Sunday, December 3, 2006

Makan Sushi

Kamu boleh sebut aku "orang udik", tapi aku akan tetep lebih suka makan lemper ketimbang sushi. Kenapa? Here's the story...

Hari Sabtu kemaren, kami bertiga terdampar di Galaxy Mall II Surabaya. Aku, Yuli dan Keke. Salah satu tempat makan baru di sana adalah Su*** K**, yang menjual makanan ala Jepang. Nggak ada keinginan secuil pun dalam diriku untuk mencoba makanan Jepang. Tapi Keke ingin tau gimana makanan Jepang. Jadilah kami masuk ke tempat makan yang remang-remang itu.

Pada waktu kami masuk, tiba2 seorang pramusaji-nya berteriak dengan lantang... "Irasemeshe...!" Kami terkejut. Dugaanku, dia memanggil temannya yang bernama Ira, "Ira, kamu di mana seh...?" Dan dengan kompaknya, para pramusaji yang lain berhenti bekerja, menoleh kepada kami sambil meneriakkan kata yang sama, "Irasemeshe...!". Oh, begitu ya...? Jadi mereka mengira kami menyembunyikan temannya Ira? Please... Kami baru datang Malang dan kalian menyambut kami seperti itu...? Aku bahkan nggak tau siapa Ira yang kalian maksud. Dalam hati aku penasaran, siapa Ira...? Aku bertekad akan menanyakan ke mereka setelah selesai makan. Untuk sementara, biarlah Ira yang misterius itu tetap menjadi misteri.

Kami dipersilahkan duduk oleh seorang Mbak dengan name tag yang tertulis nama "Rosma". Sebenarnya ada pilihan duduk secara lesehan (seperti kalo kita makan ayam goreng lesehan) ato duduk di tempat duduk yang di depannya ada semacam conveyor (ban berjalan). Aku nggak tau istilah yang bener di rumah makan untuk ban berjalan itu apa... Tapi kami, orang elektro, menyebutnya sebagai Conveyor. Menurut teori, conveyor itu digerakkan dengan motor DC berdaya 24V, tapi lupakan tentang motor penggerak conveyor itu... Yang menarik adalah apa yang ada di atas conveyor tersebut. Ada piring2 kecil beraneka warna yang diletakkan di atasnya. Di piring2 itu, ada berbagai makanan dalam porsi kecil yang berbentuk "aneh"... Aku bisa mendengar piring-piring yang melewati kami satu per satu berkata, "Cobalah aku... cobalah aku..."

Aku mulai mengamati satu per satu piring yang lewat di depanku. Dua kerat daging ikan yang berukuran sebesar ibu jari yang diletakkan di atas piring berwarna pink lewat di depan kami. Sepertinya masih mentah. Lewat... Dua daging ikan sebesar jari tulunjuk yang diikat di atas sekepal nasi lewat lewat. Sudah ditangkap, mati pun masih diikat... Kasihan ikan itu... Aku memandang daging ikan itu dengan pandangan iba... Enam biji "lemper mini" yang diletakkan di atas piring pink lewat. Sepertinya pemilik restoran ini masih belum ahli membuat lemper... "Daun" yang digunakan pembungkusnya berwarna hijau tua dan tidak ada daging ayam di dalam lemper tersebut. Keke mengambil piring tersebut. Menawari aku "lemper" itu. Melihatnya saja, aku tidak berselera... Bagaimana mungkin mereka membuat lemper dengan bentuk seperti itu? Dari kejauhan nampak piring merah muda mendatangi kami. Di dalamnya nampak ada dua onggok "gorengan" yang berbentuk seperti gorengan bakso, hanya lebih tipis... This is it...! Aku tau, pasti ada sesuatu yang bisa aku makan... Piring itu mulai mendekati aku. Aku melirik orang2 di sebelah2ku dengan pandangan "Don't-ever-try-to-take-that-from-me". Piring itu semakin mendekati kami... dan akhirnya bisa kami raih. Keke mengambil "gorengan" itu satu, dan aku satu.

Aku agak cemas ketika mengamit "gorengan" itu dengan sumpit. Terlalu lembek... Dalam satu gigitan, aku segera tau knapa "gorengan" itu lembek. Di dalamnya bukan daging seperti gorengan bakso, tapi "ketan"! Ternyata itu adalah ketan yang dibungkus dengan rapi oleh telur dadar. Man...! Keterlaluan sekali. Dia mengecoh aku... Berpura-pura tampil sebagai "gorengan" yang nampaknya lezat, tapi ternyata ketan! Benar-benar ketan berkulit dadar!

Aku inget, papi dulu biasa beli ketan, di atas ketan itu ada parutan kelapa dan gula merah atau kacang bubuk. Nggak ada telur dadar di atasnya. Tapi ketan yang dibeli papi jauuuuhh lebih enak ketimbang "ketan dadar" ini.

Cukup sudah! Selesai. Habis nafsu makanku. Aku tidak akan mengambil piring berwarna apapun lagi di atas ban berjalan ini, kecuali... ada sepiring nasi rawon atau nasi soto yang lewat. Tapi sampai kami meninggalkan restoran tersebut, tidak ada tanda2 nasi rawon ato nasi soto yang akan lewat.

Fakta-fakta menarik tentang restoran Su*** K**:

  1. Warna piring mengindikasikan harganya. Bill akan dihitung berdasarkan warna dari piring yang diambil. Jika ingin murah, kamu bisa meletakkan piring kembali ke atas ban berjalan setelah mengambil isinya. Tips: lakukan dengan diam2 tanpa sepengetahuan pramusajinya.

  2. Lama satu putaran conveyor adalah 3 menit. Keke mengadakan percobaan untuk menghitung lama satu putaran dari conveyor dengan meletakkan bungkus sumpit ke atas conveyor. Bungkus sumpit kembali lagi melewati kami setelah 3 menit.

  3. Di atas meja, ada sebuah teko kecil. Di dalamnya terdapat krim berwarna hijau yang sangat mirip dengan es krim pandan. Tapi sekali lagi, itu tipuan. Kata Yuli itu adalah acar. Aku langsung shock ketika tahu itu adalah acar. Bentuknya benar-benar menyerupai es krim pandan!

  4. Dari empat piring dengan warna2 berbeda yang diambil (dan 3 gelas minuman yang kami minum), ternyata total yang harus dibayar tertulis 6 digit! Yang mana kalo dibelikan lemper, cukup untuk jadi konsumsi dalam sebuah rapat RT.

  5. Ira, "that-missing-person" ternyata adalah orang penting. Setiap ada tamu masuk, mereka langsung berteriak, "Irasemeshe!". Hingga kami meninggalkan restoran itu, Ira masih juga belum diketemukan. Malahan ketika kami pulang, mereka juga mencari Mas Ari... "Arigato goshaimas..." Jadi ada dua orang penting yang dicari di restoran itu, Ira dan Ari.

[Saran buat pemilik restoran Su*** K**:

  • Belilah buku resep membuat lemper dengan baik dan benar.

  • Cobalah rasakan ketan bubuk yang biasa dibeli papi, agar tau bagaimana rasa ketan seharusnya.

  • Tambahkan pada ban berjalan makanan lain seperti Nasi goreng, Bakmi, Soto, Rawon, Tempe goreng dan tahu goreng.

  • Tuliskan nama makanan di masing-masing piring dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, agar tidak ada orang terkecoh seperti kami]

NB. Kamu boleh panggil aku "orang udik" dan aku tetap lebih suka lemper dan ketan bubuk ketimbang ketan berkulit dadar...

No comments:

Post a Comment