Monday, February 13, 2006

Tendensi Cinta

Blog ini punya kategori baru yang (finally) aku kasih nama "Hebatnya-Cinta". Tadinya, mo dikasi nama "Things-you-won't-to-know-about-love" (mau diisi tentang hal2 negatif akibat CINTA), terus ganti lagi "All-About-Love" (which is garink banget), en ganti lagi "Semua-tentang-cinta" (which is tingkat ke-garink-annya selevel dengan "All-About-Love"). Akhirnya, jadilah kategori "Hebatnya-cinta". What's this category all about? Isinya, ya tentang cinta (yang di-inspirasi dari pengamatanku dan pengalamanku as well).

Tulisan pertama ini, judulnya Tendensi Cinta. Luamaaa banget aku pingin nulis tentang ini. Dan baru skarang baru isa nulis. Somehow, moment-nya tepat bersamaan menjelang valentine. Bukan kesengajaan loh (tapi mungkin karena nuansa valentine yang aku sering temui di jalan2, jadinya aku sering2 mikir tentang cinta en finally, jadilah blog ini).

Aku pikir aku harus menjelaskan kata tendensi ini dulu. Tendensi (bagi yang blom tau), asal katanya dari Bahasa Inggris, yaitu tendency. Aku cek di Webster's New World Essential Vocabulary (2005), definisi tendency ini adalah: propensity to move in a certain direction, an apparent moving toward some particular purpose. Yang kira2 kalo aku terjemahkan dalam versi Windra: "ada udang di balik batu". Loh? Ya itu arti kata tendensi menurut versiku...

Misalnya:
Tono mau membantu Tini karena mo ngedeketin adiknya (adiknya Tini ya, bukan adiknya Tono). Tono dalam kasus ini berperan sebagai orang yang tendensius (punya tendensi tertentu).

Nah, yang aku heran (dan terus terang, masih terus aku pikirkan) adalah bahwa kalo kamu cinta sama pacar kamu, apa ada tendensi-nya? Cinta bersyarat ato cinta nggak bersyarat? Aku sering nemui banyak para cowok yang cintanya ke ceweknya ternyata tendensius. Contoh (kasus untuk tendensi cinta pihak cowok):

  • Si cowok punya pacar cewek yang lebih kaya dari. Cowok ini jadi punya tendensi cinta yaitu ngedapetin materi dari ceweknya (morotin si cewek).

  • Si cewek isa memuaskan nafsu (seksual ato yang laen) si cowok. Cowok itu tendensi cintanya adalah pemuasan nafsu.

  • Si cewek adalah anak bos yang bisa melancarkan karir si cowok. Cowok itu memberi cinta dengan tendensi agar karirnya meningkat.

  • Si cewek puiinnteeer buangeet (dan karena obsesi dari si cowok untuk ngedapetin anak yang pinter, maka cowok itu punya tendensi cinta yaitu mendapatkan keturunan yang pinter).

  • Si cewek berasal dari status sosial yang lebih baik dan keluarga yang terpandang (say keluarga pejabat ato keluarga konglomerat). Cinta si cowok punya tendensi agar dia mendapatkan peningkatan status sosial.

Yang cewek2 bisa nggak ngerasakan ato ngeliat (ato ngalami?) tendensi cinta cowok? Aku ternyata ngeliat banyak hal2 kayak gitu di sekelilingku. Misalnya:

  • Si cewek punya pacar cowok yang isa bayarin kebutuhannya dalam shopping. Cinta si cewek terhadap cowok jelas tendensius, yaitu demi memenuhi hasratnya dalam ber-shopping.

  • Si cewek punya pacar cowok yang kaya. Cinta si cewek punya tendensi terhadap kekayaan si cowok.

  • Si cewek punya pacar cowok pemaen sinetron yang dalam sekali episode dibayar 8 digit. Cinta si cewek punya tendensi untuk mendapatkan popularitas sebagai pacar dari pemaen sinetron.

Lama-lama, aku heran. Apa ada ya cinta yang nggak tendensius? Kalo cinta karena suatu alasan, ya wajar-wajar aja. Kita pasti mencintai seseorang karena suatu alasan. Tapi kalo karena kamu cinta ke seseorang karena punya tendensi tertentu (ada udang di balik batu), boleh nggak ya?

