Thursday, March 19, 2009

Gerakan 10ribu

Kisah Ani

Ani (bukan nama sebenarnya) adalah anak usia 11 tahun yang duduk di kelas 5 SD Negeri di dekat rumah. Tubuhnya lebih kecil dibanding teman2 sebayanya, nampak sedikit pendiam, namun amat cerdas. Jika teman2nya harus menggunakan buram untuk menyelesaikan soal2 matematika, Ani cukup memandang soal tersebut, lalu "somehow" jawabannya muncul di kepalanya. Dia tidak pernah mengenyam kursus aritmatik, kumon, sempoa atau sejenisnya. Boro2 kursus, sepulang sekolah dia harus bekerja membantu bapaknya yang bekerja sebagai tukang servis sepatu di pasar. Kadang dia membantu menggambar pola untuk sepatu yang diservis, memotong kulit yang hendak dijadikan sol, menjahit, mengelem, atau kalau sepatunya selesai ia segera mengantarkan ke rumah pemilik sepatu agar mendapat uang jasa perbaikan. Mimpi untuk masuk SMP pun dia tidak berani - "tidak ada uang", jawabnya pendek, sambil menggambar pola untuk sol sepatu yang sedang diperbaikinya.

Mungkin setelah lulus SD, bapaknya akan lebih melibatkan Ani dalam "bisnis servis sepatu"nya. Dari pagi hingga sore, Ani akan berada di gerobak kecil itu, membantu men-servis sepatu agar lebih banyak sepatu yang bisa diselesaikan. Beberapa tahun kemudian, Ani kecil sudah berusia 16-17 tahun. Ayahnya segera mengawinkannya dengan pemuda yang baik, lulusan SMP, yang bisa diharapkan untuk bisa melanjutkan "bisnis servis sepatu"-nya. Atau jika Ani sedikit beruntung, dia akan dilamar oleh pemuda yang bekerja di kantor sebagai cleaning service dengan upah 30ribu per minggu. Bekerja di kantor sungguh amat bergengsi bagi orang2 muda di situ - setidaknya bekerja di kantor berarti punya penghasilan tetap.

Hei, bagaimana dengan kecerdasan Ani yang luar biasa itu? Lupakan saja daripada miris membayangkan masa depannya kalau dia tidak berhasil melanjutkan SMP.

Padahal dengan kecerdasan yang sama, Marie Currie (Perancis) di tahun 1903 berhasil mendapatkan nobel fisika untuk teori radioaktif-nya. Dengan kecerdasan yang sama, Eugenia Malinnikova (USSR) memenangi 3 medali emas berturut-turut di IMO (Olimpiade matematika internasional) di tahun 1989, 1990 dan 1991. Dengan kecerdasan yang sama, seorang remaja putri Indonesia mendapatkan beasiswa studi di bidang Computer Science di NUS (Singapore), yang kemudian menjadi IT professional di salah satu international company dengan gaji 5 digit US$ per tahun. Dengan kecerdasan yang sama atau di bawahnya, saya bisa... [you may fill your own].

Saya miris membayangkan masa depan Ani (dan Ani-ani lain yang jumlahnya pasti ribuan di seluruh Indonesia). Saya membayangkan bahwa bantuan pendidikan Rp. 200rb per bulan, mampu mengubah masa depan Ani. Bukan hanya Ani, tapi juga nasib anak-anaknya ketika Ani sudah menikah kelak. Nasib generasi berikutnya akan berbeda jika Ani tetap dalam gerobak kecilnya menservis sepatu dibandingkan dengan jika Ani menjadi peneliti/ilmuwan yang kontribusi penelitiannya membantu banyak umat manusia. Pilihan hidupnya dimulai dari sebuah pertanyaan kecil yang berdampak besar bagi masa depannya "Adakah uang untuk melanjutkan SMP?".
---------------------------

Gerakan 10ribu

Nama gerakan ini adalah gerakan 10ribu. Idenya adalah menggalang sebuah "dana abadi" yang pengelolaannya diperuntukkan membantu anak2 seperti Ani. Setiap orang yang mau mendukung gerakan ini, memberikan uang Rp. 10ribu, satu kali - tidak boleh lebih dari Rp. 10ribu dan tidak boleh lebih dari satu kali! Setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama, yaitu 10ribu, satu kali.

Berapapun dana pokok yang terkumpul, tidak akan diutak-atik. Yang akan disumbangkan dan dikelola adalah interest/bunga dari dana pokok tersebut. Logikanya, dana pokok akan terus semakin bertambah seiring dengan bertambahnya pendukung gerakan ini... Lalu dana tersebut akan menjadi dana abadi yang semakin lama semakin besar jumlahnya. Dengan semakin besar jumlah dana pokoknya, maka semakin besar pula interest/bunga yang dapat disumbangkan dan akan semakin banyak anak terbantu untuk menyelesaikan studi mereka. Masa depan mereka akan berbeda karena ada orang2 yang rela memberikan 10ribu-nya.

Your 10thousand, can make brighter Indonesia.

Your 10thousand, can make a better generation.

---------------------------

Behind the scene

Saya pertama kali menyampaikan ide gerakan 10rb ini kepada seorang teman dekat saya 2 hari yang lalu. Saya menjelaskan cukup panjang sebelum akhirnya dia benar2 bisa menangkap esensi dari ide ini. Dia mendukung, dan menyatakan bersedia menjadi orang ke-dua (setelah saya) yang menyumbangkan 10rb-nya untuk mendukung gerakan 10rb ini. Saya katakan bahwa saya akan pikirkan masak2 sebelum me-launching gerakan ini - karena memang belum di-launching, baru sampai di kepala saya.

Lalu di kelompok mentoring, saya melontarkan ide ini yang langsung disambut baik oleh rekan saya - She thinks that it's a brilliant idea. Lalu beliau memodifikasinya menjadi gerakan 100rb yang diperuntukkan bagi 5.000 link network beliau yang adalah pengusaha yang tersebar di seluruh dunia (hitungan kasarnya 5.000 x 100rb = 500jt, dan setiap bulannya bisa mendapatkan bunga sekitar 2-3jt - cukup untuk bisa bantu 10-15 anak - dan dana pokoknya tidak akan pernah habis karena pengelolaan dilakukan hanya pada bunga yang didapat).

Kalo saya punya banyak dukungan, I might create a website about this "gerakan 10ribu". Setiap pengunjung akan bisa melihat bagaimana cara bergabung, siapa saja yang telah bergabung, berapa banyak 10rb yang telah terkumpul, laporan keuangan secara transparan, dan tentunya list anak2 yang telah terbantu - (termasuk kisah latar belakang anak2 tersebut - hopefully I can track them until they graduate and have a good career - how the money finally can help them to have a brighter future).

What do you think, friends?

No comments:

Post a Comment