Thursday, January 19, 2006

Fase Baru di Hidup Saya

Saya sedang akan mengalami fase baru dalam kehidupan ini. Beberapa dari kamu, mungkin sudah mengalaminya. Tapi tidak buat saya.

(ini aku nyoba make kata ganti orang pertama dengan "saya". Biasanya aku pake kata ganti "aku" ato "guah". Skarang lagi nyoba style baru, hopefully nggak bikin ngantuk).

Fase itu, jika diizinkan Tuhan, akan mulai saya jalani hari Sabtu depan, tanggal 28 Januari 2006, beberapa minggu menjelang hari Valentine (memang tidak berhubungan dengan hari Valentine, saya sekedar mengingatkan bahwa bulan depan kita memperingati hari valentine).

Saya akan pergi meninggalkan papi dan mami...

Apa? Minggat? Bukan...! Jangan berpikir saya minggat... Nggak, saya masih sayang sama papi mami. Saya masih menikmati hidup bareng papi mami sebagai anak tunggal (karena para cc sudah terlebih dulu diambil orang... sebagai istri ya, bukan diambil sebagai budak ato diambil seperti hape tempo hari...
Kalo cc diambil orang, kayak hape saya kemarin, skenarionya gini:

Mami: "Win, ciknga mana?" [ciknga: panggilan buat kakak ke-dua]
Windra: "Nggak tau... Bukannya kmaren masih ada?"
Mami: "Iyah, sekarang udah nggak ada di kamarnya..."
Windra: "Lagi pergi kali?"
Mami: "Nggak mungkin, kan mesti pamit ke mami kalo mo pergi..."
Windra: "Oooo..." [mikir2] "berarti ya... berarti ciknga diambil orang mi...!"
Mami: "Iya ya..." [manggut2] "diambil orang... kasian ciknga-mu... Padahal mami itu jam 4 pagi udah bangun... Kmungkinan malingnya masuk jam 3 pagi, ngelompati pager... Dan ciknga pasti lupa ngunci pintu kamar. Jadi ya, enak aja malingnya ngambil..."
Windra: Iya... Lah wong Windra juga masih bangun kok jam 1 pagi."
[lalu kami sibuk menganalisa bagaimana kemungkinan maling itu ngambil ciknga]

* Itu skenario ya, bukan kejadian sesungguhnya *

).


Nah, seperti orang2 dewasa lainnya, ada fase ketika kamu harus hidup sendiri dan choose your own destiny. Itulah yang saya hadapi sekarang. Meninggalkan orang tua dan hidup sendiri. Para anak kost, pasti sudah mengalami fase ini. Mereka yang sudah menikah, juga sudah mengalami fase ini (kecuali yang tinggal di perumahan Pondok Mertua Indah). Jutaan, milyaran bahkan triliunan orang juga telah mengalami fase ini. Saya salut sama papi yang mengalami fase ini ketika usianya masih 15 tahun (meninggalkan desanya di banyuwangi dan merantau ke malang, that's explain kenapa papi pada usia yang sama dengan saya saat ini, sudah menjadi seorang ayah!). Sedangkan saya... (sudah2, jangan dibandingkan!).

Saya percaya, kalau kamu belum mengalaminya sekarang, kamu akan mengalaminya suatu hari nanti. Itu sebabnya, saya pikir, saya perlu share tentang apa yang saya alami ini. Agar nanti ketika kamu mengalaminya, kamu bisa ngerti hidup seperti apa yang bakal yang kamu hadapi.

Sebenarnya, ini bukan rencana sehari dua hari. Papi, mami dan saya sudah merencanakan fase ini sejak tahun lalu. Saya beruntung bahwa papi mami adalah orang tua yang mau peduli dengan saya sebagai anak laki2 satu2nya yang paling cakep (maaf, saya selalu nggak tahan buat bilang bahwa saya anak yang paling cakep ketika menyebutkan status bahwa saya adalah "anak-laki-satu2nya-di-keluarga-kelinci" ini). Ceritanya, setahun yang lalu, mami beli sebidang tanah (sebidang ya, bukan se-truk). Tanah itu masih kosong dan ditanami rumput serta ilalang (kami tidak bermaksud menanaminya, tapi rumput dan ilalang itu tumbuh dengan sendirinya). Lalu saya dengan pe-de-nya, bilang ke mami bahwa daripada tanah itu hanya ditanami rumput dan ilalang, bagaimana jika saya mendirikan rumah di atasnya, sehingga rumput dan ilalang tidak kepanasan. Waktu itu, mami memandang saya dengan pandangan "maksutnya-rumah-tripleks?" Saya balik mandang mami, dengan pandangan "ya-rumah-beneran-lah...!". Mami tersenyum dan meninggalkan saya setelah sebelumnya melempar pandangan "memangnya-uang-kamu-berapa?"

