Sunday, August 6, 2006

If you fail to plan, you plan to fail!

Time for meal friends! Aku baru saja selesai makan malam. Makan dalam arti yang umum, makan nasi. Loh? Emang ada makan yang dalam arti nggak umum? Yup, ada. Tebak... makan apa coba? Makanan untuk spirit kamu!

Siapa yang tahu bahwa manusia nggak cuman sekedar tersusun dari tulang, otot, dan darah yang ditutup oleh kulit? Secara fisik, iya. Tapi manusia nggak cuman sekedar fisik. Di dalam manusia ada jiwa yang juga perlu diberi makan. Jiwa ini makanannya beda ma fisik. Makanan untuk jiwa ini dalam bentuk kata2. Nggak heran kalo ada serial Chicken soup for the soul, sup ayam untuk jiwa. Kalo kamu beli bukunya, kamu nggak akan dapet semangkok sop ato seekor ayam. Kamu malah dapet kata2 yang nggak bisa dimakan. Tapi dari cerita2 yang ada di dalamnya, biasanya kamu jadi termotivasi, kamu jadi punya paradigma pemikiran yang baru, ngadepin hidup dengan lebih semangat... Itu salah satu makanan untuk jiwa kamu. Tapi ya yang namanya makanan, blom tentu juga semua orang suka. Aku ini termasuk orang yang cerewet dalam makanan (aku nggak mau seledri kalo makan pangsit, bakso ato soto, aku nggak mau cingur kalo makan rujak cingur, dan aku nggak suka bawang bombay). Makanan untuk jiwa juga sama. Nggak semua orang suka baca chicken soup for the soul. Beberapa orang, ngasih makan jiwanya dengan ngobrol ma orang laen. Kalo yang diajak ngobrol orang yang positif, ya jiwanya dapet makanan berkualitas. Tapi kalo yang diajak ngobrol orang yang negatif, ya jiwanya dapat makanan nggak sehat. Kita mesti pinter2 milih makanan untuk jiwa kita. Yang jelas, jiwa kita harus diberi makan, karena manusia nggak cuman fisik doang. Kalo pohon ato taneman, itu cuman fisik, nggak punya jiwa. Kamu nggak perlu ngasih buku chicken soup for the soul ato ngajak ngomong2 taneman di depan rumah kamu karena dia nggak punya jiwa. Ok?

Judulnya posting ini "If you fail to plan, you plan to fail!". Bikin rencana itu penting. Kamu tau nggak, bahwa yang paling sulit untuk mencapai suatu tujuan adalah membuat planning untuk tujuan itu sendiri. Kalo planning udah ada, njalani step2 yang ada di planning itu gampang, just a matter of time. Jangan heran kalo ada orang yang nggak suka bikin planning, prinsipnya what ever will be, will be. Que sera... ya terserah la... (dulu sisi2 plegmatisku sering membawa aku ke arah pemikiran what-ever-will-be-will-be, skarang sih, every single time that i have, i'll focus to fulfill my plans).

Ok, let's make a plan. Apa yang harus ditulis di to-do-list kamu?

  1. Write down your goals in DETAIL
    Ok, tinggalkan permainan what-ever-will-be-will-be. Kamu harus tau dengan detail apa yang ingin kamu capai. Harus bener2 spesifik! Kalo kamu nggak tau mau kemana, lalu gimana kamu isa mencapai tujuan? Lha wong nggak punya tujuan... Buat tujuan dengan jelas, spesifik dan detail. Lihat dengan imajinasi kamu. Jangan cuman sekedarnya. Ok, aku pingin lulus SMA... Jangan komplain kalo kamu akhirnya lulus 4 taon (lulus kan?). Ok, aku pingin dapet pacar... Jangan komplain kalo kamu dapet pacar yang [sori-aku-gak-tega-buat-nulis]. Ok, aku setelah lulus kuliah, aku pingin dapet kerja... Jangan ngeluh kalo kamu dapet kerjaan sebagai office boy ato office girl [ditega2kan-ngetiknya], itu kan kerjaan? Ok, aku pingin dapet pemasukan dari kerjaanku. Dapet 200rb sebulan juga pemasukkan. Intinya adalah spesifik. Dua tahun yang lalu, aku punya keinginan... aku pengen nulis sebuah buku komputer yang dijual secara nasional (dua tahun lalu sebuah, tapi tahun2 berikutnya aku udah spesifik jumlahnya). Itu goals yang spesifik, yaitu buku komputer (bukan novel ato komik) dan dijual secara nasional (bukan cuman dipake murid2ku). Kalo aku nggak spesifik... ya mungkin aku jadi penulis, tapi ya sekedar nulis, mungkin jadi penulis blogger amatiran, mungkin masih tetep nulis buku2 panduan yang blom tentu juga dibaca ma anak2. Setahun dari sekarang, aku udah punya planning bahwa aku akan memulai tesis, dan menyelesaikan 6 bulan berikutnya. Aku akan dapet gelar master dalam 3 semester. Inget film Bedezzled? Tokoh Brandon yang dikasih 7 permintaan dari si jinny. "I want to be smart, i want to be attractive..." dan si jinny mengabulkan. Brandon jadi cowok yang pinter, atraktif, kata2nya bikin banyak cewek tertarik... tapi, ups! dia gay. Karena nggak spesifik. Ask your self... Apa yang ingin kamu kerjakan, apa yang ingin kamu capai, apa yang ingin kamu punyai. Pikirkan dan tulis dengan detail!

