Wednesday, June 18, 2008

Quit and be a winner!

Vince Lombardi adalah seorang pelatih American football (which is different from Soccer). Slogan-nya yang sangat terkenal (bahkan sering diperdengarkan di Universitas ini) adalah: "Winners never quit and quitters never win". Yang kalo boleh saya terjemahkan dengan bahasa ala Windra adalah: "Kalau pingin menang, sukses, berhasil, punya duit banyak, bahagia jangan pernah menyerah dalam apapun, harus punya persistence, ketekunan, keuletan, daya tahan... Karena orang2 yang pantang menyerah yang keluar sebagai pemenang, sedangkan mereka2 yang berhenti nggak akan pernah menang dan get nothing in the end."

Setuju ya? (Boleh mengangguk-angguk kalo setuju)

Masak iya sih? Saya tidak setuju... Biar yakin bahwa kamu nggak salah baca, saya ulangi... saya TIDAK setuju sepenuhnya dengan pernyataan "Winners never quit and quitters never win.". Loh, bukannya saya yang selalu mengkampanyekan ketekunan untuk anak2 muda? menyemangati anak2 agar punya yang namanya keuletan? ngelarang mereka agar nggak gampang menyerah dan putus asa? Kok tiba2 jadi...?

Don't get me wrong... The statement is true in some aspects. Keuletan itu penting. Saya sangat respek dengan anak2 muda yang pantang menyerah, yang punya daya juang ketika mengerjakan sesuatu (beberapa mahasiswa saya, harus saya akui, daya juangnya dalam mengerjakan tugas sangat tinggi... to be honest, saya bahkan tidak punya level keuletan waktu saya seusia mereka).

Nah, yang saya permasalahkan itu adalah kalimat: "...quitters never win." Ini menyesatkan. Menyuruh orang agar jangan quit itu benar2 bikin sesat, bikin rusak masa depan. Saya beri contoh ya...

Case 1:
Seorang dokter spesialis penyakit dalam pernah mengeluhkan betapa beratnya hidup sebagai dokter... Pagi dinas di rumah sakit sampai siang. Istirahat sebentar, lalu sorenya harus buka praktek dengan pasien yang ngantri kayak kereta api. Larut malam, bahkan seringkali dini hari baru bisa tidur. Orang melihat dia sebagai dokter yang sukses, banyak duit... Tapi ternyata dia nggak puas, dia lelah lahir batin tanpa ada pilihan lagi. Ada yang pernah nanya ke dia, nggak puasnya di mana? Dia bilang, dia nggak suka dengan dunia kedokteran. Lalu kok sampai masuk kedokteran, bahkan sampe spesialis penyakit dalam segala? Dijawabnya bahwa dulu ortunya menyarankan masuk kedokteran karena bergengsi, keren, presitisius, bisa dapet duit banyak, jadi ya dia masuk kedokteran... Stelah lulus dari kedokteran umum, ya perlu juga lanjut ke spesialis karena memang begitulah seharusnya... Setelah dokter umum ya ngambil spesialis. Padahal dia tidak pernah tertarik dengan dunia kedokteran. Sekarang, dia nggak punya pilihan lagi selain menjalani hidup sebagai dokter penyakit dalam yang menurutnya membosankan. Dia "never quit" waktu sekolah di kedokteran, tapi you tell me, apa bisa dia disebut "winner"?

Case 2:

Ada sepasang suami-istri yang sudah punya seorang anak. Mereka dulunya berpacaran selama bertahun2. Waktu pacaran, si cewek tahu persis bahwa kepribadian yang dipunyainya nggak akan cocok dengan si cowok kalau nanti mereka menikah (kalo as a friend sih okay), sense of humour mereka beda -apa yang lucu buat cewek nggak lucu buat cowok dan sebaliknya-, status sosial mereka nggak sama, culture di keluarga juga beda,
perlakuan si cowok kurang baik sama si cewek, kurang bisa menghargai si cewek sebagai seorang pribadi -which is basically si cewek sangat perlu itu-, dan banyak perbedaan2 lain... Tapi mereka tetep berpacaran, finally menikah dan punya anak... Guess what, apa yang terjadi dalam hidup pernikahan mereka...? Si cewek harus ngeluarkan effort yang luar biasa besar to make the marriage work (karena si cewek merasa dirinya sebagai istri harus mengalah dan tunduk pada suami)... Si cewek rela untuk nggak menjadi dirinya sendiri agar pernikahan bisa berhasil dan tentu demi anak yang sudah dilahirkan. Apa mereka tahu resiko ini waktu mereka pacaran? Bisa jadi... Tapi mereka "never quit" waktu pacaran dulu, karena most likely mereka berprinsip "Winners never quit and quitters never win" (ato mungkin juga si cewek mikir, yah, udah kadung lama pacarannya, nanti kalo putus apa ada yang mau sama saya?). Kalau sudah begini, tell me, di mana letak "pemenang"-nya? Dengan ke-tidak-quit-an mereka, siapa yang jadi "winner"?

Case 3:
Lan Fang (nama asli) adalah seorang sarjana hukum lulusan Ubaya dan berprofesi sebagai insurance agent dengan karir yang menjanjikan. In the middle of her carreer as insurance agent, she quits. Dia berhenti total menjadi agen asuransi dan beralih menjadi penulis penuh waktu di tahun 2003... Yang menurutnya, di situlah dia bisa menjadi dirinya sendiri, katanya: "Aku ini ibaratnya ikan. Nah, sekarang aku seperti dicemplungin ke kolam. Wuih, tambah menari-nari lah aku dalam kolam..." Dia begitu menikmati dirinya as an author. Saat ini dia sudah menuliskan 6 buah novel, salah satu novelnya akan disinetronkan. Karya-karyanya dikategorikan sebagai karya sastra modern Indonesia yang digemari masyarakat sastra. Definetly Lan Fang adalah seorang quitter, tapi dia bukan loser. Ketika dia quit dari karir agen asuransi, tell me, "is quitter never win"?

Not to mention Thomas Alva Edison yang quit from his elementary school, Bill Gates yang quit dari sekolah hukum Harvard University, Jeff Bezos (founder of multi million E-Commerce business, Amazon.com, 110th richest man in the world) yang quit dari jurusan Fisika di Princeton University dan beralih ke computer science. For some aspects, statement "Winners never quit and quitters never win" is true. But in very often situation, we got to know exactly when do we have to quit.

Point-nya tentu BUKAN di quit-nya. Point-nya adalah kita harus TAU PERSIS KAPAN kita quit - especially if you don't like what you do and don't do what you like. The wise man, King Salomon once said, "To every thing there is a season...". So true.

Seperti halnya Lan Fang yang meninggalkan karir insurance agent, Thomas Alva Edison yang meninggalkan sekolah dasarnya, Bill Gates yang meninggalkan sekolah hukumnya, Jeff Bezos yang meninggalkan jurusan fisikanya... These people know exactly the time when to quit and they're the truly winners.

Agree or not?

1 comment:

  1. Good point, Pak Windra! Young people need a critical stance even about sayings that seem plausible.

    ReplyDelete