Saya tidak peduli. Bak seorang arsitek dengan berbekal sebuah buku "Mendesain Rumah Mungil", saya mulai membuat denah rumahnya. Lalu saya berikan ke papi dan mami (denahnya, bukan buku "Mendesain Rumah Mungil"nya). Mereka menerima denah itu dengan baik, sambil memberikan beberapa koreksi terhadap denah amatiran itu. Dan saya mengatakan, besok saya akan mencari tukang untuk mulai membangun rumah ini. Sekali lagi saya mendapat pandangan "memangnya-uang-kamu-berapa?". Kali ini saya membalas dengan pandangan "Gini2-saya-punya-tabungan!". Papi mami sepertinya ingin memberi saya sebuah pelajaran yang berharga. Mereka setuju dan berjanji akan membantu untuk mencari tukang demi mewujudkan rumah itu.

Dan benar saja. Dalam waktu kurang dari dua bulan semua tabungan saya ludes. Hasilnya? Hanya sebuah pondasi. Tanpa dinding, tanpa lantai, tanpa atap. Hati saya terenyuh ketika melihat bahwa rumput dan ilalang masih kepanasan. Saya menyerah dan hanya bisa memandang mami dengan pandangan "teruskan-ya-mi..." Mami memang tidak pernah tega melihat anak laki2 satu2nya yang... yah, "kamu-tahu-apa-yang-mau-saya-katakan".

Setahun lebih rumah itu dibangun (lihat di photo album kronologis pembangunannya). Beberapa kali sempat terhenti. Mami memperbaiki rancangan menjadi dua lantai. Lantai bawah sudah selesai dan lantai atas sedang di-finishing (pasang keramik, pintu, jendela dan cat). Saya sudah bisa tinggal di lantai bawah (yang mana hari Sabtu depan jika tidak ada halangan akan saya tempati). Saya memindahkan rumput dan ilalang di tanah kecil di depan rumah. Mereka mengucapkan beribu terimakasih kepada saya, karena mereka sudah tidak kepanasan lagi.

Ternyata pindah dari fase "bersama-papi-mami" menuju fase "tinggal-sendiri" tidak semudah itu. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak2.
  1. Yang namanya rumah, harus ada sofa untuk diletakkan di ruang tamu. Jika ada tamu berkunjung ke rumahmu, kamu tidak mungkin mempersilahkan tamu itu masuk serta menyuruhnya duduk di lantai.
  2. Meja makan atau dinning set. Sebenarnya saya bisa makan walaupun tidak ada mejanya. Buat saya, bukan mejanya yang penting, tapi apa makanannya. Tapi demi nilai2 estetika, meja makan akhirnya dimasukkan ke dalam daftar "must-have".
  3. Seperti makan, tidur pun juga suatu kebutuhan mutlak. Saya mencoba tidur di lantai, dan keesokan harinya... pegal2. Karena alasan itu, tempat tidur masuk dalam daftar "must-have".
  4. Rumah tetangga sebenarnya cukup terang untuk menerangi beberapa bagian dari rumah saya ketika malam hari. Tapi kata mami, tidak baik jika penerangan tergantung dari tetangga... Akhirnya saya harus membeli lampu2 (jamak ya!).
  5. Untuk makan, saya memang menggunakan jasa catering (kalau ada referensi katering yang enak yang mau mengantar sampai daerah blimbing, saya mau... apalagi yang gratis). Tapi saya tetap butuh kompor untuk memasak. Walaupun saya tidak dapat memasak, tapi saya merasa bahwa saya akan membutuhkan alat itu. Saya tidak mungkin menggunakan batu dan kayu seperti zaman batu untuk membuat api demi memasak mie goreng. Saya butuh kompor, dan ternyata saya telah berhasil membuktikan bahwa kompor gas tidak dapat menyala jika kamu tidak punya tabung LPG (which is harga tabungnya lebih mahal ketimbang kompornya sendiri).
  6. Kitchen set. Piring dan sendok buat makan, harus diletakkan dalam suatu tempat. Dan tempat yang paling tepat adalah kitchen set. Setiap kali makan, saya hanya menggunakan satu piring, satu sendok dan satu garpu (sekali2 saya menggunakan tangan, tanpa sendok dan garpu). Jadi saya pikir, saya tidak perlu kitchen set yang luas, secukupnya saja (saya sedang merancang sebuah kitchen set dengan kapasitas satu piring, satu sendok dan satu garpu).
  7. Kulkas? Sebenarnya tidak terlalu perlu buat saya. Saya tidak begitu yakin bahwa kulkas tersebut akan diisi dengan banyak makanan. Saya tinggal sendiri, kemungkinan besar, kulkas itu hanya akan berisi air minum, camilan atau buah (sekali lagi ya, saya tidak bisa memasak, sehingga tidak harus menyimpan bahan mentah di kulkas). Tapi di rumah saat ini, ada kulkas satu pintu yang tidak pernah dipakai mami. Jadi tidak salah kalau saya mendayagunakan kulkas tersebut di rumah baru.
  8. Mesin cuci? Absolutely not. Saya me-laundry semua pakaian saya.
  9. Televisi? Mungkin perlu. Tapi buat saya tidak mutlak. Ok, saya tahu ada orang2 yang tidak bisa hidup tanpa televisi. Tapi orang itu bukan saya. Yang saya tidak bisa tahan adalah kalau tidak ada komputer. Di rumah, ada televisi 14" (empat belas inch ya, bukan empat belas biji) punya cc yang juga jarang dipakai. Jadi saya juga akan berencana membawa ke rumah baru untuk pelengkap (which is masih lebih besar dari monitor 17" komputer saya).
  10. Anjing. Saya perlu anjing untuk menjaga rumah (dan sebagai teman). Saya sudah menyiapkan namanya. Jika anjing itu pria akan saya beri nama Cho, jika wanita saya beri nama Cha (mohon maaf bagi mereka yang mempunyai unsur nama itu, saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung. Nama itu untuk mengingatkan saya pada the-girl-who-still-remain). Hanya masalahnya, anjing ber-metabolisme. Anjing tidak mempunyai pori2 seperti manusia (sehingga tidak pernah berkeringat). Jadi metabolismenya (nya=anjing ya, bukan manusia) hanya lewat air seni dan "objek-lembek-yang-tidak-perlu-disebut-di-sini". Jika kamu pernah memelihara anjing, kamu tahu apa yang saya maksud.
  11. Terus butuh juga peralatan2 kecil lain, seperti peralatan audio, setrika, magic jar, rice cooker, gunting, sapu, kain pel, keset, stationary... [dan daftarnya masih belum habis]

