Sunday, April 2, 2006

Pentas Seni 1 April 2006

[Pentas Seni 1 April 2006, 18:36pm]

Aku en Susan (sebagai seorang sanguin, Susan ini temen funky, gaul dan asyik. Diajak kemana2, selalu ok) duduk di baris ketiga dari depan. Aku ingin mengamati pentas seni ini dari dekat. So, I also brought my camera dan siap memberikan reportase langsung...

Dan... Pemirsa, Inilah dia...

langsung dari lapangan tengah SMAK Kolese Santo Yusup,

mempersembahkan...

[kamera menyorot pada wajah seorang cowok imut]

"Selamat malam pemirsa. Nama saya Windra. Mengajar TIK Kelas X, eh... nggak penting ya? Ok, di sebelah kanan saya saat ini duduk seorang mahasiswi UBAYA semester 8 jurusan Akuntansi, bernama Susan..." [kamera menangkap wajah seorang cewek berambut pirang yang tersenyum2 dengan gokil di depan kamera] dan duduk di sebelah kiri saya adalah... loh, kok kosong?".

Catatan: ternyata emang sebelah kiriku nggak dikasi kursi karena space itu dibuat jalan agar orang2 yang sedang dalam keadaan darurat (seperti kelaparan, pipis, ngantuk) dapat segera keluar dari deretan kursi.

"dan... mari kita saksikan bersama... Pentas Seni 2006 SMAK Kolese Santo Yusup..."

[kamera menyorot ke arah stage]

MC: "KITA SAMBUT... DANCE... TAKE THE 'BEAT'...!"
[penonton bertepuk tangan riuh dan musik mulai berdentum-dentum]

Windra: "San, san... " [memanggil Susan]
Susan: "Apa Win?"
Windra: "Kok ada dance "take the bitch"? Ini kan acara pentas seni anak SMA? Masak ngelibatkan 'bitch' segala..."
Susan: "Bukan "BITCH", tapi 'BEAT'..." [kata Susan]
Windra: "Iya... 'BITCH' kan? Gimana sih...? Mbok ya pake nama yang sopan... Emang nggak ada nama laen kalo bukan 'BITCH'... Ck..."
Susan: "Eeeeeh.... Kamu itu... Dibilangi 'Beat'... 'Beat' Win... 'BEAAT'...!" [setengah berteriak, agak emosi]
Windra: "Iya... makanya itu aku nanya kamu. Kok bisa dapet nama 'BITCH' ya?"
Susan: "BEEAATTT...!" [teriak Susan emosi]

Lalu di layar muncul teks "DANCE Take The Beat".

Windra: "Looo... San, ternyata 'beat'... bukan 'bitch'. Kamu itu mbok ya ngomong dari tadi kalo itu 'beat'..."
Susan: [Gdubrak...! Terjengkang dari tempat duduknya]

Tapi segerombolan anak tiba2 datang. Beberapa cewek dan beberapa cowok, yang "sangat berbudaya Indonesia" masuk menuju baris di depanku...
A: "Eh... duduk sini yuuk. Kliatan jelas lohh..." [sambil menunjuk deretan kursi yang ada di depanku]
[ya, dan kamu menghalangi pandanganku]
B: "Eh, bener lo... jelas di sini... Yuk... yuk..." [menggandeng tangan cowoknya untuk duduk di deretan kedua]
C: "Geseran dikit dong..."
[geser dikit lagi, dan aku akan bisa melihat ketombe di kepalamu dengan jelas!]
A: "Ini masih ada tempat... Yuukk... duduk di sini smua. Masih cukup kok"
D: "Iya, biar kita isa deket2"
E: "Enak ya, duduk depan jelas..."
[kenapa nggak bawa kursinya sekalian ke panggung en nonton dari di panggung aja?]
F: "Eh, liat tuu... Cowok itu, kuerreeeenn yaa... kelas brapa sih? Loe kenal gak?"
A: "EEhhh... kursinya digeser2... itu kan masih ada yang kosong. Kamu isi..."
C: "Iyah, kursinya digeser aja"
B: [menggeser kursi, agar saling berdekatan]

Pensi1_1 Dan, space kosong tempat jalan darurat tadi segera tertutup dengan sebuah kursi. Dengan tanpa dosa, D duduk di situ, mem-buntu jalan darurat tadi. Hmmm... Jadi begitu ya...? Aku kalo mau keluar untuk mendekat ke panggung, harus melewati beberapa orang karena jalan darurat tadi tertutup oleh sekawanan penyamun yang "berbudaya Indonesia" ini. Greaaat! Bagus sekali. Gimana kalooo... mereka aku suruh beli gorengan di Surabaya buat camilan...?

