Saturday, June 13, 2009

Posisi

Saya nggak pernah bisa cocok dengan dunia kerja yang penuh politik. Saya nggak bisa tahan di sebuah organisasi di mana persetongkolan dan intrik terjadi demi keamanan dan keselamatan posisi masing-masing.
  1. Ada yang berani menjegal teman sendiri agar dia bisa dipromosikan. Kalo emang perlu difitnah ya go ahead... Dia ngatur strategi dengan manis agar dianya looks good dan temennya looks bad di depan bos. (semoga saya nggak ketemu dengan orang jenis ini atopun kalo sampe ketemu, semoga saya nggak nyadar bahwa dia sedang ngelakukan itu, daripada saya ilfeel seumur hidup dengan dia). Mari kita sebut orang ini dengan sebutan Jenis Licik.
  2. Ada yang mau enaknya sendiri. Karena ngerasa sudah punya pangkat dan posisi, jadi nggak mau repot... " Lah buat apa juga repot, lah wong yang bawah bisa disuruh-suruh. Kalo nggak mau disuruh-suruh ya jangan jadi bawahan..." Kira-kira gitu prinsipnya. Mari kita sebut dia sebagai Jenis MohRepot.
  3. Ada yang merangkak dari bawah. Mulainya dari 0, lalu kerja keras sampe dia akhirnya punya posisi yang enak. Setelah posisinya enak, ya emang enak... Tapi terus lupa kalo dulu mulai dari 0. Emang gue pikirin ya? Yang penting kan sekarang gua udah enak... Loe mau jungkir balik kerja ekstra keras, ya urusan loe sama bapak loe! Yang satu ini mari kita juluki Jenis YangPentingEnak.
  4. Ada juga yang udah punya posisi. Terus kalo sampe ada yang nggak bisa support dia, ya dia akan keluarkan jurus "hajar bleh!"... Jangan sampe posisi gua ilang (ato gua keliatan jelek di mata pimpinan) gara-gara loe. (Ya iyalah, masak nama gua tercemar gara-gara orang yang nggak isa kerja, yang bener aja... Nama gua harus sempurna di depan Bos, ngerti!!?). Mari kita sebut dia dengan Jenis YangPentingNama.
  5. Ada juga yang kalo ngeliat orang kerja ekstra keras, dalam hatinya senyum2 sambil mencibir "hihihi... keesian deh loee... kerja abis2an pagi-siang-malem tp posisi cmn segitu2 aja... Pinter dikit dong kayak gua...". Yang satu ini mari kita juluki Jenis HowPathetic.
Yah, emang pada sebuah organisasi akhirnya orang akan mengejar posisi dan/atau uang. Nggak bisa disalahkan, ada latar belakang yang men-drive mereka untuk berbuat seperti itu, misalnya keluarga, ambisi pribadinya, kebutuhan sehari-hari, mengikuti gaya hidup atau mengejar status sosial yang lebih baik.
(Dan, please... jangan mengira saya sedang membicarakan lingkungan kerja saya ya... di lingkungan kerja saya itu baik-baik)
Yang saya tanyakan ke diri saya, seandainya di tahun-tahun ke depan saya dapat posisi tertentu apa bakal jadi salah satu dari jenis itu? Mungkin juga, siapa yang tahu...? Saya kan juga manusia yang nggak kebal godaan (itu sebabnya kalo di doa Bapa Kami ada, "... dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan...")

But I seriously pray to my God to give me neither position nor high salary if it will only take the name of my God in vain. Kalo posisi tertentu bakal membuat saya mencemarkan nama Tuhan, ya lebih baik saya gak punya posisi itu.

Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.
Ams 30:8-9

Thursday, June 4, 2009

Compassionate, Loving and Caring

For years, I've doubted if there's someone that has those 3 characters naturally. I, myself, must struggle very hard to guard my heart, control myself when tempted to gossiping or saying something bad about other people, I must discipline myself to sincerely help other people even if they gives no benefit for me. Why? Ya, simply because those characters are not my nature. That's why I must discipline myself.

