuliah e wong iku... Wong iku lek njelasno geje... Melu aku ae, mlaku2 nyang mall" akan lebih berguna ketimbang bahasa resmi "Ada kuliah tambahan di hari Senin, pukul 12.50-14.30". Juga informasi bahasa jalanan "Ra iso mas lek liwat gang iki, lha wong iki gang buntu... nrabas ndek di gang ngarep ae mas..." akan lebih berguna untuk menunjukkan jalan pulang agar tidak tersesat (dan bisa dijamin, tatanan kalimat semacam itu tidak akan pernah muncul dalam bahasa resmi).

Tips berbahasa #1. Berikan porsi yang seimbang antara belajar bahasa jalanan dengan bahasa resmi.

(Dalam kasus saya, saya belajar bahasa jalanan 80% dan bahasa resmi 20% - itu sebabnya nilai vocab dan grammar yang mana menggunakan bahasa resmi, jelek2 -- alasan lain untuk membenarkan diri nggak belajar vocab)

Kedua, bagaimana belajar bahasa dengan cara nggak bener yaitu pemilihan buku teks.
Buku-buku teks resmi yang ditulis oleh bapak/ibu profesor bahasa akan mengajarkan bahasa resmi yang menunjukkan betapa berpendidikannya mereka yang belajar bahasa tersebut. Sementara sumber-sumber yang kurang terpercaya, lebih memberikan cara berbahasa yang lebih luwes. Belajar karakter "好", kalo menurut buku teks yang ditulis bapak/ibu profesor akan mengatakan, itu karakter "suki (すき)" yang artinya "suka". Telan itu mentah!! Jangan tanya kenapa karakter aneh itu berbunyi "suki"!! (atau profesor yang lebai akan bilang, "tanya ke nenek moyang mereka kenapa karakter itu dibaca "suki"). Lalu mungkin pada textbook akan diberikan contoh kalimat super garing sesuai dengan grammar yang baik dan benar, "watashi wa uta ga suki (好) desu" (saya suka menyanyi) -- adooh, please deh... emang masih ada yang ngomong dengan contoh kalimat kayak gitu?!

Sementara belajar bahasa dari sumber jalanan akan mengatakan, karakter itu disusun dari dari karakter perempuan "女" dan anak "子". Perempuan yang di sebelahnya ada anak... Jadi karakter itu bisa dibasa, "Dasar perempuan, SUKA-nya cuma sama anak-anak...!!" Jadilah karakter "好" disebut dengan "suka". Sekali hafal, akan sulit lupa... Contoh kalimatnya akan semacam, "suka makan ikan? emangnya gue kucing suka makan ikan?" Beda dengan buku teks bapak/ibu profesor itu.

Tip berbahasa #2. Dalam belajar bahasa jalanan, jangan sekali-kali mengandalkan textbook yang disusun oleh profesor bahasa.

----------------------
to be continued...

Friday, November 26, 2010

Beda Suami dan Istri - part 2

* ...ditulis dalam keadaan melo... *

Untuk para istri, tulisan ini bisa ditunjukkan ke suaminya (masing2). Terutama kalo udah males jelaskan kebutuhan istri yang (bisa jadi) sering dilupakan suami (ato suami yang pura2 nggak tau). Untuk para suami, tulisan ini penting, agar bisa ngerti kebutuhan emosional istri (dan memenuhinya) demi menjaga kesehatan jiwa dan raga dari omelan istri.

Kebutuhan istri nggak sama dengan kebutuhan suami. Buat istri, punya suami yang keren tentu membanggakan, tapi buat apa suami keren, perlente, dan modis tapi nggak cinta ma istri ato anak2nya? Buat istri, punya suami yang bisa sama2 jadi companionship untuk hobi2 si istri bagus juga, tapi buat apa suami yang bisa jadi companionship tapi nggak ngasih keamanan finansial (=duit)? Para istri bukannya mata duitan, they're just being realistic.

So, here are "Her needs" based on Dr. Willard Harley's book ("His Needs, Her Needs : Building an Affair – Proof Marriage"), after counseled 40 thousands married couple.

* kebutuhan emosi istri yang diurutkan secara menurun*

Kebutuhan ke-5: Komitmen keluarga
Istri punya kebutuhan emosi agar suami berkomitmen penuh terhadap keluarga, bisa mengutamakan kepentingan istri dan anak2nya. Bisa diandalkan dari kebutuhan mengatur anak2 dengan baik sampe masang pipa elpiji, ato ngangkatin galon aqua seberat 19kilo. Kalo si anak susah diatur, si istri berharap si suami yang dapat mengatasi kenakalan si anak, kalo si anak kesulitan belajar, si istri berharap si suami yang bisa mengatasi kesulitan dalam belajar si anak, kalo si anak di-palak sama temen sekolahnya, si istri berharap suami balas memalak si teman sekolah itu... Istri bisa jengkel setengah mati kalo suami nggak bisa nunjukkan komitmen-nya untuk kepentingan keluarga... Bisa ngomel puluhan ribu kata kalo si suami yang diharapkan dapat menyelesaikan berbagai situasi dalam keluarga dengan enteng merespon, "urus aja sendiri... capek ngurusin yang gitu2".

Kebutuhan ke-4: Dukungan keuangan
Sekali lagi, kebutuhan ini bukan berarti para istri mata duitan, they're just being realistic (saya bisa melihat para wanita tersenyam-senyum dengan statement di atas). Kalo suami nggak bisa memberikan dukungan keuangan, lah terus gimana mau memenuhi kebutuhan keluarga? Kalo istri terpaksa bekerja gara2 kebutuhan primer keluarga nggak bisa didapetkan oleh suami, maka keluarganya akan timpang... Istri jadi lebih superior (karena mentang2 dialah yang lebih berperan dalam andil memenuhi kebutuhan keluarga), sehingga muncullah organisasi terlarang "ikatan suami takut istri". Para suami, make sure kebutuhan primer keluarga bisa dicukupi dari penghasilan yang didapatkan... At least kebutuhan primer, sukur kalo kebutuhan rumah mewah, mobil baru, gadget, fashion, baju, makeup, salon, menicure, pedicure juga dapat dipenuhi... (senyum para wanita tambah lebar, sementara para pria yang belom menikah jadi pikir2 lagi untuk nikah).

Kebutuhan ke-3: Kejujuran dan Keterbukaan
Jujur berarti suami bisa terbuka tentang keadaan dirinya kepada istri, nggak ada yang disembunyikan ketika istri bertanya2 tentang apapun... Rasa aman istri akan rusak kalo istri mendapati suaminya bohong, even untuk hal2 yang kecil. Kalo rasa aman istri udah rusak karena suami nggak jujur, jangan heran kalo si istri akan berpraduga yang mengerikan kepada suami... Tuduhan, "kamu selingkuh ya!!????", "kamu maen wanita ya???", "kamu nggak pulang karena janjian sama cewek itu yaa???" akan muncul dari hati seorang istri yang judes, bengis dan cemburuan... eh, maksudnya dari hati seorang istri yang rasa aman-nya terusik gara2 tidak lagi mempercayai suami.

Make sure, kejujuran dan keterbukaan jadi dasar dalam komunikasi keluarga. Jika suami istri punya pondasi yang kuat dalam kejujuran dan keterbukaan, dapat dipastikan spirit ini akan turut terbawa untuk anak2 yang dilahirkan dalam keluarga tersebut... Hal yang sebaliknya akan berlaku.

Kebutuhan ke-2: Percakapan
Jangan terkejut dengan hasil survei ini. Tahun pertama pernikahan, pasangan menghabiskan 70% untuk ngobrol (dan 30% lainnya untuk... bercinta?). Dan lamanya waktu mengobrol itu berkurang 20% seiring bertambahnya tahun. Sehingga di tahun ke-8 pernikahan, suami istri akan kurang punya kesempatan ngobrol, kecuali benar-benar diusahakan.

Isteri pingin suaminya bisa memberikan perhatian secara kata-kata. Istri pingin suaminya tahu gimana perasaannya, tentang hari2 yang dia alami. Tapi, sebagai seorang pria dan suami, saya bisa berempati terhadap para pria yang lain... Pria umumnya nggak gitu suka basa-basi atau percakapan yang bertele-tele. Pria suka hal-hal praktis yang memang perlu dibicarakan. Di sini jadi critical point buat suami, suami perlu menghargai istri dengan meluangkan waktu untuk bercakap-cakap secara santai. (Iya2... saya juga msih blom bisa)

Kebutuhan ke-1: ...
Guess what? Bukan... bukan seks... Seks bukanlah kebutuhan utama para istri. They might enjoy sex, but that's not her first emotional needs... Para suami pasti kehabisan ide untuk nebak kebutuhan pertama istri... Lah kalo bukan seks, apa lagi donggg???

