Sunday, May 21, 2006

Frenemy

Coba tebak, apa arti dari frenemy? Kalo diliat di kamus Ing-Ind nggak bakalan ada. Yang paling deket dari kata frenemy itu kata frenetic yang artinya hingar-bingar. Tapi frenemy di sini nggak ada hubungan sama sekali dengan hingar-bingar.

Frenemy itu aku pakai untuk mengistilahkan friend yang ternyata adalah enemy. Okelah, dalam bahasa Indonesia boleh disebut dengan TTM... Loh kok? Maksutnya bukan Temen Tapi Mesra (kayak lagunya Ratu), tapi Temen Tapi Musuh... Jadi kalo kamus Ing-Ind ada revisi, kata Frenemy ini bisa dimasukkan sebagai noun yang artinya adalah Teman Tapi Musuh (TTM).

Kebayang nggak sih kamu punya temen tapi musuh? Ato jangan2 kamu langsung isa nyebut nama2 frenemy yang kamu punya...? Entar deh... Karena frenemy adalah istilah baru, mari kita sepakati terlebih dulu siapa saja yang dapat dimasukkan ke dalam frenemy ini.

  • Frenemy #1. Temen yang di depan kamu kliatan baik, suka muji2 kamu, tapi di belakangmu ternyata ngomong yang jelek2 tentang kamu.
  • Frenemy #2. Temen yang nggak mau berkorban, maunya nyari keuntungan melulu dari kamu. Prinsipnya "Kalo bisa nggak bayar, knapa harus bayar...".
  • Frenemy #3. Temen yang kalo diajak ngobrol, mesti kalimatnya negatif melulu. Suka mengkritik dan menjelek2an orang lain.
  • Frenemy #4. Temen yang selalu fokus ke dirinya sendiri. Nggak punya rasa simpati ke temen laen. Nggak peduli ma temen, tapi kalo dia lagi ada masalah, pinginnya temen2nya pada perhatian ke dia.
  • Frenemy #5. Temen yang nggak pernah mau disalahkan. Selalu merasa bahwa dirinya adalah yang paling bener dan selalu menghindari tanggung jawab.

Kebayang? Pernah punya frenemy nggak? Sukur kalo kamu nggak pernah punya frenemy ini. Tapi kalo punya frenemies (jamak), waaa... nggak kebayang deh repotnya... Orang punya satu frenemy aja kadang udah bikin stress... Tapi oke deh... Kita nggak hidup di perfect world di mana semua temen kita adalah temen2 yang tulus, yang baik, yang siap membantu... Nggak... Bumi yang kita injak ini adalah suatu lingkungan yang jauh dari sempurna. Mau nggak mau, suka nggak suka, kita akan ketemu dengan frenemy2 yang bakalan ada di sekitar hidup kita (dan mengacaukan hidup kita).

Jadi kamu jangan heran deh kalo kamu ketemu ma temen yang ternyata frenemy. Eh, ngomong2, frenemy ini kayaknya bisa jadi adjective juga... Misalnya, "Tono itu ternyata frenemy banget ya..." ato "Dia itu nggak se-frenemy yang kamu kira...", ato sebagai degree en comparison, "Kayaknya Tono lebih frenemy ktimbang Hasan deh..."

Ok, jadi selain sebagai Noun, frenemy juga dapat berfungsi sebagai adjective. Kalo verb bisa nggak ya...? "Dulu gua emang nge-frenemy-in dia... Tapi sekarang nggak lagi kok..." Kalo verb, berarti mesti punya V1, V2 dan V3... Biar gampang V1-nya frenemy, V2 dan V3-nya frenemied.

Loh, kok jadi pelajaran berbahasa...? Where was I? Oh, iya kita nggak pernah bisa menghindari para frenemy selama kita nginjak bumi ini. They always there and then slowly ruin your life. Karena mereka selalu ada, ya aku pikir, kitanya aja yang perlu ngubah mindset (dan bertindak dengan tepat) kita kalo ktemu ma para frenemy ini (sebelum mereka mengacaubalaukan kehidupan kita)...