For most of us, loving someone is easy when s/he gives benefit for us. Caring for other people looks fun when those people are our (future) client (that most probably give future benefit for us). Or when we care about other people, if we really ask our heart, may be we'll find that actually we seek praise for ourself. We easily love and care to other people if we think that what we do for them is worth and we know that we will have greater benefit from it. I called it: "unsincerity".

I almost believe that only angel that can love and help sincerely... unfortunately angels are not real, I mean, they help and they go, out of reach... there's no way I can make any continous contact... Until I meet her.

This girl is incredibly loving and caring girl. She might not know about the theory of love, philosophy of love, 5 love language by Dr. Gary Chapman or graduate from seminary, theology or Bible School. But the way she loves and cares to other people are truly, I mean, TRULY sincere.

She knows when to help other people. Despite her relatively-low-salary, she gives her money away just to give to the needy-people... She does not care whether she will get the benefit or no, she just does it anyway. Sincere, from her heart.

She might not know about literature, flowery poetry, love words, but she easily shows deep emphaty and say nice-comforting-words in the right time. Sincere, from her heart... not artificial... and she does all that without even think, she does it naturally. She loves and cares naturally. She seems born as a compassionate, loving and caring girl. And the good news, last time I saw her, she was human being, can be easily contacted by phone or sms and the most important, she stays in small-peaceful-city, called Malang (later on I don't really care if she were angel-in-disguise).

So, I met this angel, eh this girl, 2 years ago... And I can't stop myself not to admire her... She's beautifully-inside-out, naturally. For the last 6 months, I have had a privelege to get closer with her. Her sincerity simply melt my heart and... I'm proudly introduce her in this blog as An-Angel-That-Melt-My-Heart (AATMMH).

Tuesday, June 2, 2009

How it feels to be a genius?

Saya tidak dapat menahan diri saya untuk bertanya dalam hati bagaimana rasanya menjadi jenius? Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang multi-talenta?

Bagaimana rasanya punya otak yang kecepatan berhitung dan analisanya di atas normal sekaligus mampu mengkoordinasi jari-jari tangan untuk bermain piano, biola atau gitar dan menghasilkan nada yang indah? Bagaimana jika dalam otak sama itu juga mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah tulisan yang sangat memikat? Lalu bagaimana jika melalui otak yang sama, mampu dihasilkan karya seni seperti lukisan, fotografi, dan masakan yang lezat (ya, "dan", bukan "atau")? Otak yang sama tersebut, juga mampu mengkoordinasi gerakan tubuh dengan sempurna sehingga gerakan-gerakan tubuh seperti lari, senam, ataupun berenang yang dilakukan adalah gerakan-gerakan yang nyaris sempurna tanpa cacat.

I know few of them. Saya pernah menanyakan ke yang bersangkutan, bagaimana rasanya menjadi jenius seperti itu. Tapi saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, karena dia pikir dia juga sama dengan yang lain. Ya, whatever the answer, for me, they are special!

Tetap saja saya struggling dengan pertanyaan: how it feels to have a head with such brain inside? Bagaimana rasanya punya kepala dengan otak semacam itu di dalamnya? I mean, s/he can do almost all things that human beings have learned for the last centuries, sports, math, music, art, drawing, computer... (saya nyaris berpikir bahwa mereka adalah spesies yang lahir beberapa puluh tahun lebih awal)

Saat melihat (membaca, mendengar atau menikmati) karya-karyanya, saya benar-benar nyaris tidak bisa memercayai bahwa itu semua berasal dari 1 otak yang sama - 1 pribadi yang sama - 1 identitas yang sama. Wow!

Dan pada akhirnya, sayapun tidak bisa menahan untuk semakin kagum dengan penciptaNya - what a great privelege if we can serve and do something for HIS Kingdom?

(This posting is dedicated to a few genius friends I've ever knew, to a few students I've ever have, and... to a 14-years-old-bright-and-talented-little-girl I teach now, OsL).