Kebutuhan pertama istri adalah DISAYANG. Penting para suami bisa membedakan antara "disayang" dengan "hubungan seks". That's VERRRYYY different (with capital V)... Hubungan seks adalah ekspresi dari sayang. Dan untuk istri, ekspresi sayang dari suami yang diharapkan NGGAK SEKEDAR CUMAN ngeseks (yang jadi kebutuhan pertama dari suami).

Ekspresi sayang yang dibutuhkan istri lebih luas daripada sekedar seks. Istri butuh ekspresi sayang dari suami dalam bentuk: sikap yang gentlemen, membawakan belanjaan istri, melindungi, meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya, menghormati dan memperlakukan sebagai seorang istri di depan publik, mengekspresikan kebanggaannya menjadi suami dari sang istri di depan teman2nya, bersikap romantis, menggandeng tangan, membelai, dipanggil dengan panggilan sayang, dsb... That's the number one of her needs. (maaf untuk para istri yang berharap saya bisa lebih mendeskripsikan kebutuhan utama ini... saya nggak bisa panjang2 nulis bagian ini... lha wong juga masih belajar untuk lebih bisa memenuhi kebutuhan ini... tulis di komen kali ya?).

-------------------
End of note.

Prolog:
Suami dan istri adalah dua manusia dengan kebutuhan yang SANGAT berbeda. Keduanya nggak akan bisa secara otomatis, secara alami memenuhi kebutuhan masing2. Harus diusahakan. Love is a verb. Cinta itu kata kerja dan bukan bentuk pasif.


Tuesday, November 16, 2010

Beda Suami dan Istri - part 1

[Bagi wanita lajang yang belum menikah, you might want to bookmark this page, and re-read when you got married. Bagi istri yang baru menikah, you might want to practice it to your own (!) husband.]

Waktu kami menikah, Ps. Yusak mengatakan kepada kami, bahwa menikah itu nggak ada sekolahnya. That's true. Tau2 menikah. Pasangan baru segera dihadapkan pada berbagai situasi yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Nggak pernah diajarkan di sekolah. Nggak ada kursus menikah. Nggak ada buku manual yang bisa dicontek untuk secara tepat menghadapi berbagai situasi sehari2. Semua harus dialami secara pribadi dan belajar dari segala kejadian... Trial and (berharap semoga nggak) error.

Dr. Willard Harley adalah seorang konselor pernikahan. Beliau menulis sebuah buku berjudul "His Needs, Her Needs : Building an Affair – Proof Marriage" setelah meneliti 40rb kasus yang terjadi dalam pernikahan. Saya tentu kurang bisa empati (ato nggak pernah bisa empati) dengan apa yang dirasakan Dr. Willard Harley. Satu kasus pernikahan saja bisa membuat saya kehilangan nafsu makan, apalagi 40rb kasus (tapi secara statistik, sample 40rb kasus itu bisa sangat mewakili sebagian besar kasus yang terjadi dalam pernikahan).

Di salah satu bagian dari bab-nya, beliau menuliskan 5 kebutuhan teratas dari seorang suami dan 5 kebutuhan teratas dari seorang istri. Menurut beliau, ketika kebutuhan ini saling tidak terpenuhi, baik suami maupun istri, akan cenderung untuk mencari pemenuhan kebutuhan dari pihak ke-3 (suami berusaha memenuhi kebutuhan dari wanita lain, dan wanita berusaha memenuhi kebutuhan dari pria lain = "selingkuh").

Saya nggak surprise ketika tau bahwa fakta kebutuhan suami itu (bener2) berbeda dengan kebutuhan istri (sehingga berpotensi membuat para istri bisa jengkel setengah mati pada suaminya - karena suami kok nggak bisa ngerti kebutuhan istri).

Dari hasil penelitian tersebut, Pak Willard menuliskan 5 kebutuhan teratas dari seorang suami adalah: (diurutkan dari urutan ke-5 sampai ke-1). -- Women, hold your breath and get ready to face the fact.

Kebutuhan ke-5: Dihormati
Make sure para istri bisa mengekspresikan kebanggaannya pada sang suami. Saat nggosip di arisan PKK, please, don't say something dishonor your husband...
Ibu A: "Bapaknya anak2 itu taunya pulang kerja, makan... urusan cuci, setrika, ngepel, mana mau ikut2... capek deh!!"
Ibu B: "Waahh... sampe segitu ya? Pasti capek ya jeng, jadi istrinya bapaknya anak2..."
Ibu A: "Nggak juga sih, saya juga nggak mau cuci2, setrika2 ato ngepel2 rumah... Pake pembantu aja, praktis, hihihi..."

Saat bersama koleganya, saat bersama teman2nya, saat bersama anak2, please respect your husband. Tunjukkan ke anak2 bahwa ayahnya adalah seorang pahlawan keluarga. Pria akan menjadi lebih bertanggung jawab ketika dia tahu bahwa istrinya menghormati dia.

Kebutuhan ke-4: Rumah diatur dengan baik
Bagi suami, rumah adalah tempat untuk melepas semua kepenatan setelah bekerja seharian. Harapan ketika sampai di rumah adalah mendapati rumah yang rapi, bersih, sedap dipandang dengan makan malam yang lezat (plus istri yang menyambut kedatangan dengan ceria dan siap ML bersama suami tercinta... --> ML= Makan Lemper).

Jika istri terlalu capek untuk menata rumah atau membersihkan rumah karena istri juga harus bekerja, berdiskusi untuk hire a maid will be a good idea... ato "paksa" suami untuk berbagi tugas.

Kebutuhan ke-3: Pasangan yang menarik
Ada kata-kata bijak bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. Saya suka dengan kata2 ini (sehingga berusaha memastikan apa yang di hati saya berkenan di hadapan Tuhan). But, wives... let me tell you a little secret about your husband... He is not God... Para suami bukan Tuhan yang hanya melihat hati.

Para suami adalah manusia yang melihat apa yang di depan mata... That simply means, he needs to see an attractive wife. Menarik berarti istri bisa berpenampilan seperti yang menurut suami itu menarik... Kalo seorang suami menganggap istri gemuk itu menarik, for the sake of your marriage, make sure your weight is above 80Kg. Kalo menurut suami, istri berkulit hitam itu menarik, make sure berjemur di bawah terik matahari menjadi hobi barumu. Kalo menurut suami, suara omelan itu menarik untuk didengarkan, please, pastikan setiap hari ada omelan setidaknya 5-7 jam sehari untuk suami tercinta.

Kebutuhan ke-2: Ditemani melakukan aktivitas yang menyenangkan
Hobi suami adalah istri keduanya. Pastikan istri pertama tidak memusuhi istri kedua... Pastikan istri pertama kompatibel dengan istri ke dua. Sukur2 kalo istri pertama juga mencintai istri kedua... Kalo mereka berdua bermusuhan, suami akan kebingungan menentukan istri utamanya... - dan terjadilah konflik.

Istri: "PAAA...!!! Burung aja diurusin. Tuh, genteng bocor, cepet dibenerin."
Suami: *nggak terima* "Mending ngurusin burung, suaranya merdu...!! Ketimbang ngurusin kamu yang suara kayak genteng bocor."
Istri: *lebih nggak terima* "Eee... emang suara genteng bocor kayak apa coba??? Awas ya... nanti di pasar aku ambil kucing, biar tuh burung buat makan siang...!!!"

Kalo memang istri nggak bisa menemani aktivitas suami, at least lakukan aktivitas yang sama2 disukai. Pasti ada suatu aktivitas yang sama2 disukai both oleh suami dan istri... (misal, semua orang suka tidur, jadi lakukan aktivitas tidur bersama2, atur posisi sedemikian rupa sehingga keduanya sadar bahwa mereka tidur bersama2).

Kebutuhan ke-1: ...
Can you guess?? It's only 3-words and sometimes doesn't make any sense for women. It's called S-E-X. Kebutuhan pertama suami adalah seks. You-know-what-that-implies... Suami butuh bercinta dengan frekuensi yang lebih sering dibandingkan dengan istri. Istri yang nggak ngerti kebutuhan suaminya bisa menuduh si suami, "dasar maniak-seks!!!" Ato istri yang manipulatif, akan memanfaatkan kebutuhan ini untuk ancaman... "yaaangg... ntar kalo udah beli mobil, kita bisa bercinta seminggu 4x deh... kalo blom ada mobil ya... 4 minggu sekali aja..."

Suaminya cuman bisa membatin, "Bitch...!"

-------------------

End of note, to be continued.


Tuesday, November 9, 2010

Culinary: Table For Two

Suka dengan wisata kuliner?

Saya nggak termasuk di dalamnya. Saya rewel dengan makanan. Di Jepang saya kesulitan mencari makanan yang cocok dengan lidah saya. Makanan yang bernama "ikan-salmon-beku-di-supermarket-yang-kemudian-digoreng-di-rumah-dan-dimakan-dengan-nasi-anget-plus-sambel-dari-indonesia" saya nobatkan sebagai The-best-food-I-ever-tasted-in-Japan (setelah mengalahkan kandidat kuat lainnya, yaitu indomie-goreng dan nasi-goreng-telor).