  2. Stop with "What-If" scenario!
    Knapa orang males nulis rencana dengan detail? Simply karena mereka takut gagal. Mereka bermain2 dengan skenario "What-If". Gimana kalo aku nggak isa memenuhi target dari apa yang udah aku tulis? Gimana kalo aku gagal? Gimana kalo tujuanku nggak tercapai? Skenario What-If ini adalah karet penghapus yang sangat efektif. Apa yang udah kamu tulis dengan spesifik tadi, akan menjadi bersih terhapus dengan karet penghapus skenario what-if.
    "Setelah lulus kuliah, aku akan buka bisnis rumah makan di Malang." Ok, spesifik, bisnis makanan di Malang. Lalu muncul skenario "What-If". Gimana kalo nggak laku? Gimana kalo makanannya nggak disukai? Gimana kalo orang nggak mau beli? Katanya daya beli masyarakat berkurang, apa nggak sebaiknya ditunda aja dulu... "Ok, setelah lulus kuliah, let's see deh apa yang isa aku kerjakan..." See? Skenario what-if adalah karet penghapus yang efektif. Terus terang, aku juga ngadepin skenario "what-if" ketika punya rencana nulis buku komputer yang dijual secara nasional 2 tahun yang lalu. Gimana kalo naskahku ditolak penerbit? Gimana kalo bukuku nggak laku? Gimana kalo bukuku dicap orang jelek? Gimana kalo bukuku nggak sebagus kualitasnya dibandingkan buku laen?

    Gimana ngatasinya? Aku berbuat sesuatu dengan dasar "janji" bahwa aku akan jadi penulis. Janji dari siapa? Dari Tuhan. Ok, aku tau, terlalu rohani ya? Tapi buat aku itu satu2nya yang bisa menghapus skenario what-if dari pikiranku, nggak ada yang laen. Aku percaya, kalo Tuhan udah ngasih aku janji, ya Dia pasti ngelakukan itu untuk aku. Aku ngelakukan apa yang udah diwahyukan Tuhan dengan iman. Iman itu adalah dasar dari segala sesuatu yang nggak keliatan, kalo keliatan, aku nggak perlu iman untuk melakukannya. Justru karena aku nggak tau, tapi dengan dasar janji dari Tuhan, aku ngelakukannya. Janji Tuhan yang aku dengar itu nggak audible. AKu nggak pernah dengar suara Tuhan ngomong "Hei, anakKu Windra, kamu akan jadi penulis..." Nggak pernah. Lalu gimana aku tau kalo itu adalah janji Tuhan? Gampang aja, kalo kita sering berkomunikasi, intim, ngerti cara kerja Tuhan lewat firmanNya, senantiasa berhubungan lewat doa, pujian dan penyembahan, pasti dengan gampang nangkep janji Tuhan lewat hidup kita. Ketika kamu bilang, "Tuhan, aku pingin punya pacar yang gini... gitu... gini..." [spesifik], itu artinya kamu minta persetujuan dari Tuhan... dan kalo kamu [dalam berbagai cara] tau bahwa Tuhan bilang ke kamu "Yes my son, I agree!", maka satu kalimat itu akan menghapus SELURUH skenario what-if yang kamu punyai.

  3. Think about the reward!
    Dalam perjalan meraih tujuan, kamu pasti dengan gampang kecewa. Terutama karena semuanya nggak selalu berjalan dengan lancar. Tapi, you must know the value of your goals. Ask these three questions to your self!
    - What's my reward after I achieve the goals?
    - Why do I want it?
    - How do I feel when I get it?