[Parodi Rama dan Shinta]
Rama: Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Sinta berdua denganmu.
Adik Rama: Baiklah, jika kakanda tidak mempercayai aku, aku akan mengebiri diriku...
Lalu nampak adegan Adik Rama mengeluarkan alat yang masih diragukan bentuknya, tapi penonton diarahkan untuk menduga bahwa itu adalah ponsel.
[Tututut.... tututut...] Terdengar bunyi nggak jelas. Menurut Susan, bunyi itu adalah klakson mobil di tempat parkir, sementara aku menduga itu adalah bunyi kentut. Tapi kami berdua salah, ternyata itu bunyi alat yang dipercayai sebagai ponsel tadi...
Adik Rama: "Hallooo..."
Dokter cewek: "Halo... "
[adegan basa-basi]
Adik Rama: "Saya ingin dikebiri, apa bisa?"
Dokter cewek: "Ooo... Bisa"
Adik Rama: "Berapa biayanya?"
Dokter cewek: "Biayanya tergantung dari besarnya, semakin besar ya semakin mahal"

Susan bingung dengan dialog tadi. Jadi kami sedikit berdiskusi.
Susan: "Win, maksudnya itu, tergantung dari besarnya apa sih?"
Windra: "Oooo... itu sih tergantung dari besarnya tangan ato besarnya kaki orang yang mau dikebiri" [kataku sok tau]
Susan: "Oooo... Gitu..." [manggut2] "Jadi kalo tangan ato kakinya gede, ongkosnya mahal dong?"
Windra: "Bener banget... Ukuran tangan ato kaki menentukan mahalnya ongkos dikebiri..." [sok tau lagi]
Susan: "Ngomong2 Win, dikebiri itu diapakan sih...?"
Windra: [bingung] "Aduh... mana aku tau San... Aku juga blom perna dikebiri..."
Susan: "Nggak mau nyoba dikebiri Win?"
Windra: "Kliatannya itu kegiatan yang nggak enak. Jadi nggak deh, makasih..."

[Kembali ke parodi Rama dan Sinta]
Dua orang anak membawa kain putih bertuliskan 21++ / Sensor, menutupi adegan operasi penge-bir-an tadi.
Dokter cewek: "Waduh... Kalo ini, ongkosnya bisa mahal...!"
Adik Rama: "Ya udah. Nggak papa..."

Ada sebentuk objek lonjong ditampakkan pada saat adegan penge-bir-an tadi. Dugaan Susan itu adalah hasil dari operasi penge-bir-an tadi, sementara aku berpendapat lain.
Susan: "Win, itu tadi yang ada objek lonjong berarti operasi penge-bir-annya sukses ya?"
Windra: "Bukan San... Itu tadi pisang. Dokternya nggak mau dibayar pake uang, jadi dia lebih suka dibayar pake pisang..."
Susan: "Oooo... Gitu..." [manggut2] "Kalo gitu... Kamu kalo mau dikebiri di dokter itu aja Win... Murah kan bayarnya pake pisang."
Windra: "Iya ya... Daripada pake uang, mending bayar pake pisang..."
Susan: "Di rumahku ada setandan pisang, bisa untuk operasi penge-bir-an-mu 10 sampe 20 kali..."
Windra: "Ok San... Nanti ingetkan aku nanya nomer hape dokternya setelah acara ini selesai... Tapi ngomong2... Kita mesti tau dulu definisi 'dikebiri' itu apa..."
Susan: "Ya sudah... Nanti aku coba cari informasi"