Berbagai macam bentuk sushi, yakiniku, atau okonomiyaki, masih nggak bisa cocok dengan lidah saya. I prefer lemper instead of Sushi. I prefer bakso bakar instead of yakiniku dan I prefer dadar jagung instead of okonomiyaki (fyi: lemper and sushi, bakso bakar and yakiniku, dadar jagung and okonomiyaki, they look alike)...


Forget about my weird-meal-preferences (make sure you know what you'll offer to me when you invite me for lunch or dinner at your house... ).

For those who wants to have (or already have) a resto, let me propose an interesting concept of culinary. It's called table for two.

Saya mengamati bahwa manusia sebenarnya ingin berbagi. Perasaan bahwa kita berguna untuk orang lain, membuat kita excited dalam menjalani hidup (seorang suami mungkin akan mengatakan "wow, hidup saya berguna bagi istri dan anak saya...", seorang sahabat mungkin mengatakan "wow, hidup saya ternyata membuat teman saya berubah menjadi lebih baik", seorang donatur untuk anak angkat akan mengatakan "wow, apa yang saya berikan ternyata membuat dia bisa melanjutkan sekolah dan mengubah masa depannya", seorang dokter mungkin akan mengatakan, "wow, hidup saya berguna untuk pasien-pasien yang saya rawat", seorang dosen akan mengatakan, "wow, hidup saya membuat mahasiswa saya menjadi berilmu").

Tapi perasaan bahwa kita sudah tidak ada gunanya, membuat kita berpikir untuk mengakhiri hidup... ("ah, ngapain saya hidup... hidup cuman jadi beban orang lain", "ah, hidup saya sudah nggak ada gunanya, nggak bisa bantu orang lain, nggak bisa ngasih apa2 ke orang lain, ngapain juga saya hidup...", dsb).

Perasaan bahwa kita berguna, membuat kita lebih manusiawi... Konsep resto "Table for Two" adalah konsep wisata kuliner yang mengubah manusia menjadi lebih manusiawi. Alih-alih menikmati makan yang dimakan sendiri dan untuk mengenyangkan perut sendiri, kenapa tidak berbagi "meja" dengan "manusia" lain yang kekurangan? Setiap satu suap makanan yang dimakan oleh setiap pelanggan, akan juga memberikan satu suap yang sama kepada someone, somewhere yang sedang kelaparan (tentu mereka nggak makan di meja yang sama...). Sekian persen dari keuntungan penjualan makanan tersebut, akan menjadi makanan yang sama dan dibagikan kepada orang lain yang kekurangan.

Jika seorang pelanggan makan bakso bakar sebanyak 5 biji di resto "Table for Two" ini, maka someone juga akan bisa menikmati 5 biji bakso bakar yang sama somewhere. Jika seorang pelanggan makan dua piring nasi soto ayam, maka someone (atau sometwo?), somewhere juga akan menikmati dua piring nasi soto ayam tersebut. Jika seorang pelanggan minum segelas es jeruk, maka somewhere akan ada seseorang yang juga turut menikmati segarnya es jeruk tersebut. That's why it's called, "Table for two".

Someone yang dimaksud adalah orang2 yang kekurangan. Anak2 panti asuhan yang kurang beruntung karena orang tua mereka terpaksa meninggalkan mereka (entah karena sudah meninggal atau karena sangat miskin sehingga can't afford to raise them). Anak2 jalanan yang harus mencari uang karena orang tua mereka tidak sanggup memberikan mereka makan. Gelandangan/homeless people yang harus bertahan hidup dengan tidur di bawah jembatan. Para korban bencana alam yang harus kehilangan semua harta bendanya karena kedasyatan alam. Orang-orang itu yang akan mendapatkan apa yang kita makan dari resto "Table for two".

Jika kita tahu bahwa apa yang kita makan akan juga mengenyangkan orang lain, kita akan merasa bahwa diri kita berguna... Kita merasa bahwa diri kita bisa berbagi untuk orang lain, dan membuat orang lain merasakan apa yang kita rasakan. Kita menjadi lebih manusiawi.

Saat kita makan... kita akan berpikir, seseorang yang membutuhkan akan juga ikut menikmati makanan yang sedang saya makan ini. Wow, hidup saya berguna! (Make sure untuk menyediakan tissue di meja, karena bagi orang2 yang lembut hatinya, makan di resto semacam itu bisa membuatnya menitikkan air mata).

Gambar diambil dari:
Please, let me know if you already have this concept for your resto. I'll be you loyal customer!

Friday, November 5, 2010

Indonesia dan Human Development Index

Baru-baru ini, PBB mengeluarkan laporan tentang Human Development Index (HDI) dari negara-negara di dunia. Indeks ini menunjukkan bagaimana kualitas hidup manusia di sebuah negara yang diindikasikan dari: (1) Rata-rata harapan hidup (life expentancy), (2) rata-rata lama menempuh pendidikan (years of schooling), dan (3) rata-rata pendapatan per kapita (Gross National Income per capita).

Indeks ini memiliki skala 0 sampai 1. Indeks yang mendekati 0 berarti rakyat di negara tersebut memiliki rata-rata harapan hidup yang jelek (misalnya banyak yang meninggal di usia 40-50 tahun), rakyatnya tidak memiliki pendidikan yang baik (hanya lulus sekolah dasar) dan pendapatan perkapitanya rendah (kurang dari 1.5jt per bulan). Sementara indeks yang mendekati 1 berarti rata-rata harapan hidup rakyat di negara tersebut tinggi (misal rakyatnya rata2 meninggal di usia 80 tahun), rakyatnya memiliki pendidikan yang baik (rata2 lulus perguruan tinggi S1), dan pendapatannya tinggi (income rata2 per bulan rakyatnya 40jt).

HDI tertinggi dari seluruh negara, bernilai 0.938 yang dimiliki oleh Norwegia. PBB mencatat bahwa rata-rata harapan hidup di Norwegia adalah 81 tahun, rata-rata pendidikan rakyatnya adalah 12.6 tahun studi (setara dengan lulusan SMA) dan pendapatan per kapita rakyatnya adalah Rp. 44jt per bulan (US $ 58,810/tahun). Peringkat ke-2 adalah negara Australia yang rata-rata harapan hidup rakyat sedikit lebih lama dari Norwegia, yaitu 81.9 tahun, namun pendapatan perkapitanya (lebih rendah dari Norwegia) "hanya" Rp. 29jt per bulan. Sementara penduduknya lebih berpendidikan karena rata-rata menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Peringkat ke-3 adalah Selandia Baru diikuti oleh Amerika Serikat dan Irlandia.

Tidak ada negara Asia yang berada di 10 besar HDI tertinggi. Jepang berada di peringkat ke-11 dengan mencatatkan rata-rata harapan hidup tertinggi di dunia, yaitu 83.2 tahun dengan pendapatan per kapita Rp. 26jt / bulan.

Bagaimana dengan Indonesia? (apapun faktanya, saya tetap cinta Indonesia). Indonesia berada di peringkat 108 dan masuk dalam kategori medium human development. Peringkat ini masih kalah dengan negara-negara Amerika latin (produsen aktif Miss Universe) seperti Mexico, Peru, Brazil, Venezuela, Chili dan Panama. Juga masih di bawah negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia (peringkat 57), Thailand (peringkat 92), atau Filipina (peringkat 97).

Indeks untuk Indonesia adalah 0.6, dengan harapan hidup 71.5 tahun, rata-rata pendidikan rakyatnya 5.7 tahun (lulus SD) dan pendapatan per kapita rakyat Indonesia (yang saya agak surprise) adalah Rp. 3jt/bulan (US $3,957/tahun) - angka ini lebih besar dari yang saya perkirakan. Sepertinya Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dalam 3 tahun terakhir.

Dari fakta itu, jika seorang pegawai di suatu organisasi digaji Rp. 2jt/bulan, artinya gaji dia berada di bawah rata-rata pendapatan per kapita rakyat Indonesia. Seandainya dia digaji Rp. 3jt/bulan (which I'm quite sure that amount is considered as "big-salary" especially in my hometown - mau nulis "my ..." tapi nggak tega - kalau ada "kolega" yang mau neruskan boleh diteruskan di dalam hati) maka pendapatannya masih berada di level rata2, Human Development Index-nya masih dalam level medium...

A simple suggestion will be: tetaplah bekerja dan cintailah pekerjaan yang saat ini dijalani JIKA dan HANYA JIKA gaji/pendapatan per bulan bisa lebih dari rata-rata pendapatan perkapita. Tapi jika gaji per bulan kurang dari pendapatan per kapita, dan tidak ada harapan/tidak ada celah (atau sistem karir yang nggak feasible) untuk bisa melampaui pendapatan perkapita, there's no reason you stay any longer in that place. Why should you? You simply make donation for those who are paid big-buck in that organization. Hukum pareto 20%-80%, di mana 80% total gaji jatuh hanya kepada 20% pegawai sementara 80% pegawai yang lain berebut 20% total gaji sisanya, semestinya tidak perlu terjadi.

