Friday, January 20, 2006

The-Ring

Kamus garink (dalam versi Windra):

  • Ring: area tertutup di mana hanya orang2 tertentu yang bisa masuk ke dalamnya.

Kalau kamu suka nonton film, maka judul blog di atas akan mengingatkan kamu dengan cerita horor yang berjudul sama, The-Ring. Tapi saya tidak bermaksud untuk meresensi cerita film tersebut (which is tidak begitu bagus menurut saya). Saya ingin menyamakan persepsi tentang ring ini terlebih dulu. Definisi ring sebagai noun bermacam2, misalnya cincin, gelanggang tinju, komplotan, atau jaringan. Tapi kalau kamu mau memperhatikan, dari definisi itu bisa ditarik benang merahnya, yaitu bahwa ring adalah suatu area tertutup yang mana tidak semua orang bisa masuk. (lihat kamus garink).

Saya ingin men-share apa yang baru saja saya dapatkan... Inspirasi blog ini datang dari share teman2 saya, yaitu Yuli Triana (a nice girl yang pernah muncul dalam episode Nick "Incredible" Vujicic), Roy Agustinus (dia yang pernah menginspirasi episode "Bubur Ayam Special") dan Cherry Novita (tokoh baru, cewek smart yang termasuk dari sedikit orang yang bisa membuat saya tertawa lepas). Mereka adalah teman2 saya sekaligus kakak2 rohani saya yang luar biasa!

The-Ring yang saya maksud di sini adalah ring untuk pertemanan kamu. Kembali ke definisi ring (dalam versi Windra), kamu mempunyai ring untuk orang2 di sekitar kamu. Kamu jelas tidak mungkin berteman dengan siapapun (dan memasukkan semuanya ke dalam ring pertemanan kamu). Saya tidak bermaksud rasis dengan membeda2kan teman ya. Walaupun saya tahu, ada juga teman yang seperti itu, yang membatasi ring pertemanan hanya kepada mereka yang satu suku, satu agama, atau status sosial yang sama atau ring pertemanan yang hanya dibuka untuk orang2 yang menguntungkan dirinya (gawatnya, ketika orang tersebut sudah tidak menguntungkan, langsung didepak dari ring-nya). Kalau kamu masih SMP, SMA atau kuliah, saya yakin kamu dengan mudah melihat hal2 seperti itu di lingkungan kamu. Di mana anak pintar membuka ring pertemanan khusus untuk anak pintar saja. Anak yang merasa kaya hanya membuka ring pertemanan yang selevel dengan dirinya. Sementara anak bodoh membuka ring pertemanannya bagi siapapun, tapi ternyata tidak ada yang mau masuk ke dalamnya karena merasa tidak diuntungkan. Kalau kamu jeli, maka ring pertemanan tidak hanya berhenti pada level pelajar. Dalam fase kehidupan selanjutnya, yaitu kerja atau bisnis, kamu juga akan menemui hal yang sama. Ring pertemanan juga terbentuk di sana (dalam versi lebih kejam!). Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mulai belajar mengamati bagaimana ring pertemanan papa atau mama kamu.

Jadi apakah salah membuat ring pertemanan? TIDAK. Justru buat saya, ring pertemanan ini penting sekali. Saya juga mempunyai ring pertemanan. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam ring "pribadi" saya. Saya ingat ketika saya masih SD, saya diajarkan untuk berteman dengan siapapun. Tapi setelah saya menjalani kehidupan ini, ternyata teori untuk berteman dengan siapapun itu salah besar. Jadi apakah saya ini rasis? Tidak mau berteman dengan orang yang bersuku beda dengan saya? Tidak mau berteman dengan orang yang berkeyakinan beda? Tidak mau berteman dengan orang yang mempunyai status sosial yang berbeda? Tidak mau berteman dengan orang yang tidak menguntungkan? (Saya dapat membayangkan kamu mulai memandang saya dengan pandangan "kok-windra-ternyata-gitu-sih"?) Jangan berhenti baca... Karena kalau berhenti di sini, kamu akan melewatkan esensi dari blog ini. Baca dengan hati2 agar kamu dapat mengerti maksud saya...

Saya mempunyai empat level ring. Bayangkan sebuah ring tinju dengan area yang luas... Saya membatasi ring tinju tersebut dengan tali yang mengelilingi sisi2nya (itu esensi dari ring, tidak semua orang bisa masuk). Area di dalam tali itu adalah ring level satu. Beberapa meter ke dalam dari tali ring level satu, saya mengelilingi area tersebut dengan tali yang lain sehingga terbentuk ring baru yang lebih sempit yang terletak di dalam ring level 1. Ring baru ini adalah ring level 2. Di dalam ring level 2, saya membuat sebuah ring lagi dan mengelilinginya dengan tali yang saya sebut sebagai ring level 3 (which is ada di dalam ring level 2). Dan terakhir adalah ring level 4 yang berada di dalam ring level 3. Saya berada di tengah2 ring tersebut. Bisa bayangkan? Ada 4 level dalam ring pertemanan saya. Setiap level ring lebih sempit dari level sebelumnya.