    Ketika kamu kecewa karena keadaan nggak berjalan dengan baik, kamu bisa membayangkan reward yang kamu dapet ketika kamu berhasil. Bayangkan perasaan kamu ketika kamu berhasil mencapai tujuan itu. Dalam 3 hari terakhir, ada 5 temenku yang nanya, gimana rasanya kuliah S2? Jujur aku bilang ke mereka, dalam tiga minggu perkuliahan yang udah aku jalani, aku sama sekali nggak bisa enjoy dengan semua materi yang diajarkan. Aku harus belajar terus menerus untuk ngejar ketinggalan. Kalo pingin lulus 3 semester, aku harus menyiapkan tema untuk tesis (sementara aku masih nggak tau banyak bidang elektro). Jadi belajarnya harus dobel, mengejar ketinggalan dan menyiapkan tema untuk tesis. Aku berlangganan telkomspeedy agar praktis kalo mau browsing dan mencari materi2 yang diajarkan. Aku men-download puluhan thesis dan mulai mempelajarinya. Aku bener2 dengan gampang jadi down. Aku udah ngelewati masa "menuliskan dengan detail rencana", aku udah berhasil menghapus skenario "what-if"... dan u know, skarang aku ngadepi banyak ketidaknyamanan yang dengan gampang isa bikin stress, putus asa, down... Yang aku lakukan adalah menanyakan these 3 magic questions:
    What's my reward after I achieve the goals? Kalo aku lulus dan dapet gelar MT (Master Teknik), a. Aku akan bisa mengajar sebagai dosen luar biasa (tanpa harus ngantor dari Senin sampai Sabtu, seperti yang aku inginkan dari dulu). b. Dengan nggak perlu ngantor, aku akan punya waktu lebih banyak waktu untuk keluarga. c. Kalo aku nulis buku, akan lebih mudah disetujui oleh penerbit dengan embel2 "MT" di belakang namaku.
    Why do I want it? Aku perlu ilmu di kuliah pascasarjana ini untuk kepentingan mengajar. Aku nggak akan bisa mengajar kalo aku nggak kuliah dan belajar dengan bener.
    How do I feel when I get it? a. Aku ngerasa prestisius! Aku bangga. b. Papi mami juga bangga kalo aku berhasil dapet gelar MT. c. Satu pihak lagi yang bangga atas gelar MT yang nantinya aku dapatkan... yaitu: "you-know-who-she-is", hehe2... (sbenernya ada lagi reward yang aku pikirkan, aku kepingin di undangan pernikahanku nanti tercetak nama, "Windra Swastika, SKom. MT", em, kalo bisa "dr. Windra Swastika, SKom. MT", hehe2...) Jadi, whenever you feel discourage, ask and answer those 3 magic questions.

  4. Desire in pray!
    Aku selalu membawa semua rencanaku dalam doa. Aku cuman berpikir bahwa aku nggak bisa lagi mengandalkan diriku sendiri. Aku perlu persetujuan dari Tuhan untuk apapun yang aku rencanakan... Kayak seorang pegawai yang ingin sesuatu, lalu dia bikin proposal untuk bos-nya. Jika bos-nya ngeliat bahwa proposalnya baik untuk kepentingan perusahaan, maka pasti bos itu akan setuju dan dukung sepenuhnya, baik dalam birokrasinya, dalam biayanya, ato dalam koordinasi dengan pegawai lain. Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Serahkan semua yang hendak kita kerjakan, kita rencanakan ke dalam tangan Tuhan... Kita minta persetujuan Tuhan atas apa yang mau kita lakukan dalam doa. Kalo Tuhan setuju, dia pasti backup dan support kita sepenuhnya... He is a great God. Nothing impossible in Him. Amen!

  5. Discipline your personality
    Ok, one last question... "What kind of personality I should have to achieve my goals? " Kalo semua tujuan udah kamu tulis dengan detail, semua skenario what-if udah kamu hapuskan, kamu udah bisa bayangkan reward yang kamu dapetkan, dan kamu udah doa... one step more! You have to discipline your personality. Kamu nggak mungkin dapet pasangan hidup yang udah kamu tulis dengan detail itu kalo kamu punya personality yang buruk. Kamu nggak mungkin bisa berhasil dengan bisnis yang udah kamu rencanakan kalo kamu males. Kamu nggak mungkin bisa jadi seperti apa yang ingin kamu capai di goals kamu kalo kamu nggak punya personality yang menunjang. Tanya ke diri kamu: What do I need to change in my personality. Mau kan?

Ok, keputusannya ada di tanganmu. Masih mau bermain dengan "what-ever-will-be-will-be" ato mulai dengan rencana. Inget, if you fail to plan, you plan to fail...!

[buat the-inspirator-of-this-posting: thanks buddy!]

No comments:

Post a Comment