Mari kita bersama-sama meningkatkan HDI Indonesia, sebuah negara yang diberkati dengan sumber daya alam melimpah... Suatu ketika, orang2 akan mengatakan, "Ya nggak heran kalo HDI-nya Indonesia mendekati 1, lha wong sumber daya alamnya melimpah ruah kayak gitu..."



Wednesday, November 3, 2010

Mesin Waktu

Judulnya mungkin cukup provokatif untuk membuat beberapa orang meluangkan waktu membaca blog ini (di tengah ke-sibuk-an atau ke-nganggur-annya). Tapi, sebelum dilanjutkan membaca, let me clarify bahwa sampai saat ini saya belum menciptakan mesin waktu seperti di film-film, yang memungkinkan seseorang berkelana ke masa lalu atau ke masa depan dan bertemu dengan versi muda atau tua dirinya sendiri. Riset saya di sini tentang compressed sensing untuk citra medis, juga nggak ada kena-mengenanya dengan mesin waktu.

Jadi, lalu kenapa postingnya dikasi judul "Mesin Waktu"?

Salah satu film tentang berkelana ke masa lalu adalah film The Time Traveler's Wife (2009) yang menceritakan romantika tentang seorang istri yang bersuamikan Time Traveler. Si suami memiliki gen yang membuat dirinya secara acak "pergi" ke masa silam. Di suatu waktu, dia bertemu dengan istrinya yang masih berusia 6 tahun, dan "calon" istrinya inipun jatuh cinta kepadanya. Di masa sekarang, mereka menikah dan memiliki anak, sementara si suami masih secara acak pergi dan datang ke masa lalu... Interesting movie, tapi trilogi Back to the Future-nya Steven Spielberg (1985, 1989, 1990) masih lebih bagus.

Jadi, kenapa sih postingnya dikasi judul "Mesin Waktu"?

Mari membayangkan. Seandainya mesin waktu ada di depan kita. Kita bisa masuk dan mengatur mesin itu untuk bisa berkelana ke masa lalu, bertemu dengan diri kita versi muda, apa yang akan kita lakukan? Atau lebih spesifik lagi, pesan apa yang bisa kita berikan kepada diri kita versi muda agar tidak sampai melakukan kesalahan yang berakibat fatal? Ada orang2 (para kandidat miss universe ato miss-miss yang laen) menjawab dengan filosofisnya, "Saya tidak akan mengubah apapun dari diri saya, karena dari kesalahan tersebut membuat saya belajar untuk menjadi lebih baik." (yang kemudian disambut dengan gemuruh tepuk tangan dari para hadirin - entah bertepuk tangan karena jawaban itu ato karena yang lain).

Saya kira, jawaban seperti ini muncul karena mesin waktu masih belum ada. Seandainya perjalanan menembus waktu benar2 bisa dilakukan, mungkin jawabannya akan berbeda. Mungkin jawabannya adalah, "Saya bisa berada di sini, karena saya menggunakan mesin waktu. Waktu saya berusia 60 tahun dan saya bukan menjadi siapa-siapa, saya berpikir... Saya seharusnya bisa menjadi miss-universe ketika berusia 20an. Agar hal itu dapat terlaksana, saya perlu memberikan pesan kepada saya yang masih muda agar jangan sampai setelah berusia 60 tahun tapi masih tetap belum menjadi apapun. Akhirnya, saya yang berusia 60 tahun melakukan perjalanan menembus waktu, kembali ke 50 tahun silam ketika saya berusia 10 tahun. Saya memberikan pesan2, to-do-list dan don't-do-list kepada saya yang masih 10 tahun agar dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menjadi miss-universe... Saya yang masih 10 tahun segera belajar dengan giat berdasarkan to-do-list dan don't-do-list yang diberikan oleh saya versi 60 tahun. Semua to-do-list dan don't-do-list itu begitu akurat, sehingga akhirnya membawa saya ke panggung miss-universe ini... Dan pasti ketika saya kelak berusia 60 tahun, saya tidak akan menyesal karena telah melakukan yang terbaik."

Ya, lupakan tentang jawaban imajiner dari kandidat-miss-universe itu... Let me propose a new way of creating a time-machine. Alih-alih kita berkunjung ke masa lalu, mengapa kita di masa depan tidak mengunjungi kita di masa sekarang? Kita di masa depan adalah imajinasi kita di masa sekarang.

Misalnya (sekedar contoh): saya di masa depan adalah seorang profesor bidang computer science, mendapatkan Ph. D dari Chiba University, Jepang. Melakukan postdoc di UK/USA selama 2 tahun, mendapatkan grant research dan penghargaan dari beberapa organisasi internasional karena kontribusi research untuk dunia medical imaging. Saya membayangkan... Jika saya di masa depan (dengan keadaan seperti yang disebut tadi) dapat melakukan perjalanan menembus waktu dan menemui saya di masa sekarang, (more-less) saya akan tahu apa yang akan disampaikan kepada saya di masa sekarang. Saya bisa membayangkan to-do-list dan don't-do-list yang diberikan kepada saya agar saya bisa menjadi seperti saya seperti yang tersebut di masa depan. Ketika saya melakukan to-do-list dan don't-do-list yang ada, maka perjalanan waktu secara tepat akan menggiring saya kepada garis masa depan seperti yang seharusnya. Tapi jika saya melenceng dari to-do-list dan don't-do-list itu, perjalanan waktu akan membawa saya kepada garis masa depan yang lain - which is mungkin worse (or better?).

Intinya?

Coba kita membayangkan hidup seperti apa yang kita inginkan di masa mendatang... (mungkin ingin berprofesi sebagai pengusaha, sebagai profesional, menjadi dokter spesialis, menjadi profesor, mendapatkan beasiswa, punya suami/istri, anak, penghasilan sekian digit per tahun, bisa travelling ke luar negeri, dsb). Bayangkan kita di masa depan (yang telah mengalami itu semua) menembus masa lalu dan menemui kita sekarang. Kira2 apa yang akan disampaikan agar bisa mendapatkan itu semua? Apa saja to-do-list dan don't-do-list yang disampaikan kepada kita? Setelah kita dapatkan to-do-list dan don't-do-list, mengapa nggak segera kita lakukan? Waktu akan membentuk rel-nya, usaha kita sebagai daya dorongnya (dan Tuhan -if you believe in God- sebagai perancang dari semua skenarionya), sehingga membawa kita kepada titik yang kita harapkan. Isn't that wonderful to be alive?


Saturday, October 30, 2010

Di Jepang Mahal?

Menurut ECA Internasional (perusahaan human resource consulting di Amerika), Tokyo menduduki kota termahal peringkat 1 di dunia. Di peringkat berikutnya ada Oslo (Norwegia), Luanda (Angola), Nagoya (Jepang), Yokohama (Jepang), Stavanger (Norwegia), Kobe (Jepang), Copenhagen (Denmark), Genewa (Swiss), Zurich (Swiss). Kota New York (USA) berada di peringkat 29 (mungkin terpengaruh melemahnya nilai dolar). Peringkat 1, 4, 5, 7 adalah kota di Jepang. Dari fakta ini, (dengan sedikit nggak rela) bisa ditarik kesimpulan bahwa biaya hidup di Jepang mahal.

Semahal apa? [For the sake of simplicity, I will use rupiah instead of yen]

Di tempat saya tinggal (which is 40km from Tokyo - yang berarti sedikit banyak kena imbas ke-mahal-an biaya di Tokyo), saya mencatat beberapa harga kebutuhan pokok [P] dan nggak pokok [GP]:
  • [P] Harga beras 5KG rata-rata 200rb (atau 40rb/kg) - (di Indonesia: 4rb/kg).
  • [P] Harga nasi putih 200gram 10rb - (di Indonesia: 2rb).
  • [P] Harga sekotak bento biasa 50rb - ada juga yang 30rb, tapi nasinya cuman 3 ato 4 sendok (mungkin itu sebabnya mereka makan pake sumpit, biar bisa disuap berkali-kali)
  • [P] Harga mie instan 20-30rb sementara di Indo 2rb.
  • [GP] Harga ramen (mie) di depot 50rb (di Indo pangsit mie hanya 5rb ato 10rb).
  • [GP] Harga 1 roti sekelas bread story, 20rb (di Indo 10rb).
  • [GP] Harga softdrink/minuman kaleng 10rb.
  • [P] Harga apartemen yang paling murah 3jt/bulan (setidaknya saya blom pernah mendengar ada apartemen di bawah harga tersebut), rata2 (apartemen kelas menengah) 5jt/bulan. (Di Indo kost 300-700rb)
  • [P] Harga tiket kereta antar stasiun (2-3menit perjalanan) 13rb. (Di Indo, angkot 2-5rb)
  • [GP] Harga potong rambut di barber shop kelas menengah 400rb. (Di Indo, sekitar 20rb)
  • [P] Harga satu buah apel: 15rb (iya, satu biji, bukan 1 kilo).
  • [GP] Harga satu tandan pisang (isi 8 biji): 20rb (di Indo, kalo udah musim pisang malah dibuang2)
  • [P] Harga 4 batang cabe merah (yang udah keriting dan rada2 kering gak jelas), 15rb!! (dan ini yang bikin saya rada ilfeel sampe berkeinginan nanem lombok di pot agar bisa makan nasi pake sambel).
Mahal ya? Emmm.... Depends on your framework.