Level pertama, saya sebut dengan ring-introduction. Semua orang mudah untuk masuk dalam ring-introduction saya. Semua bisa berkenalan dengan saya dan saya tidak pernah menolak untuk berkenalan dengan siapapun. Saya tidak pernah memandang status sosial, agama, ras, jenis kelamin untuk masuk dalam ring-introduction saya. Ring-introduction saya selalu welcome untuk semua orang! Ketika saya mengenal dan tahu nama seseorang, maka orang tersebut masuk dalam ring-introduction saya. Semua teman di FS saya secara otomatis masuk dalam ring-introduction saya. Tapi di level berikutnya? Belum tentu.

Level kedua, saya sebut dengan ring-make-contact atau ring di mana saya mengontak mereka sebagai teman. Saya yang mengontak loh ya, bukan mereka yang mengontak saya otomatis saya masukkan ke dalam ring-make-contact ini. Beda esensinya. Kalau saya mengontak mereka, artinya mereka telah masuk pada ring-introduction terlebih dulu lalu saya mengontaknya (karena ada suatu kepentingan) sehingga mereka masuk pada ring-make-contact saya. Tapi jika mereka yang mengontak saya, belum tentu mereka ada dalam ring-make-contact (bahkan mungkin bukan termasuk teman di ring-introduction).

Kalo saya harus memasukkan semua orang yang mengontak saya ke dalam ring-make-contact, maka ada kemungkinan terjadi skenarionya berikut:

HP saya bergetar, lalu saya angkat.
Windra: "Hallo..."
Suara-di-sana: "Hallo? Oom Tarjo... Piye kabare?" (Hallo, Oom Tarjo... Bagaimana kabarnya?)
Windra: "Oh, maaf Pak. Saya bukan Oom Tarjo."
Suara-di-sana: "Loh, lah terus iki sinten?" (lah terus ini siapa?)
Windra: "Saya juga bukan Sinten Pak, beneran!"
Suara-di-sana: "Piye to? Maksud saya, Anda ini siapa?"
Windra: "Oh, maaf. Saya Windra Pak.
Suara-di-sana: "Sanes Oom Tarjo nggih...?" (Bukan Oom Tarjo ya?)
Windra: "Sanes Pak..." (Bukan Pak) *belajar bahasa Jawa*
Suara-di-sana: "Oh, sepurane nggih" (oh, maafkan ya)
Windra: "Sebentar Pak..."
Suara-di-sana: "Ya? Nopo maleh?" (Ya, apa lagi?) *bingung*
Windra: "Begini Pak. Karena bapak sudah mengontak saya, maka bapak harus masuk dalam ring-make-contact saya. Jadi saya harus tahu siapa bapak, nama bapak, alamat dan pekerjaan bapak. Jadi saya bisa memasukkan bapak ke dalam ring-make-contact saya.
Suara-di-sana (*nada marah*): Ring-make-contact opo maneh? Dasar wong edan...! " * Ra eruh pulsa larang opo? salah sambung tambah dijak jagongan!*
(sayup2 terdengar sebelum telepon diputus - mohon diterjemahkan sendiri)

See? Tidak semua orang yang mengontak saya, harus dimasukkan ke dalam ring-make-contact.

Level ketiga saya sebut sebagai ring-friendship. Ring di mana hanya bisa dimasuki oleh sahabat2 saya. Ring di mana saya terbuka dengan mereka, share masalah saya, cerita tentang hidup saya. Saya mempercayai mereka sebagai sahabat dan saya juga yakin bahwa mereka juga memasukkan saya ke dalam ring-friendship mereka. Mereka yang bisa saya percayai pada ring-make-contact, akan saya undang untuk masuk ke dalam ring-friendship. Saya punya beberapa kriteria khusus pada ring-friendship ini... Dan yang jelas, tipe orang ember yang suka bergosip tidak dapat saya masukkan ke dalam ring-friendship. Beberapa dari teman di FS ini, masuk dalam ring-friendship saya. (Kamu-tahu-siapa-kamu). Ring-friendship saya masih terbuka lebar... Saya masih ingin menambah sahabat2 yang bisa saya percaya, bisa saya ajak sharing, bisa saya ajak berdiskusi...

Level keempat saya sebut dengan ring-intimacy. Ring ke-intiman... Ring di mana kamu terlibat hubungan emosi (seringkali fisik) secara mendalam. Ring yang hanya pasangan hidup kamu yang boleh masuk. Saya pernah punya someone yang saya masukkan ke dalam ring-intimacy ini, yaitu mantan pacar saya. Ya, mantan pacar saya yang sekarang sudah merried. Jelas, saya tidak dapat terus2an memasukkan dia ke dalam ring ini. Saat ini dia berada di ring-make-contact (bahkan saya tidak pernah berhasil mengontaknya untuk sekedar menanyakan kabarnya).