Alasan dan tendensi itu beda lo. Kalo alasan, itu udah permanen. Maksutnya sudah ada dan kamu nggak perlu berjuang untuk mendapatkan itu dari pasangan kamu. Kalo tendensi, kamu berusaha dan berjuang untuk mendapatkan itu. Misalnya kalo kamu cinta ma pacar kamu dengan alasan dia cakep. Itu alasan, bukan tendensi. Cakep-nya pacar kamu itu udah permanen, kamu nggak perlu berjuang lagi untuk mendapatkannya (karena dia udah jadi pacar kamu). Tapi kalo kamu cinta ma pacar kamu yang kaya agar kamu bisa morotin duitnya, itu namanya cinta yang tendensius. Kamu mungkin blom dapet duitnya, tapi kamu punya tendensi ke sana dan bertujuan untuk mendapatkan itu. Ato kamu udah dapet duitnya, dan kamu gak kpingin kehilangan sumber pemasukan dari sana. Jadi kamu tetep mencintai pacar kamu dengan tendensi ngedapetin duitnya.

Kerasa nggak beda alasan dan tendensi? Kalo tendensi kamu harus berjuang, ada usaha yang kamu lakukan demi mendapatkan apa yang jadi tendensi kamu (dan ada kmungkinan kamu gak ngedapetin apa yang jadi tendensi cinta kamu)... Itu sebabnya di kamus Webster tadi nulis definisi tendensi: "moving toward some particular purpose" (melangkah untuk tujuan tertentu). Kalo alasan, nggak kayak gitu. Nggak ada tendensi apapun di dalamnya. Misalnya: "Aku cinta kamu karena kamu baik dan perhatian sama aku". Itu alasan, bukan tendensi. Si cewek cinta sama cowoknya karena cowok itu baik dan perhatian (bukan cinta demi mengejar "kebaikan-dan-perhatian"). Isa membedakan?

Nah, aku punya topik untuk direnungkan bagi yang beriman kepada Tuhan. Yang nggak beriman ato nggak percaya Tuhan, kamu skip aja paragraf ini. Kalo kamu cinta sama Tuhan, cinta kamu itu pake alasan ato pake tendensi? Kalo pake tendensi, misalnya gini: Aku cinta Tuhan biar aku teruuuusss diberkati, biar aku isa tambah kaya, biar aku disembuhkan dari sakit. Itu namanya tendensi cinta. Kamu tendensius kalo kamu mikir kayak gitu. Kamu bisa2 nggak cinta Tuhan kalo tendensi kamu nggak terpenuhi... Kalo pake alasan: "Aku cinta Tuhan karena Tuhan itu udah lebih dulu cinta ke aku, ngasih aku kehidupan, meletakkan aku di sekeliling orang2 yang terbaik dan untuk semua kebaikan yang udah dilakukan Tuhan ke aku, bahkan sebelum aku menyadari keberadaan Tuhan". Nah itu alasan. Nggak ada tendensinya. Apapun yang terjadi, kamu tetep isa cinta Tuhan dan tetep isa merasakan kebaikan2 Tuhan.

So, kalo ada cowok ato cewek yang cinta ma kamu, mana yang kamu lebih suka, cinta yang tendensius ato cinta karena alasan? (Impossible kayaknya kalo cinta itu nggak ada tendensi ato alasannya). There must be a reason ato tendency. Aku pribadi lebih prefer ke yang alasan. Aku bayangkan misalnya ada seorang cewek yang cinta ma aku (misal ya!). Cintanya tendensius... Misalnya cinta ke aku karena biar kalo jalan2 biar ada yang nganter (ceritanya aku tukang ojek). Tendensi cinta kayak gini, akan segera runtuh kalo aku udah nggak isa lagi nganter2 dia. Itu sisi negatif tendensi cinta, ketika tendensinya nggak terpenuhi, cintanya akan luntur. Dasar cinta adalah pemenuhan tendensi. Ada cowok yang cinta ke ceweknya karena punya tendensi untuk mendapatkan kepuasan (seksual). Cintanya akan dengan gampang luntur ketika ceweknya nggak isa (ato nggak mau) memuaskan dia lagi.

Kalo kamu cinta ke seseorang karena suatu alasan, fine! Dan pastikan itu adalah alasan yang tepat. Misalnya, kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu itu cowok yang dewasa dan isa membimbing kamu. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu itu cowok yang bertanggung jawab. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu itu cowok yang setia. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu baik dan perhatian. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu isa treat kamu well en menghargai kamu sebagai cewek. Nggak ada tendensi apapun ketika kamu cinta karena suatu alasan.

(btw, kalo aku... Aku akan cinta ke cewek karena cewek itu adalah cewek smart yang punya wawasan luas. Aku akan cinta ke cewek karena cewek itu isa bright my days. Aku akan cinta ke cewek karena cewek itu isa jadi temen diskusi yang asyik.)

[buat penganut-tendensi-cinta: find the reasons, not the tendencies]



No comments:

Post a Comment