Gaji seorang pegawai fresh graduate di Jepang, berkisar antara 200-250rb yen/bulan (yang kalo di-rupiahkan adalah 20-25jt). Gaji seorang fresh graduate di Indonesia, berkisar antara 1.5-2jt rupiah/bulan. Supaya gampang, anggep aja gaji pegawai A yang kerja dan hidup di Jepang adalah 20jt/bulan dan gaji pegawai B yang kerja dan hidup di Indonesia adalah 2jt/bulan. Perbandingan uang yang diterima antara pegawai A dan pegawai B adalah 10:1.
  • Seandainya seluruh gaji pegawai A di dibelikan beras (yang harga sekilonya 40rb), maka dia akan mendapatkan 20jt/40rb = 500Kg beras. Sementara, bagi pegawai B (Indonesia) jika seluruh gajinya dibelikan beras maka dia akan mendapat 2jt/4rb = 500Kg. Sama.
  • Seandainya seluruh gaji pegawai A dibuat untuk sewa apartemen, maka dia bisa menyewa apartemen selama 20jt/4jt = 5 bulan. Sementara, bagi pegawai B, gajinya yang 2jt juga bisa digunakan untuk kost selama 5 bulan. Sama.
  • Seandainya pegawai A ingin berwisata ke Tokyo Disneyland, dia harus spend untuk tiket masuknya sebesar 580rb (atau let's say 1jt untuk belanja dan makan siang di sana - which means 5% dari total gaji). Sementara pegawai B yang ingin berwisata ke Jatim Park, dia harus spend untuk tiket masuk sebesar 50rb (atau let's say habis 100rb untuk makan dan beli oleh2, which means juga 5% dari total gajinya). Sama.
  • Untuk sekali makan siang biasa, pegawai A spend 50rb-100rb (atau 0.25-0.5% dari seluruh total gajinya), sementara bagi pegawai B, sekali makan siang spend 5-10rb (atau 0.25-0.5% dari seluruh total gajinya). Nggak jauh beda.
Harga di Jepang akan sangaaaattt mahal ketika pegawai B dengan standard gaji Indonesia, hidup di Jepang. Tapi kalau pegawai B tetap hidup di Indonesia, maka pegawai B punya strata sosial yang sama dengan pegawai A. That's why ketika ada yang bilang, "Biaya hidup di Jepang mahal ya?", obviously si penanya menggunakan framework "penghasilan Indonesia"... Jika memandang dari framework "penghasilan Jepang", ya sebenarnya nggak mahal juga. In fact, beberapa produk lokal seperti ikan laut, udang, cumi, kepiting, dan telor harganya bisa SAMA (atau bahkan lebih murah) dibandingkan Indonesia!

Seorang profesor senior Indonesia yang sudah melanglang buana dan pernah bekerja di Jepang selama 1tahun mengatakan kepada saya, "Yang enak itu kalo hidup di Indonesia dan kaya." Saya merenungkan kata2nya... Maknanya dalam, khususnya untuk professor-wanna-be seperti saya.

[Diketik di Lab, hari Sabtu, 30 Oktober, Pk. 11:23, sementara hujan dan taifun menderu2 di luar]

Gambar bento 70rb rupiah yang kalo dimakan dengan framework "Penghasilan Indonesia" bisa langsung kehilangan selera makan.


Monday, October 18, 2010

Beda Pria dan Wanita

Setelah beberapa minggu menikah, saya jadi (lebih) tahu beda pria dan wanita (yang simply nggak akan pernah saya mengerti seandainya saya nggak menikah).

case #1:
Wanita: "Yang... Kamu beli baju baru ya."
Pria: "Loh...? Kenapa harus beli lagi? Kan masih punya banyak baju di lemari... "
Wanita: "Yaah... Kita perlu punya banyak baju, agar bisa ganti-ganti dan nggak pake baju yang itu-itu terus..."
Pria: "Banyak-banyak baju buat apa? Kan sekali pake cuman SATU rangkap? Lagian semakin sedikit baju, maka efisiensi masing-masing baju akan semakin tinggi. Artinya masing-masing baju akan benar-benar optimal sebelum habis masa pakainya. Kalo bajunya banyak, maka akan ada baju2 yang terlalu lama idle di lemari pakaian karena nggak terpake sehingga efisiensinya berkurang..."
Wanita: ... [ speechless ] ...

case #2:
Wanita: "Yang... kamu kok nggak pernah nelepon aku kalo lagi kerja?"
Pria: "Lah, untuk apa?"
Wanita: "Yaaaa... telepon aja kan nggak ada salahnya?"
Pria: "Kalo nggak ada perlu kenapa harus telepon? Bukannya telepon itu pake prinsip, 'bicara seperlunya?'"
Wanita: ... [*ngomel*] ...

case #3:
Pria: "Yang, kamu kalo kemana-mana kok mesti bawa tas buat apa?"
Wanita: "Ya, aneh aja kalo nggak bawa tas..."
Pria: "Aku nggak bawa tas nggak ngerasa aneh..."
Wanita: "Ya, pria lain... Kalo wanita harus bawa tas..."
Pria: "Terus tas-nya diisi apa?"
Wanita: "Ya... diisi Hape, dompet... makeup kalo perlu..."
Pria: "Jadi kalo Hape dan dompetnya aku yang bawa, kamu nggak bawa tas nggak papa?"
Wanita: "Nggak bisa, harus bawa tas pokoknya..."
Pria: ... [speechless]...

case #4:
Wanita: "Yang, hari ini bawa bekal nasi dan telor ceplok ya..."
Pria: "Iya..."
Wanita: "Telor ceploknya dikasi saos pedes ya..." [*sambil mengoleskan saos pedes ke telor ceplok*]
Pria: "Iya..." [*mengamati proses pengolesan saos pedes ke telor ceplok*] "... loh, kok saosnya dibuat kayak mata2an gitu?" [*setelah melihat telor ceplok dihias dengan digambar mata dan mulut yang lagi ketawa*]
Wanita: "Iya... Biar lucu."
Pria: "Emang rasa telornya jadi lebih enak beda kalo modelnya lucu gitu...??"
Wanita: "Ya... Nggak sih... tapi kan lucu, telornya jadi kayak orang ketawa."
Pria: ... [*ngomel* - emangnya anak TK dikasi telor ceplok dengan hiasan??]

case #5:
Pria: "Yang, besok kita ke Tokyo Disneyland ya..."
Wanita: "Asyiikkk...!!"
Pria: "Asyik kenapa...?"
Wanita: "Ya... kan asyik... nanti bisa foto ma Mini, Donald, Clarabella..."
Pria: "Foto gitu apanya yang asyik...?"
Wanita: "Ya, kan mereka lucu..."
Pria: "Lucu gimana?"
Wanita: "Ya, lucu... Nanti kita foto bareng sama mereka ya?"
Pria: "Biar apa?"
Wanita: "Ya... Biar ada kenang2an kalo kita pernah foto sama mereka"
Pria: "Lalu kalo nanti kalo udah foto ma mereka, terus fotonya bisa kita jual?" [*berharap, mungkin si wanita punya channel sesama wanita lain yang mau beli foto "lucu" gitu*]
Wanita: "ya nggaaak lahh...!!!"
Pria: "Kalo gitu, kamu aja yang foto..."
Wanita: ... [*grrrrrr*]...
Pria: [*nggak pernah ngerti di mana "lucu" ato "asyik" nya berfoto dengan tokoh2 aneh jika memang fotonya nggak punya nilai ekonomis apapun* - foto di bawah diambil dengan sedikit nggak rela dan memaksa senyum]



----------
Wanita perasa. Pria berlogika.
Itu one-to-one relationship yang unik.
Satu umur hidup mungkin nggak pernah cukup untuk bisa mengerti satu sama lain.