Kalau sekarang, ring-intimacy saya masih kosong dan saya ingin memperbanyak ring-friendship saya dulu karena siapapun yang akan saya masukkan ke dalam ring-intimacy, harus melalui ring-friendship terlebih dulu. Harus melalui proses ring-introduction, ring-make-contact dan ring-frienship. Kalau kamu belum mempunyai siapapun pada ring-intimacy, jangan memaksa. Ini adalah ring yang sangat berbahaya. Ring yang bisa menghancurkan tali2 di ring2 sebelumnya jika kamu tidak berhati2. Ring yang bisa membuat kamu menangis dan semakin mempersempit ring2 kamu yang lain (atau bahkan menutup semua tali ring kamu). Ring yang bisa menghancurkan hidup kamu dan masa depan kamu jika kamu mengundang sembarang orang untuk masuk ke dalamnya. Siapapun yang masuk ke dalam ring-intimacy, MAKE SURE dia sudah melewati ring-introduction, ring-make-contact dan ring-friendship.

Nah, kembali ke pertanyaan semula, apakah salah membuat ring pertemanan? Jawaban saya tetap "tidak salah". Justru saya menganjurkan agar kamu mempunyai ring pertemanan ini. Saya tidak tahu, apakah kamu setuju dengan pembagian empat ring seperti yang saya lakukan... Bukannya saya tidak mau berteman dengan semua orang. Saya membuka ring-introduction saya untuk semua orang, tapi untuk memasukkan seseorang ke dalam ring-make-contact, saya akan pilih2, apalagi ke dalam ring-friendship dan ring-intimacy.
Milihnya bagaimana? Saya jelas tidak akan memasukkan seseorang yang dapat menghancurkan hidup saya ke dalam ring friendship. Contohnya seorang psikopat yang punya hobi membunuh tidak akan saya masukkan ke dalam ring-introduction. Saya juga tidak akan memasukkan seorang gay yang naksir saya ke dalam ring-make-contact (fine kalo hanya ring-introduction). Ring-friendship saya tidak akan pernah saya buka untuk orang yang ember dan penyebar gosip. Dan satu lagi yang pasti, ring-intimacy hanya terbuka untuk orang yang berjenis kelamin wanita (mohon maaf untuk yang berjenis kelamin pria, kalian di luar ring-intimacy saja ya).

Sekali lagi, saya tidak tahu bagaimana pembagian ring pertemanan kamu. Tapi saya pernah punya teman. Dia bisa dengan gampang membawa seseorang dari ring-introduction menuju ring-intimacy dalam hitungan hari. Dan hidup dia, saya tahu sekali, berantakan. Buat saya, teman seperti dia hanya masuk dalam ring-introduction saya. Saya tidak bermaksud diskriminatif. Tapi pengalaman saya, orang bisa menjadi lebih berkembang (ke arah yang positif) ketika orang itu mempunyai teman yang punya good attitude pada ring-make-contact dan ring-friendship (itu sebabnya saya memasukkan kakak2 rohani saya yang luar biasa ke dalam ring-friendship saya, anytime saya butuh advice, saya tak ragu untuk bertanya kepada mereka karena saya tahu sekali good-attitude yang mereka punya). Kalau kamu memasukkan (banyak) teman yang punya bad attitude pada ring-friendship, saya kuatir kehidupan kamu dapat gampang terpengaruh dengan bad attitude mereka. Jadi sebenarnya bukan masalah diskriminatifnya, tapi pada perkembangan hidup kamu di masa depan. Kalau kamu bergaul dengan orang2 yang punya good attitude, saya yakin kamu sedikit banyak akan terpengaruh dengan good attitude mereka. Saran saya, letakkan mereka (those-who-has-good-attitude) ke dalam ring-make-contact dan ring-friendship kamu dan jangan pernah mengundang teman yang punya bad-attitude ke dalam ring-make-contact atau ring-friendship, apalagi ring-intimacy. Saran ya, bukan keharusan.

Oh, ya saya punya contoh satu lagi tentang ring pertemanan ini. Ingat the-girl-who-still-remain kan? Dulu, dia pernah masuk ke dalam ring-friendship saya (dan saya merasa juga masuk ke dalam ring-friendship dia). Tapi somehow, dia mundur ke ring-introduction dan saya sampai saat ini saya belum punya kesempatan untuk mengembalikan the-girl-who-still-remain ke ring-friendship saya (which is i miss the way she talks when she was in my friendship-ring. My friendship-ring will always open for her).

Nah, menurut kalian, ring pertemanan ini make sense ato mengada2?

[buat siapa saja yang blom punya ring pertemanan, should you build one...?]

NB. Setelah aku baca ulang, ternyata aku ngerasakan banget ke-garing-an ketika aku make kata "saya" sebagai kata ganti... Next posting dapet style yang lebih baik...

No comments:

Post a Comment