Wednesday, July 5, 2006

Universitas Yang Bikin Stres

Kalo ada universitas yang paling bisa bikin aku kepikiran terus, nggak tenang, dan susah tidur, pastilah itu Universitas Brawijaya. Loh kok? I give u some reasons.
Alasan pertama, jadwal mengumumkan penerimaan mahasiswa baru untuk program pascasarjana di Brawijaya yang katanya awal Juni, ternyata nggak terlaksana. Janji tinggal janji. Kalo kata Bu Lina, itu namanya "janji pria" (dan memang petugas administrasinya adalah seorang pria). "Janji pria" ini bikin aku nggak tenang. Soalnya, diterima ato nggaknya aku di pascasarjana ini menentukan langkah yang aku ambil berikutnya. Kalo diterima aku mo nggak ngajar dulu agar konsen kuliah, tapi kalo sampe nggak diterima ya... aku akan berenti ngajar... (loh, sama aja ya?). Nah, gara2 pengumuman yang mundur ini, sementara Bu Lina (sang manajer) perlu keputusan secepatnya apakah aku tetap mengajar ato nggak demi keperluan administrasi sekolah, akhirnya ya aku putuskan untuk NGGAK ngajar kelas pagi.
Mereka menjanjikan lagi, akhir Juni. Jadilah dari awal Juni sampe akhir Juni aku mengalami penantian tak berujung gara2 "janji pria". Ketika akhir Juni, pengumuman apa aku diterima ato nggak masih belum kunjung datang. Nah, gimana bisa tidur tenang coba?
Alasan kedua, baru tanggal 4 juli kemarin, sepucuk surat dengan header amplop Program Pascasarjana Brawijaya tiba di rumah. Mami yang nerima amplop itu, lalu ngasih amplop itu ke aku. Bahkan mami dengan gampang nebak isinya, "Diterima S2 di Brawijaya ya?". Waktu aku buka, memang aku dinyatakan diterima (tentu ada hal2 administrasi yang harus diselesaikan, terutama duit). Padahal seharusnya, aku nerima amplop itu tanpa sepengetahuan mami ato papi. Lalu (rencananya), ngasih surprise bahwa anak cowok satu2nya ini, berhasil diterima sebagai mahasiswa pascasarjana brawijaya (lalu skenario berikutnya, papi & mami berkata "Oh, pinternya anakku..." dengan wajah berlinangan yang air mata kami saling berpelukan... Ok, cukup2, jangan membayangkan lebih...!) Tapi karena mami udah tau dulu, ya unsur surprise-nya langsung ilang lenyap tak berbekas. Aku cuman isa bilang "Iya mi, diterima..." dengan wajah tapres (tanpa ekspresi)... Lalu mami bales, "Wah, jadi kalo mesin jait mami ngadat, bisa dibetulin ke kamu ya...?" [gabrukkzz, knapa nggak servis setrika sekalian aja mi...?]
Alasan ketiga kenapa universitas Brawijaya adalah universitas yang bikin orang stress adalah bahwa setelah aku perhatikan dari daftar nama, ternyata teman2 yang satu jurusan dengan aku (yaitu teknik elektro terapan), adalah pria, yang mana itu artinya berjenis kelamin sama dengan aku. Bayangkan, setiap kali kuliah, kamu akan berada di ruang yang sama dengan puluhan orang yang berjenis kelamin yang sama dengan kamu, lalu berstatus stw (setengah tuwa) kemungkinan besar merried, yang membosankan, yang sama sekali nggak funky, yang nggak bisa diajak jalan2 ato berdiskusi tentang cewek, dan itu akan berlangsung selama 3 ato 4 semester ke depan (ya, dua taon!), lalu diajar oleh dosen yang kemungkinan besar juga pria, berstatus stw juga... Kebayang nggak suasana kelasnya? Udah pengumuman telat, dapet temen2 pria semua, masih diarepin jadi tukang servis mesin jait lagi... Knapa aku nggak milih masuk jurusan pertanian ato perhutanan aja sekalian?
Alasan keempat adalah alasan pribadi. Cewek ini (the-girl-who-still-remain) dan cewek in (the-girl-who-has-initial-name-P), adalah cewek yang kuliah di jurusan yang sama, angkatan yang sama, kelas yang sama dan sama2 punya kepribadian sanguin/kolerik. Keduanya berhasil mengaduk2 hormon adrenalinku selama berbulan2. Mereka berdua kuliah di universitas yang sama... dan apa bisa kamu tebak nama universitasnya...? Yap betul, nama universitasnya adalah... BRAWIJAYA!
Bener kan? Kalo ada universitas yang paling bisa bikin aku tertekan, ya universitas Brawijaya ini...
[buat aku deh: calm down, take a deep breath...]

No comments:

Post a Comment