(Diketik saat sedang kangen dengan istri di Indonesia)

Friday, October 15, 2010

(Universitas) Chiba

I've passed the first month in Japan dengan sehat, selamat, dan masih belum bisa ngomong Jepang. At least, saya sekarang sudah bisa baca hiragana dan katakana sedikit lebih cepat dari anak kelas 2 SD di Jepang. Untuk karakter Kanji, saya juga sudah bisa baca... Ya sekitar 20-an karakter dari total 2.000 karakter agar bisa baca koran dengan lancar. At least, saya sudah bisa membedakan kanji untuk karakter "Pria" dan "Wanita" yang tentunya sangat berguna ketika ke toilet umum. Pinginnya di tahun ke-3, sudah menguasai 2000 karakter kanji agar bisa survive di negara lain yang juga menggunakan karakter tersebut, seperti China, Taiwan atau Hongkong. Amin!

Saya mulai suka dengan Universitas Chiba dan lingkungannya (padahal dulu nggak pernah kebayang bakal sampe di Universitas Chiba untuk dapetin Ph. D, kebayangnya ya dapetin Ph. D di computer science dari MIT, Harvard ato Universitas Ma Chung gitu...).

Kenapa saya suka (Universitas) Chiba?

First of all, lokasi Universitas Chiba ini di kecamatan Nishi-Chiba, kota Chiba, Propinsi Chiba (iya, nama kota dan propinsinya sama... Yang jelas di Indonesia, nggak ada Kota Jawa Timur, ada juga kota Malang, Surabaya, Pasuruan yang mana beda dengan nama propinsinya). Kota Chiba ini bukan kota besar kayak Surabaya. Apalagi kecamatan Nishi-Chiba... Suasananya jauh dari keramaian, hingar-bingar ataupun night-club - which is bagi sebagian orang, pasti bisa pusing karena bosan (kalo rame, saya yang pusing)... Di Nishi-Chiba, hampir semua tempat dapat dijangkau dengan naik sepeda engkol dan sebotol minuman dingin. Entah itu ke stasiun, supermarket, kampus, ato kantor catatan sipil untuk ngurus KTP, semua dekat. Dengan 30.000 yen per bulan, sudah bisa sewa apartemen, which is kalo di Tokyo, uang segitu cuman buat sewa secuplik tempat parkir di apartemen yang ada di gang buntu.

Kedua, walopun sama-sama universitas negeri, tapi Universitas Chiba beda dengan Universitas Tokyo. Kalo di Indonesia, Universitas Tokyo ini kayak UI ato ITB, jadi kiblat untuk universitas-universitas lain di Jepang... Penelitian terbaru, jurnal-jurnal nasional dipenuhi dengan afiliasi Universitas Tokyo, alumninya banyak yang jadi pejabat, saintis, menteri, dan orang2 top. Kalo Universitas Chiba Nusantara Jaya (UCNJ) mah, mungkin kayak UGM Jogja ato Unpad Bandung. Universitas negeri, di kota pendidikan yang biaya hidupnya nggak tinggi2 amat. Mahasiswa di Chiba juga nggak "seaneh" mahasiswa di Universitas Tokyo. Teman lab saya pernah bilang, dari penampilan aja mereka bisa membedakan mana mahasiswa dari Universitas Tokyo dan mana mahasiswa dari Universitas Chiba. Sampe segitunya... (saya jadi membayangkan bagaimana modisnya mahasiswa di Universitas Tokyo atau... kupernya mahasiswa Universitas Chiba? Entahlah).

Ketiga, teman-teman lab saya jumlahnya ada 14 orang dan semuanya Japanese. I'm the only foreign student - dari Indonesia pula. This means, the only way I communicate with them is either using English or Japanese. Both is an advantage for me to develop my foreign language skill. Cool. Nggak mungkin saya pake Bahasa Indonesia, baik pas ngomong sama prof ato presentasi di depan. (Di Lab gedung sebelah, Lab Remote Sensing, prof-nya orang Indonesia dan most of the students juga Indonesian. Kata temen saya yang masuk di Lab itu, nggak kerasa kayak di Jepang kalo pas di Lab, kalo ngomong tetep pake Bahasa Indonesia).

Keempat, lab di mana saya spend most of the time untuk research adalah lab yang bebas (dan lengkap dengan segala perkakas memasak, microwave, kulkas, sumpit, gelas, piring - walopun ini bukan Lab jurusan Culinary). Nggak ada check-clock. Nggak ada finger-print. Nggak ada presensi. Nggak ada larangan maen game. Nggak ada pembatasan akses alamat Internet. Totally free!

Lab bebas diakses oleh anggota lab kapanpun, karena kunci lab ditaroh di samping lemari loker di sebelah toilet pria, pintu ke-3, dekat tong sampah (dan ini menjadi rahasia besar bagi kami yang nggak boleh dibocorkan ke siapapun). Karena kalo sampe di Lab ada yang masuk dan mengambil data2 penelitian kami, yang diletakkan dengan di komputer server 3, drive C dengan password R4i2po4D, maka tentu kami yang rugi sendiri. Jadi kami berjanji untuk nggak membocorkan rahasia ini.

Dengan jam bebas seperti itu, sama sekali nggak ada niatan bagi kami untuk skip, bermalas2an ato nggak ngerjakan research. In fact, saya seringkali keasyikan sampe overtime di Lab (seperti sekarang ini). Sesekali profesor melihat ke Lab dan bertanya sampe di mana research masing-masing, kendala2 yang dialami. Seminggu sekali ada group meeting di mana para anggota lab diminta untuk mempresentasikan progress research masing2 dan didiskusikan bersama. What a condusive environment to do research!

Terima kasih untuk rakyat Indonesia yang telah membayar pajak. Pajak yang masuk jadi kas negara, kemudian disusun anggaran belanja negara, yang mana 20%-nya dianggarkan untuk pendidikan. Dari 20% itu, sepersekiannya dialirkan untuk membiayai kuliah saya di sini selama 3 tahun. Arigatouuu gasaimashita (sambil membungkukkan badan 90 derajat)...


Diketik di Lab Center Research for Frontier Medical Engineering, Universitas Chiba Nusantara Jaya (UCNJ) hari Jumat 15 Oktober 2010, Pk. 21.39.


(Foto Universitas Chiba yang diambil dari jendela samping meja kerja, di Lt. 4)

Friday, October 1, 2010

Riset seksi

Hari ini, 1 Oktober adalah awal semester genap. Saya officially resmi menjadi research student periode Oktober 2010-April 2011 di bawah bimbingan Prof. Hideaki Haneshi, Laboratorium Frontier for Center Medical Engineering, Universitas Chiba Nusantara Jaya (UCNJ) (yang belakang itu tambahan aja, biar kliatan nasionalis, hihi2...)

Kemaren diskusi dengan Pak Prof tentang topik riset - dan saat itu baru nyadar bahwa bidang beliau sebenarnya nggak terlalu nyambung dengan computer science yang saya harapkan. Dia pakar di medical imaging (seperti MRI, CT/PET dan teman2nya yang kurang saya kenal dengan baik). Sementara saya belom pakar di bidang apapun... Jadi, ya pantes kalo nggak nyambung, hihi2...

Sebenernya, saya berharap untuk ada di Lab yang topik penelitiannya fokus di pengolahan citra medis yang erat kaitannya dengan kecerdasan buatan (seperti thesis master saya dulu). Tapi di lab ini, penelitiannya lebih ke arah citra medis dari sisi rekayasa, fisika ato matematika - dikit banget sisi computer science-nya (lebih nyambung ke arah engineering ketimbang computer science). Pantesan kemaren seminar nggak bisa nyambung... Topiknya, "An Imaging Spectroscopy Approach for Measurement of Oxygen Saturation and Hematocrit During Intravital Microscopy" - ngetiknya aja udah bikin sakit jari2. Saya cuman bisa bengong selama seminar 2 jam (karena nggak ada kena-mengena-nya dengan computer science, pake Bahasa Jepang pula!).

Waktu diskusi kemaren, Pak Prof-nya ngasih saran riset di bidang computer science...Topik besarnya tentang "Compressed Sensing" - yang merupakan bidang baru di computer science. Intinya adalah melakukan rekonstruksi sinyal (bisa berupa citra ato sinyal lain, seperti sinyal hape, radio, tv) dari sinyal yang low-res menjadi sinyal yang hi-res. Salah satu penerapan praktisnya di bidang medis. Misalnya ada pasien yang organ pernapasannya hendak dipindai (di-scan) menggunakan MRI, maka pasien tersebut HARUS bisa menahan nafasnya selama proses pemindaian (scanning). Otherwise, hasil pemindaian MRI akan kabur ketika ada pergerakan dari organ pernapasan. Nah, di sini compressed sensing memegang peranan penting.

