Saturday, March 28, 2009

Just Beat It, beibeh...!

Menunggu itu nggak enak. Saya dua minggu ini nunggui hasil test iBT TOEFL saya. Setiap kali buka personal page saya, selalu deg2an. Soalnya pas test itu saya ngerasa nggak well perform. Ada banyak missed bukan karena nggak bisa, tapi karena nervous ato nggak konsen - trust me, the situation when you're taking the test is totally different with your daily study. Especially the pressure! The energy to overcome the pressure makes you can't concentrate well (terutama kalo inget udah bayar $150).

Selama 2 minggu, saya rajin buka personal page saya... Tapi score-nya masih not avalaible.

Padahal, buka halamannya itu sambil merem2... Ngeri liatnya... Ngeri kalo nggak bisa sampe syarat minimum buat ngajukan beasiswa. Buat bisa ngajukan aplikasi beasiswa Ph. D-nya Fulbright, syarat pertama TOEFL-nya 575 (Paper Based TOEFL). Uni di Aussie juga sama, syarat jadi Ph. D students-nya adalah dapet skor International TOEFL 575. Mereka nggak mau nerima yang TOEFL2-an. Mereka hanya mau terima yang TOEFL asliiiii ato IELTS.

Itu buat saya bener2 syarat yang sadis...! Saya dulu waktu ambil Institusional TOEFL (ato TOEFL2an yang agak2 resmi), score-nya cuman 560. Padahal itu paper based, yang cuman nguji 2 skill, reading dan listening. Apalagi iBT TOEFL yang nguji 4 skill, listening, reading, speaking dan writing. Makanya saya rada deg2an setiap kali mo ngeliat scorenya.

Dua minggu nggak ada kabar, sampe hari Jumat sore, tanggal 28 Maret - setelah 2 minggu tepat sejak mengikuti test itu...

Loh, kok sudah Available...??? NOOO.... I'm not ready! Saya nggak kepingin buka... Ini pertaruhan waktu dan $150, kalo nggak bisa tembus 575, there's no way I can apply Fulbright scholarship this year. No time to take another test because the due date right on May 31st. It means, saya harus mengulang semua proses yang melelahkan taon depan...

Ternyata... skor-nya 90. Which mean equivalent to 577! Nggak ada skor yang less than 22 (karena beberapa Uni mensyaratkan nggak bole ada komponen yang kurang dari 22) . Writingnya di luar dugaan, mungkin apa yang saya sebut bagus itu nggak bagus secara academic menurut para reviewer-nya. Ya, whatever.

Saya bener2 ngerasa berjalan dalam AMAZING GRACE - kasih karunia. I did the best, God does the rest. Thanks God, I passed TOEFL score requirement. Next step will be dealing with the application form.

----------

Couple months ago... one day, a conversation between a-damn-english-expert-lecturer, Dr. Patris Dj (PD) and a desperate TOEFL test taker student (WS).

WS: [Desperate voice, setelah test institusional TOEFL dan ternyata cuman dapet 560] Waduh, Pak, TOEFL itu susah ya... Saya udah blajar, tapi ya cuman dapet 560...

PD: Harus banyak baca, dengar, ngomong, dan nulis. Itu nanti kan jadi integrated skill. Semakin keempat skill itu diasah lama2 ya pasti bisa. [His calm voice calm down that desperate student]

WS: Bener juga ya Pak...

PD: You have good potential...

WS: Tapi score TOEFLnya masih jelek Pak... Gimana ya caranya beat toefl score?

PD: Ya... just beat it. [Smile]

----

I beat it, Pak! I just beat iBT TOEFL... :)

Monday, March 16, 2009

Pengalaman test iBT TOEFL

I believe this posting will be useful for those who want to take iBT TOEFL... And since you want to take iBT TOEFL, I assume that you already overloaded, loathe/sick with all the iBT TOEFL English materials. So, I'm not going to make vomit in front of computer. I will make it easier by writing it in Bahasa.

