Tuesday, December 29, 2009

Going into perfection

Spirit manusia itu terkontaminasi dengan "kotoran" begitu dia dilahirkan di dunia ini. Orang beragama menyebutnya "dosa" - yang diturunkan turun-temurun dan gak pernah habis. Jadi sejak manusia lahir, walaupun physically keliatan bersih, tapi spirit-nya udah terkontaminasi. That's explain kenapa anak kecil cenderung self-centered, bisa bohong walopun nggak pernah ada yang ngajarin. Simply karena spiritnya terkontaminasi dari orang tuanya yang imperfect.

Spirit ini memengaruhi pikiran, dan pikiran memengaruhi tindakan. Tindakan yang dilakukan, juga akan memengaruhi spirit. Jadi seperti mata rantai, spirit yang kotor - memengaruhi pikiran untuk menghasilkan ide2 yang busuk - dan ketika ide busuk itu dilakukan, maka spirit akan semakin terkontaminasi, lalu kembali memengaruhi pikiran, kemudian dilakukan... begitu seterusnya... (Lalu muncullah istilah "ikatan dosa"... Tapi never mind tentang "ikatan dosa")

I came to conclusion that nobody's perfect, kecuali dia dilahirkan dari Perfect-seed (Perfect-spirit) dan dia mampu maintain his-clean-spirit.

So, here we are... Living in an imperfect world and interact with imperfect people... Hasilnya? Konflik, permusuhan, perselisihan, prasangka buruk, negative judgement... Semua karena satu alasan, we're imperfect people. Kalo ada konflik, lalu di-trace back apa penyebabnya, pasti ketemunya karena ekspektasi seseorang terhadap orang lain nggak sebanding. Yang satu expect "A", yang lain melakukan "B".

I have to admit:
  • As a friend, I'm an imperfect friend... (saya bisa cuek dengan teman saya, saya bisa nggak ramah ke teman saya ketika mood saya jelek, i can't maintain my smile all the time, saya bisa egois, saya bisa jengkel, walaupun saya mati2an menahan diri untuk nggak ngomong jelek, saya bisa keceplosan ngomong jelek tentang orang lain).
  • As a husband-gonna-be, I'm also imperfect... (saya bisa nggak care, perkataan saya bisa menyakitkan hati, i can't maintain romantic situation all the time)
  • As a lecturer, I'm reallllyy... realllly imperfect lecturer... (saya bisa dan berpotensi berbuat tidak adil dalam memperlakukan mahasiswa saya, tindakan dan kata2 saya bisa membuat jengkel mahasiswa saya, apa yang saya ajarkan juga bisa banyak kekurangannya karena kebodohan dan ketidak-tahuan saya, cara mengajar saya bisa membuat mahasiswa terkantuk-kantuk karena bosan setengah mati - atau muak, dan saya juga bisa nggak suka dengan mahasiswa yang melakukan tindakan2 tertentu - lalu secara jelas menunjukkan hal itu kepada mahasiswa tersebut)
  • As a part of an (imperfect) organization, I'm imperfect staff... (saya bisa datang terlambat dari jam seharusnya, saya bisa membuat sakit hati rekan saya, saya kesulitan maintain good relationship with all-my-colleagues all the time, saya bisa menyalahi prosedur yang ditetapkan).
Tapi imperfection ini nggak bisa jadi alasan untuk kita melakukan hal2 yang nggak bener. Dunia akan rusak jika kita menggunakan alasan ketidaksempurnaan untuk melakukan hal2 negatif. All we have to do is going into perfection... Sedikit demi sedikit (atau langsung banyak) mengurangi kontaminasi spirit of imperfection... That's human being is all about... Selalu belajar untuk menjadi semakin baik.

Closing part
Sebagai apapun, saya manusia yang tidak sempurna - dan nggak akan pernah sempurna (karena spirit yang terkontaminasi tadi). Jika kata maaf dapat mewakili untuk menebus ketidaksempurnaan saya, saya akan katakan dengan tulus: maaf kepada teman-teman saya, maaf kepada my wife-gonna-be, maaf kepada mahasiswa saya, maaf kepada rekan2 kerja saya, maaf kepada orang tua saya.



Friday, December 18, 2009

Fulbright vs. Dikti

Last week, I was interviewed for my Ph. D scholarship application by Dikti (Indonesian Ministry for Higher Education). I knew the interview schedule last minute before the D-Day - Friday evening, one of my colleague texted me - and Saturday morning, 8.30am, I was in Surabaya for an interview.

I'd love to compare - head to head - about my first experience interviewed by Fulbright (that conducted by AMINEF/American Indonesian Exchange Foundation) and my second experience interviewed by Dikti. For those who pursue scholarship, you're gonna love it!
  1. Fulbright dengan sopan mengirim surat undangan resmi kepada para kandidatnya, baik melalui email maupun mengirim langsung surat undangan ke alamat kandidatnya. They also phoned me, asking for confirmation either the I could attend the interview or not. Pengiriman surat dilakukan 1 bulan sebelum hari-H interview, lengkap dengan alamat dan jadwal interview. Meanwhile, Dikti memberikan pengumuman melalui website resminya H-4 dalam format Ms-Excel. Tidak ada surat undangan baik melalui email, surat langsung ataupun telepon. Jika kolega saya tidak meng-SMS saya, most probably I'll miss the interview.
  2. I noticed only 5 candidates interviewed by the Fulbright comittee at that time, while Dikti got 46 candidates attend the interview (out of 67 candidates), baik dari S2 maupun S3 khusus dosen.
  3. Fulbright memberikan jadwal interview Pk. 10.30 - 11.00 dan tepat Pk 10.30, I'm called to go into the interview room and the interview starts. Exactly at 11.00, interview ends. Dikti scheduled the interview at 8.30am, and I go into the interview room at 3.30pm. Cuma selisih 7 jam - dan trust me... mereka (para dosen) yang menunggu giliran interview, "ngentang", doing nothing but chit-chat with others... Padahal ini orang2 pintar yang kalau waktu menunggunya dibuat untuk research atau publikasi, pasti udah menghasilkan karya-karya yang bisa dibanggakan Indonesia. Saya juga terjebak ngentang di sana selama 7 jam (beruntung saya bawa buku untuk bisa saya baca).
  4. Interviewer Fulbright adalah 2 orang bule dan 1 orang Indonesia. Mereka bertanya tentang topik research dan rencana ke depan setelah saya menyelesaikan studi. Interviewer Dikti ada 2 orang Indonesia yang lebih cenderung menanyakan seberapa siap (both mentally and intellectually) saya berangkat. They're very nice people, not so intimidating... I think I'm just lucky, because in the other tables, the interviewer quite intimidating.
  5. Interviewer Fulbright said nothing about my chance to get the scholarship, while Dikti's interviewers said, "in this table, you're the best among the others" in the end.
  6. After interview, Fulbright gave some money to cover the transportation cost, while Dikti provided some snacks to make sure we're not faint during the long-waiting-time.
  7. Fulbright program tidak mensyaratkan ikatan kerja, sementara untuk aplikasi beasiswa Dikti, ada syarat ikatan kerja di Universitas asal selama 2N+1 (N adalah lama studi). Jadi jika berhasil menyelesaikan studi 3.5 tahun, maka ikatan kerja di Universitas asal adalah 8 tahun. Saya siap melepaskan beasiswanya jika ikatan 2N+1 diberlakukan secara ketat untuk bekerja Senin-Jumat, 08.00-17.00 (mending beasiswa dilepas dan jadi dosen LB).
Jadi, begitulah... My Doctorate Journey still going to take looooonggg time.