Dari hasil pemindaian yang cepat (agar pasien nggak keburu mati karena disuruh menahan nafas terus2an), akan didapatkan MRI yang "under-sampling" atau kualitasnya kurang baik (sementara untuk mendapatkan pemindaian dengan resolusi tinggi, pasien harus menahan nafas lebih lama). MRI yang "under-sampling" tentu akan menyulitkan radiolog untuk melakukan analisa (lah, gambarnya low-res). Nah, "Compressed Sensing" memegang peranan penting di sini. Masukkan MRI yang "under-sampling" tersebut ke software yang menerapkan "Compressed Sensing", dan pop! akan dihasilkan MRI dengan kualitas ketajaman yang cukup baik untuk dapat dianalisa oleh radiolog. Rekonstruksi citra (ato sinyal) yang under sampling dilakukan secara "magic" oleh "Compressed Sensing". It's a brilliant idea!

Sekilas saya baca, teori dari "Compressed Sensing" ini membuat saya bingung... Di jurnal2 penelitian tentang topik ini selalu melibatkan hitung2an dengan simbol-simbol ajaib seperti y, f, e, |, d, q, d dan tak ketinggalan muncul simbol kebangaan para matematikawan sedunia, ò (integral).

Tapi saya bisa sense ini topik penelitian yang "sexy"... Ya, let's see apa saya akan bergumul dengan those symbols selama 3.5 tahun ke depan. Sekarang saya mau week-end dulu... Mau kencan... Bukan, bukan dengan istri. Dengan mbak "C"...

Mbak "Compressed Sensing" yang "sexy" itu.


Thursday, September 23, 2010

Second Language Acquisition

Bagaimana kita bisa berkomunikasi melalui bahasa adalah hal yang menakjubkan. Saat masih usia 2-3 tahun, kita nggak pernah sadar bagaimana kita mengembangkan kemampuan berbahasa ini. Tiba-tiba saja, kita dapat berbicara, membaca, dan menulis. Bahkan saat tulisan ini diketik, saya seolah-olah nyaris tidak memikirkan apa itu kata kerja, kata benda, kata sifat, prefiks dan sufiks. Konon kabarnya, prefiks (atau awalan seperti "me", "mem", "di", "ber") dan sufiks (seperti "i", "an", "kan", "nya") sangat sukar bagi orang asing yang mempelajari Bahasa Indonesia. Padahal bagi yang first language-nya Indonesia, prefiks atau sufiks semacam itu, hampir tidak pernah kita pikirkan saat kita berbahasa.

SLA atau dalam bahasa Indonesia "Pemerolehan Bahasa Kedua" adalah bagaimana kita mendapatkan kemampuan berbahasa asing (selain bahasa asli kita). Ini juga tidak kalah menakjubkannya (misterius menurut saya) dibandingkan pemerolehan bahasa pertama. Saya mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris (sebagai SLA) sejak SMP yang masuk dalam mata pelajaran intrakurikuler. Saya menghafal vocab, belajar grammar, berlatih membaca, mendengarkan, bercakap-cakap, dan menulis. Seperti halnya mendapatkan first language, bagaimana menguasai SLA ini juga sepertinya nggak disadari. Tahu-tahu kemampuan berbahasa itu nancap begitu saja di kepala (emm... beneran ada di kepala?).

Sekarang saya di Jepang, di mana 8 dari 10 orang yang saya temui (Statistik kasar - setidaknya di lab di mana saya melakukan research), tidak bisa berkomunikasi aktif dalam bahasa Inggris (apalagi bahasa Indonesia). Setiap hari, saya akan dipaksa untuk mendengarkan atau merespon dalam bahasa Jepang, yang merupakan second language buat saya. Minggu-minggu ini adalah proses SLA, mendapatkan bahasa kedua, yaitu bahasa Jepang. Saya mulai membaca buku-buku pelajaran Bahasa Jepang. Tapi SLA benar-benar misterius. Pertanyaan "toire wa doko desu ka?" (Di manakah toilet?) tiba-tiba dapat saya tanyakan kepada mbak-mbak informasi karena saya sangat kebelet pipis ingin tahu di mana letak toilet ketika jalan-jalan di sebuah mall. Saya cukup yakin di buku yang saya pelajari tidak pernah ada kalimat tersebut.

Hari ini, kami berencana ke Narita naik kereta api (yang sudah nggak ada api-nya lagi). Dengan mengikuti papan informasi, kami menuju ke line kereta jurusan Narita. Saat menunggu di kereta, rasanya ada yang kurang tepat. Jika kami salah naik kereta, maka akibatnya fatal - kami akan sampai di stasiun antah-berantah, dan semua jadwal perjalanan kami akan mundur. Saat duduk menunggu keberangkatan kereta, tiba-tiba tersusun kalimat pertanyaan kepada emak yang duduk di samping saya, "Sumimasen, kono densha wa Narita e ikimasu ka?" (Permisi, Apakah kereta ini menuju Narita?). Bagaimana emak tersebut merespon, sangat melekat dalam kepala saya, yaitu, "Ee... Narita ikunai" (Eee... Tidak ke Narita) - sambil tangannya memberikan isyarat bahwa kereta ini bukan ke Narita, "Tokyo ikimasu..." (Ke Tokyo). "Ahh... Arigatou!" Jawab saya, dan kami segera keluar dari kereta. Beberapa detik setelah kami keluar, pintu kereta tertutup dan pergi membawa emak dan penumpang di dalamnya ke Tokyo. Kami memandang keberangkatan kereta tersebut imajinasi liar apa yang akan terjadi jika kami masih tetap di dalam kereta tersebut.

Selain kepada emak tadi, saya merasa sangat berterimakasih kepada kalimat "Kono densha wa Narita e ikimasu ka?". Kalimat itu melekat sekali dalam kepala saya (dan kemungkinan, strukturnya juga akan atau segera terbentuk dalam kepala saya, sehingga ketika ada kalimat dengan struktur serupa akan lebih mudah dimengerti).

Beberapa istilah seperti "Kochira", "Dozou", "Soo... soo...", "So desu ne", "Honto?" juga terbentuk secara otomatis setelah beberapa kali istilah tersebut "dikenakan" kepada kami dalam berbagai keadaan.

Saya kira SLA adalah hal yang misterius... Dan dalam minggu-minggu ini, proses pemerolehan bahasa kedua untuk Bahasa Jepang akan saya alami. Saya akan menikmati salah satu keajaiban otak manusia.

Diketik di Narita Airport, 22 September 2010, Pk. 13.48.
(Menunggu istri yang lebih senang jalan-jalan ketimbang blogging seperti saya)

Beasiswa ke Jepang? Enak ya...

Masih belum genap 2 minggu saya di Jepang (sejak sampe Narita tanggal 11 September lalu). Ketika masih di Indonesia, ungkapan "Wiih... enak ya bisa ke Jepang gratis..." sering saya dengar (baik secara eksplisit maupun implisit melalui body language).