Pertama, kenapa orang repot-repot ambil iBT TOEFL dan rela ngeluarin duit $150 (mana dolar naek terus lagi) lalu sampe di ruang test, mereka di-plokoto, mesti melototin monitor dengan headset terpasang lalu disiksa ngerjakan soal2 yang jelas2 bukan bahasanya sendiri selama 3.5 jam non-stop dengan resiko kencing batu karena nahan pipis?

Motivasi orang beda2. Ada yang rencana mau sekolah di luar, dan sekolanya mensyaratkan nilai TOEFL-nya sekian ratus. Tapi sekolah itu nggak mau TOEFL yang TOEFL-TOEFLan, maunya TOEFL yang asli, yang namanya iBT ato internet Based TOEFL. Jadi dia terpaksa mau disiksa di ruang test iBT TOEFL. Kalo saya, laen lagi. Demi mengajukan aplikasi beasiswa AMINEF Fulbright, maka saya nekat ngambil iBT TOEFL yang harganya $150 ini. Ya... kalo saya dapet beasiswa Fulbright nantinya, total uang yang saya dapetkan kira2 $30.000 (nggak cash ya, dalem bentuk biaya studi, biaya hidup, uang saku, dll). Demi $30.000, apalah artinya $150. Masuk akal kan?

Kedua, gimana sistem score iBT TOEFL?

Skor maksimal adalah 120, yang dibagi jadi 4 bagian, yaitu reading (30), listening (30), speaking (30) dan writing (30)... universitas di Australia biasanya mensyaratkan minimal 79, sementara universitas2 di Amrik mensyaratkan minimal 100 (buset!).

Ketiga, ujiannya kayak apa?

Ujiannya 4 macem, pertama reading. Ada 6 bacaan dengan topik beda2. Bisa dari bidang sosial, kesehatan, teknik, seni, geografi, atau bidang studi apapunyang yang dipelajari manusia. Dari bacaan itu, kita disuruh jawab kira2 35 pertanyaan multiple choice.

Kedua adalah listening. Ada beberapa sesi, ada yang baca teks dulu, lalu dengerin lecturing baru jawab soal2, ada yang dengerin percakapan 2 pelajar tentang topik tertentu, ada yang murni dengerkan lecturing baru jawab pertanyaan. Listening ini yang menurut saya paling gampang dilatih. Medianya ada di mana2. Mulai dari film, musik, dengerin orang bule ngomong ato nonton berita di TV. Pengalaman saya, dengar 1 jam conversation setiap hari selama 2 bulan bakalan bikin peka di listening. It won't be hard, but needs practice.

Ketiga ini yang bikin amsiong. Speaking! Disuruh ngomong dengan topik yang nggak diduga (suara kita direkam). Waktu berpikirnya cuman 15-30 detik. Contoh: "Describe the place you want to visit in your hometown, and explain why!", coba kalian siapkan jawaban selama 15 detik, terus ngomong selama 45 detik (nggak lebih). Ato dengerin lecturing selama 2-3 menit, terus harus men-summary tentang apa lecturing-nya dalam waktu 60 detik doang, (kemaren saya dapet topik lecturing tentang kelelawar, keren to?... Saya nyaris mau summary film Batman terbaru, The Dark Night, tapi mengingat pertaruhan $150, saya batalkan).

Keempat... adalah writing. Nulis tentang 2 topik, satu adalah personal opinion dan satu lagi ada bacaan dan lecturing, lalu suruh nyari hubungan antara bacaan dan lecturing-nya, terus di-summary-kan.

Kira2 begitu. Jujur, saya ngerasa rada2 nggak pede bisa dapetin score 100. Reading-nya agak gelap, di sesi speaking-nya saya ngerasa lebih banyak ngeluarin energi buat ngatasi nervousnya ketimbang ngomong apa yang dimaui. Listening-nya agak terang, walopun ada beberapa yang missed. Yang paling terang benderang adalah writing, moga2 bisa full score di sini. Kalo ada kesempatan ngulang iBT TOEFL ini, pasti i can handle the nervous much better, and achieve higher score.

Oke anyone, sapa mau sponsori saya ngambil iBT TOEFL lagi...? (Kalo saya bisa tembus score 90 dan dapet beasiswa, ntar saya kembalikan 2x lipat - cash in US$, seriously loo... I'll do my best both in the test and scholarship application).