Ternyata berpindah ke fase "hidup-sendiri" tidak mudah. Setidaknya buat saya. Saya benar2 harus mempertimbangkan masak2 mana yang "must-have" (urgent buat dibeli) dan mana yang tidak. Hal itu pasti bukan menjadi masalah kalau kamu punya account di bank dengan 10 angka tercetak di atasnya (tanpa menghitung koma-nya). Kamu dengan bebas membeli semua barang bermerk (baik yang "must-have" maupun yang tidak). Masalahnya account tabungan saya, memang tercetak 16 angka, hanya saja angka2 tersebut dalam biner! (mereka yang pernah belajar sistem bilangan baik yang saya ajarkan maupun yang belajar sendiri jangan coba2 menghitung! itu bukan angka yang sesungguhnya!). Jadi saya benar2 harus mengatur prioritas mana yang harus dibeli dan mana yang nggak. Contoh gampangnya, kalau kamu tahu dry iron (itu kalau dalam bahasa "dusun" disebut setrika) merek Philip, harganya 150rb, sedangkan untuk dry iron dengan model yang sama made in china harganya hanya 30rb. Satu setrika Philip = 5 buah setrika "Made-in-china"... (bener, 5 buah, satu... dua... tiga... empat... lima!)

Jadi mengatur skala prioritas memang penting sekali. Lebih2 jika saya nanti diberi izin (ma Tuhan) buat kuliah... Saya harus siapkan uang lagi. Lalu saya juga harus mempersiapkan buat... em... "kamu-tahu-apa-yang-harus-dipersiapkan-seorang-cowok". Tapi ya saya percaya... Kalau saya berjalan sesuai dengan rencana dan waktunya Tuhan, ya pasti Tuhan yang menyediakan semuanya. Dia kan Bapa yang tahu kebutuhan anakNya.

Nah, fase baru ini buat saya adalah permulaan. Tantangan dan kesulitan yang akan saya hadapi, sebisa mungkin saya posting di sini agar (harapan saya) kalian yang membaca blog ini, bisa belajar sesuatu dari situ (semoga ya).

[buat pembaca blog ini: kamar saya, masih cukup luas untuk televisi 29" (atau yang lebih besar), DVD player, audio system, AC, dan seperangkat kursi santai. Sekiranya di antara pembaca blog yang punya barang2 tersebut dan masih dalam kondisi baik, kamar saya akan dengan senang hati menerimanya... (kamar saya ya, bukan saya)]

NB. Menuliskan dengan kata ganti "saya", berarti diksi (pemilihan kata) juga ikut berubah. Akhirnya nuansa blog menjadi lebih serius dibandingkan dengan pemakaian kata ganti "guah" atau "aku".


No comments:

Post a Comment