Pertama, kalo kamu ketemu ma frenemy dari jenis spesies apapun (baik spesies type #1, #2, #3, #4, ato #5), jangan masukkan dia ke dalam ring friendship. Tentang pembagian ring pertemanan, kamu bisa baca di sini. In case udah kejadian dan kamu terlanjur memasukkan dia ke dalam ring friendship, ya keluarkan aja dari ring friendship kamu. Letakkan dia di ring make contact ato introduction yang nggak perlu dikontak sama sekali. Gampangnya sih, kalo ketemu frenemy, nggak perlu dideketin ato diakrabi... Kamu nggak perlu kuatir nggak punya temen... Kalo kamu nggak punya potensi untuk jadi frenemy, ya kamu pasti punya banyak temen. That's rule. Selama kamu punya good attitude, nggak berpotensi jadi frenemy, ya pasti orang akan seneng berteman dengan kamu. Tapi kalo kamu punya potensi jadi frenemy, ya jangan heran kalo kamu bahkan nggak punya temen di ring make contact. Temen kamu bahkan akan malas untuk sekedar mengontak kamu.

[tapi by the way, aku kok jadi mikir bahwa sebenernya kita semua ini punya potensi untuk jadi frenemy... baca lagi deh ke-5 jenis2 frenemy tadi... kayaknya ada semacam sifat alami dari kita yang merasa "enak" kalo jadi frenemy. tul nggak? ato cuman aku aja yang ngerasa? tapi seandainya emang potensi/benih untuk jadi frenemy itu beneran ada dalam diri kamu, ya... demi menjaga ketentraman lingkungan bersama, nggak perlu dikembangkan]

Kedua, kalo kamu ketemu frenemy, kamu mesti cek diri kamu kamu. Jangan2 kamu itu juga termasuk dalam golongan frenemy (entah yang jenis #1, #2, #3, #4, ato #5). Nggak heran kalo seorang frenemy di-frenemy-i oleh orang lain. Kalo ternyata kamu beneran frenemy, ya kamunya mesti berubah dulu dunk. Jangan keburu2 nge-judge orang laen sebagai frenemy (of the state) kalo kamu sendiri adalah frenemy. Kalo katanya Josua, "Jeruk kok makan jeruk", maka ini namanya Frenemy makan frenemy...

Ketiga, punya frenemy itu ada baiknya juga kok. Buat aku, seorang frenemy itu bisa aku gunakan untuk mengaca. Maksutnya dari frenemy itu aku bisa membentuk dan mengubah karakterku. Aku jadi ngerti bahwa tindakan2 yang dilakukan frenemy (jenis apapun) ke aku, ternyata nggak disukai orang lain. Aku jadi tau, "Ooo... ternyata kalo nge-jelek2an orang laen itu bikin sakit ati orang yang di-jelek2an to..." Aku kan nggak akan ngerti sakitnya dijelek2an di depan orang kalo nggak ada frenemy yang ngelakukan itu ke aku? Nangkep nggak? Maksutku, whatever yang dilakukan frenemy ke kita, itu isa jadi patokan buat kita bahwa hal itu nggak baik. Kita jadi isa ngukur bahwa tindakan yang dilakukan frenemy tersebut bener2 bikin kita tau bahwa itu nggak disukai. Kita nggak pernah tau rasanya sakit kalo kita nggak pernah disakiti. Kita nggak pernah tau nggak enaknya dijelek2kan di depan orang kalo nggak pernah di-frenemy-i oleh frenemy #1. Karena kita udah tau nggak enaknya, that's why kita berusaha agar nggak jadi frenemy. Kita berusaha mengikis karakter2 yang mengarah ke frenemy. Jadi potensi2 untuk jadi frenemy itu mesti dipendam dalam2.

[buat para frenemy:
Peringatan Windra (walaupun tidak ada bukti2 medis yang mendukung):
Frenemy (as a verb) dapat menyebabkan stress, depresi, kehilangan teman, gangguan mental dan kejiwaan serta hilangnya sukacita. Jika gejala frenemy berlanjut, segera berkonsultasi dengan psikolog terdekat."
]

No comments:

Post a Comment