Benaran enak ya? Ya... bisa disebut enak kalo definisi enak adalah:
  • Bisa jalan-jalan ke Jepang dengan tiket pesawat PP dibayarin.
  • Bisa menikmati tenangnya taman kota di sore hari tanpa kuatir dipalak preman.
  • Bisa ke mall di Tokyo yang dipenuhi dengan orang2 dengan berbagai dandanan (yang membuat kita aneh jika berjalan tanpa dandanan apapun)
  • Bisa menikmati praktisnya sistem transportasi menggunakan kereta, yang biaya untuk sekali transfer antar stasiun dalam jarak kurang dari 5KM bisa dipake naek mikrolet Arjosari-Tidar seminggu.
  • Bisa mencoba makanan dan minuman baru yang higienitasnya dipastikan terjamin.
  • Bisa mendapatkan teman-teman baru dengan latar belakang budaya yang berbeda.
  • Bisa mendapatan sistem pendidikan yang kabarnya salah satu yang terbaik di dunia.
  • Bisa jalan-jalan ke Tokyo Disneyland atau Tokyo DisneySea yang penuh dengan atraksi spektakuler (yang kalo di Indo katanya tempat liburannya orang kaya - padahal tiket masuknya setara dengan upah tukang sapu jalanan ato cleaning service sehari).
  • Bisa menikmati teknologi tercanggih untuk televisi, gadget, internet, dan perangkat2 elektronik lainnya.
  • Bisa pergi ke negara2 tetangga (Korea, China, Taiwan, Hongkong) dengan biaya tiket dan biaya hidup lebih murah ketimbang berangkat dari Indonesia.
So far enak. Tapi bayangkan kamu menghadapi situasi-situasi seperti ini:
  • First of all, kamu hidup di lingkungan di mana sebagian besar org2nya tidak mengerti bahasa yang kamu ngerti dan hanya ngerti bahasa yang tidak kamu mengerti. Jadi, either kamu yang berusaha ngerti ketika diajak ngomong ato kamu ngomong tapi nggak dimengerti atau menggunakan bahasa universal dunia, tubuh.
  • Kamu hidup dimana SEMUA INSTRUKSI ditulis dalam karakter2 yang seumur2 kamu nggak pernah nyangka bahwa karakter2 aneh itu ternyata punya arti. Which means, pas kamu naek kereta, kamu harus observasi dulu bagaimana caranya... Mau dibaca juga gak ngerti, mau nanya mas kondekturnya, dianya yang nggak ngerti. Hal yang sama terjadi ketika kamu mau laundry baju di mesin pencuci otomatis, membeli tiket kereta, beli makanan/minuman di vending machine, telepon di telepon umum, dsb.
  • Ketika pertama dateng, kamu nggak punya kolega sama sekali. Which means, all by yourself. Dalam keadaan nggak ada kolega seperti itu, hukum "nobody cares" akan berlaku. In my case, PPI-Chiba (Persatuan Pelajar Indonesia) sangat membantu. Tanpa dibantu rekan2 PPI-Chiba, kami akan so much in trouble.
  • Lalu waktu pertama dateng, kamu nggak ada tempat tinggal tetap dan harus segera cari apartemen (secara asrama kampus baru bisa dimasuki bulan Januari tahun depan). Proses mencari apartemen nggak semudah kayak cari kos2an di Indonesia - yang 5 menit udah deal harga dan langsung bisa masuk kamar. Di Jepang, mencari apartemen butuh waktu minimal 2 hari sebelum kunci apartemen diberikan. Di apartment agency kamu dipaksa untuk mengerti apa yang dijelaskan dalam Bahasa Jepang... Kalo oke, kamu harus tanda tangan di sebuah kertas yang disebut dengan "kontrak apartemen" di mana akan berjumpa kembali dengan ratusan karakter aneh yang buat kamu nggak ada artinya.
  • Setelah dapet tempat tinggal, bukan berarti semua beres. Apartemen yang disewa, hanya dilengkapi AC dan shower buat mandi. Nggak ada kasur empuk, nggak ada peralatan dapur, nggak ada kulkas, nggak ada TV, nggak ada mesin cuci... Mau masak nasi? Berasnya sih jual, tapi rice cookernya? Mau masak mie instan yang dibawa dari Indonesia? Kompornya mana? Mau makan makanan instan yang dijual di supermarket? Bisa, opsinya dihangatin pake microwave, ato dimakan dingin2 (karena semua makanan instan di supermarket dipajang di refigrator). The best choice adalah makan di rumah makan. Hanya saja di sini nggak ada cabangnya soto lombok, nggak ada cabang rawon nguling, nggak ada pecel panderman, nggak ada lalapan mega mendung... Kalopun makan, kita harus milih yang ada gambar makanannya lalu nunjuk ke mbak pelayannya. Kalo nggak ada gambarnya dan asal nunjuk tulisan, you have no idea makanan apa yang akan muncul...
  • Berikutnya transportasi. Nggak ada mobil pribadi ato sepeda motor untuk bepergian jarak dekat (<=3KM). Nggak ada mikrolet jurusan AG ato ADL apalagi ojek. Jadi bagaimana? Ya, kembali ke metode transportasi di awal peradaban manusia... Bukan naik kuda, jauh sebelum itu... Jalan kaki. Bahkan untuk mencari tau di mana ada supermarket yang jual kebutuhan sehari2, kamu harus trial and error, menggunakan algoritma brute-force keliling kota dengan resiko kesasar karena papan petunjuk arah-pun menggunakan karakter aneh yang nggak kamu ngerti.
  • Gimana dengan uang? Karena masih baru, tentu kamu nggak punya bank account. Nggak ada ATM yang bisa dengan gampang tinggal tarik kayak pas di Indonesia. Jadi harus segera buka rekening bank agar uang dari Indonesia segera bisa ditransfer. Good idea! Segera buka rekening. Tapi ketika buka rekening, sekali lagi semua instruksi disajikan dalam bahasa kanji. Selain itu, syarat memiliki ID Card harus dipenuhi. Jadi harus memiliki ID Card. Oke, bagaimana mendapatkan mendapatkan ID Card? Menurut mbaknya, ID Card didapatkan dengan cara mendafatarkan diri di Ward Office - kalo di Indonesia namanya kantor catatan sipil. Di Malang saya tau persis letaknya dan saya bisa ke sana dengan naek mikrolet, sepeda motor, ojek, mobil, ato jalan kaki dengan mata terpejam. Tapi ini di Jepang...
Keadaan ini sangat jauh dibandingkan dengan ketika hidup di Indonesia. Ada tempat tinggal, ada kendaraan, lingkungan yang sangat ramah satu sama lain, kebutuhan pokok dapat terpenuhi... Di sini memulai segala dari 0...

Tapi overall, saya enjoy dengan lingkungan baru ini. Semakin lama pasti getting better walaupun di awal harus struggling. Kalo ada yang bilang "Wiiih, enak ya bisa dapet beasiswa ke Jepang...", hmm... you just have no idea what I've been through. :)

Diketik di Mall 1000City (Sencity), Chiba tanggal 22 September 2010 Pk. 18.38
(Sementara menunggu istri jalan2 di Sogo - nggak dia nggak belanja kok, cuman liat2 dan bandingkan harga)

Friday, August 6, 2010

Prejudice and Judgement

Menurut KKWI (Kamus Kecil WIndra yang belum disempurnakan), prejudice berarti prasangka negatif yang dirasakan dalam hati seseorang kepada seorang lain. Atau kacamata yang kita letakkan pada hati kita untuk kita membuat penilaian terhadap orang lain (yang kita sendiri sebenarnya nggak tau apakah penilaian kita benar atau nggak). Dasar penilaiannya adalah "kata orang", "berita" atau "perasaan dalam hati".

Kasihan orang yang jadi korban prejudice orang lain. Apalagi kalo sampe si empunya prejudice menyebarkan prejudice-nya kepada teman-temannya... "Eh, si anu itu kayaknya sombong ya...", "Eh, si itu sifatnya jelek loh, jangan dideketi..." Yang jadi korban prejudice yang nggak tau apa-apa tiba-tiba jadi nggak disukai tanpa sebab yang jelas dan nggak punya kesempatan untuk explain apapun (padahal yang di-prejudice-kan belum tentu benar).

Tapi, sepertinya yang lebih kasian adalah yang orang yang punya (ato menyebarkan) prejudice itu. Betapa tersiksanya hidup dalam prejudice seperti itu. Tindakannya akan amaaaaattt sangat dibatasi oleh prejudice-nya sendiri. Dia akan kehilangan banyak kesempatan dalam hidupnya gara-gara prejudice dalam kepalanya toward someone, dia jadi tidak (berani) melakukan apa-apa karena prejudice yang ada dalam pikirannya... ato malah melakukan sesuatu yang negatif, misalnya memusuhi atau bahkan memutus komunikasi.

Lain prejudice, lain judgement. Judgement berarti nilai jelek yang kita berikan kepada seseorang karena suatu tindakan yang dia lakukan, dan penilaian tersebut berdasarkan apa yang ada dalam otak kita yang kecil dan terbatas ini (ngeyelan lagi). Kita sering memberi nilai jelek terhadap orang lain berdasarkan sesuatu yang dia lakukan. Misalnya, gara-gara berpapasan dengan rekan kerja, kemudian dia nggak nyapa maka kita langsung judge, "dasar sombong! kalo mau ngajak musuhan siapa takut?", ato ketika kita lagi asyik-asyik ngobrol kemudian ada seorang rekan yang tiba-tiba ngeloyor pergi, kita langsung judge, "nggak sopan! pasti dia nggak suka dengan apa yang kita bicarakan! kita musuhin aja dia...!", ato ketika pimpinan memberikan tugas yang rasanya terlalu banyak, kita langsung judge sebagai pimpinan yang mau enaknya aja, "Dasar pimpinan mau enaknya aja, yang berat-berat dikasi ke bawahannya, dia yang gajinya gedhe sendiri...", ato kalo kita pimpinan, kita dengan mudah membuat judgement terhadap bawahan yang kurang cekatan, "gitu aja kok nggak bisa? gitu aja kok sampe lama? gitu aja nggak selesai2...", ato kalo ada artis yang kena gosip video mesum, kita langsung judge, "..." (hayo ngaku, punya judgement apa sama si seleb itu?)

Percayalah, jika tidak ada dua kata ini, yaitu prejudice dan judgement, dunia akan menjadi jauuuuuhhh lebih baik. Bayangkan bahwa setiap orang menerima kita tanpa ada prasangka. Bayangkan ketika apapun yang kita lakukan dengan intensi yang baik, tidak disalahpahami oleh siapapun... I wish I met all people in that attitude... Tapi, ya itu... Ini kan bukan perfect world.

Bagaimana kalo kita mulai dari diri kita? Mari kita hilangkan kata "prejudice" dan "judgement" dalam kamus pertemanan. Pasti menyenangkan bisa berteman dengan seseorang yang nggak punya prejudice dan judgement...

(NB. Insipired dari aawmmh, yang nyaris tidak pernah punya prejudice ataupun menghakimi orang lain... Terima kasih sudah memberi contoh bahwa menghilangkan prejudice dan judgement itu bukan hal yang nggak mungkin)