[Parodi Rama dan Sinta selesai dengan masih menyisakan beberapa misteri:
1. Berapa nomer hape dari dokter cewek tadi?
2. Apa definisi dari dikebiri?
3. Kenapa dokter cewek itu mau dibayar dengan pisang?
4. Ketika Sinta ditinggal sendirian dalam lingkaran ajaib, ada seorang nenek yang sedang sakit pinggang (padahal dia mau mengikuti lomba goyang dangdut di RT-nya). Pertanyaannya, apakah nenek tadi jadi mengikuti lomba goyang dangdut di RT-nya? Siapa yang akhirnya keluar sebagai juara di lomba goyang dangdut itu?
5. Setelah Sinta dibebaskan dari Rahwana, mereka segera merried. Tapi di mana resepsi pernikahan Rama menikah dengan Sinta? [Susan berencana menghadiri karena terharu dengan kisah Rama dan Sinta]. Misteri yang lain bisa dilihat pada foto.


Pensi2



Untuk pertanyaan ke-3, yaitu kenapa dokter cewek itu mau dibayar pisang, aku punya skenario jawaban. Kemungkinan dokter tersebut naksir Hanoman, si kera putih. Nah, buah kesukaan dari seekor kera itu kan pisang. Jadi dokter cewek tersebut, berusaha pdkt ke Hanoman dengan cara mengumpulkan pisang sebanyak2nya. Tujuannya pasti, Hanoman si kera putih itu bisa jatuh hati kepadanya (karena dia punya banyak pisang). Masuk akal kan?

Di luar pertanyaan2 yang nggak terjawab tadi, aku en susan enjoy the show. Terutama karena kami adalah tamu undangan yang nggak bayar. Yang mengherankan, justru kami yang nggak bayar ini malah diberi snack, sedangkan yang harus beli tiket dan bayar Rp. 15000, nggak dapet snack. Ooohh... kejamnya dunia [kalau saja aku bisa mengubah dua roti dan satu aqua di snak itu untuk memberi makan 3000 orang, pasti mereka semua akan aku beri snak...]

Yang perlu aku komentari di pentas seni ini (dari tadi itu blom komentar ya?), kebanyakan pemeran acara parodi, singer ato dancer tampil di stage dengan prinsip "just do it". Without spirit di dalamnya. Maksutku, ya mereka tampil karena mereka harus tampil (ato lebih parah lagi, ada yang karena terpaksa demi kelas). Hasilnya, performance yang ditampilkan hanya sekedar hafalan. Oh, setelah dialog ini, aku harus ini. Lalu ini, nunggu itu, pergi ke sini, berjalan ke situ... Nothing serious... Just do it without passion. Akibatnya, adegannya jadi hambar, seperti gerakan yang dihafal. Padahal, menurut aku, namanya pentas seni itu harus ada seni di dalamnya. Seni itu bukan sekedar hafalan gerakan ato hafalan lirik lagu ato hafalan kunci nada... Bukan itu. Harus ada jiwa seni ketika ngelakukan setiap adegannya. Jadi adegan parodi (ato musik ato dance) nya jadi hidup. Kalo hanya sekedar hafalan, penonton emang bisa enjoy, bisa ketawa... Tapi begitu pertunjukkan selesai, nggak ada lagi yang menancap di pikiran penonton, nggak ada kesan apa-apa. Bagus iya. Tapi berkesan? Tunggu dulu. (Bedakan dengan nonton konsernya The Corrs, MLTR, Shania Twain ato penyanyi nasional ato internasional lainnya, walopun lagunya udah perna didenger, tapi performance-nya itu bisa meninggalkan kesan yang dalem bagi penontonnya... That's art!).

Tapi aku nyatet, ada kok beberapa anak yang melakukan tugasnya dengan spirit seni di dalamnya (di parodi, dance dan singer). Setiap gerakan ato lirik lagu, dinyanyikan dengan spirit seni. Nah, itu baru namanya artist.

Overall, i enjoy the show.

Pensi3



[Buat **** yang pake kalung salib, beautiful...! I feel the art in every sing and every move of your performance. If you become an artist someday, in the next journey of your life, definitely I'll be your fans!]



No comments:

Post a Comment