Saturday, December 17, 2005

Christmas Story, What The Bible and Priest Never Tell You!

Ini kisah natal yang aku jamin, gak pernah diceritakan di gereja ato dikotbahkan…

***

Episode 1: Pesan Berantai…!

Hari masih sore, belum lagi terlalu gelap.

Nampak seekor domba mengendap-endap keluar dari kandangnya. Menoleh ke kiri dan ke kanan, takut kalau2 oom gembala memergokinya bahwa dia sedang keluar kandang. "Mbeeekk…!". Tiba-tiba kakinya terantuk batu. Sadar, bahwa teriakannya dapat membuat sang oom gembala melakukan inspeksi ke kandang, domba itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu, perlahan-lahan, masih dengan mengendap-endap, ia melanjutkan pelariannya.

Tapi tiba-tiba, "Hei…!" Teriak oom gembala yang tiba-tiba muncul. Domba itu terkejut. Pura-pura tidak mendengar teriakan si gembala. "Kamu!" Sekali lagi, domba itu pura-pura tidak merasa bahwa dirinya yang sedang dipanggil oom gembala. Domba itu menoleh ke kiri dan ke kanan, kalau-kalau ada domba lain di sekelilingnya. "Ya, kamu yang lagi tolah toleh itu…! Kamu Joko kan? Ngapain kamu di situ…?". Teriak oom gembala.

"Duh… ketangkep basah nih…" Pikir domba yang ternyata bernama Joko itu…
"Mbeeeek…" [saya tersesat oom...] Kata domba Joko.
"Tersesat… tersesat…! Kamu kira saya jadi gembala baru kemaren sore apa sampe isa ditipu domba jelek kayak kamu? Asal tau aja ya, bapak saya itu gembala yang punya 252 ekor domba, kakek saya juga seorang gembala yang punya 364 domba, bapaknya kakek saya adalah ketua RT dari para gembala setempat dan kakeknya kakek saya adalah seekor domba…! Jadi, jelek2 gini, saya ini masih keturunan domba! Kamu mau kencan ke kandang sebelah kan…?"

"Yaaah… ketauan…" Pikir Domba Joko. "Tadi mah udah janjian ma Domba Tini pas di padang rumput… Aku mau ngapelin dia… Tapi apa boleh buat, terlanjur ketauan… Balik kandang aja deh…"

"Sana balik kandang…!" Teriak oom gembala.

"Mbeeekk…" [iya oom...] Sahut Domba Joko dengan pasrah.

Domba Joko mencari akal untuk menyampaikan kabar bahwa dia nggak bisa dateng ke Domba Tini yang sedang menunggunya. Akhirnya, dari inspirasi salah satu kuis di TPI yang sering ditontonnya, domba Joko menyampaikan pesan berantai yang disampaikan dari domba ke domba untuk Domba Tini. Tapi yang belum diketahui domba Joko, adalah bahwa para domba adalah ternak yang punya kecerdasan sedikit di atas level kecerdasan protozoa, sehingga akurasi pesan tidak dapat dipercaya.
Berikut skenarionya:

Domba Joko ke domba Karno: "Eh, tolong bilang ke Tini yah, aku nggak bisa dateng ke kandangnya hari ini soalnya ketauan oom gembala. Besok aja, ketemuan di padang rumput. I miss you, Tin!"

Domba Karno ke domba Sugiarti: "Eh, pesen dari Joko buat Tini, dia nggak bisa dateng ke kandangnya hari ini. Joko lagi sakit ketularan oom gembala. Oom gembalanya panuan sih… Ketemunya besok aja, di bawah pohon. I miss Tin, you!"

Domba Sugiarti ke domba Jono: "Eh, pesen dari Joko buat Tino, dia nggak bisa dateng hari ini, soalnya lagi menjenguk oom gembala yang lagi sakit panu. Besok janjian mau ketemu ma oom gembala di bawah pohon. Ada film layar tancep Tintin di Laut Merah katanya. Ikut nonton yuk!"

Domba Jono ke domba Harun: "Eh, kata Joko besok ada layar tancep. Tintin di Laut Merah. Jadi besok bisa nonton bareng-bareng… Jangan lupa bawa popcorn dan minuman."

Domba Harun ke domba Murni: "Eh, kata Joko besok berlayar ma Tintin di laut Merah. Terus bawa popcorn dan minuman. Emang di laut gak ada yang jual popcorn yak? Ngomong2 loe isa renang nggak?"

Domba Murni ke domba Suratman: "Eh, gue lupa pesennya apaan yaak?"

* Bletaak…! * Domba Suratman menjitak kepala domba Murni (dengan harapan domba Murni bisa mengingat kembali pesannya).
"Mbeeekk…!" Seru domba Murni, kesakitan.

***
Episode 2: Firasat Domba Roki

Sepanjang sore hingga menjelang malam, Domba Tini menunggu di kandang. Berpikir yang tidak2.
"Joko jelek itu pasti selingkuh dengan Nini…! Pasti! Tadi aja Nini udah tebar2 pesona di depan Joko. Dasar Nini kegatelan! Awas loe berdua yaaa…!"

"Mbeeekk…!" Domba Roki, yang sok Jakarte mengembik tepat di sebelah telinga Domba Nini.
"Dooh, apaan sih Rok? Brisik banget…!" Protes Tini.
"Ni, loe ngerasa laen nggak malem ini?"
"Laen apaan?"
"Ya, kayaknya malem ini malem yang nggak biasa. Firasat gue bakal ada kejadian gede…"
"Kejadian apaan sih? Ngaco loe Rok!"
"Eh, sumpe Ni… Firasat gue kalo hal ginian tajem loh… Loe inget kan waktu temen kite Doni mo disembelih buat kurban? Siape coba yang ngerasa duluan? Kan gue…"
"Eh, bener juga… Emang loe ngerasa apaan Rok?"
"Gue ngerasa kita bakal kedatengan tamu…"
"Maksut loe, tamunya oom gembala?"
"Bukan… tamu kita…"
"Oooo… Kita dapet kunjungan dari domba-domba RT sebelah ya?" Tanya Tini dengan bloon-nya.

* Bletaak…! * Domba Roki menjitak Domba Tini (berharap bahwa Tini akan sembuh dari penyakit bloon yang dideritanya)

"Emang Susah deh ngomong ma domba…" Kata Roki (tidak merasa bahwa dirinya juga seekor domba)

***
Episode 3: Bintang Timur

"Berhentiii dulu…!" Teriak orang pertama. "Yakin jalannya ini?"
"Ya… Pasti. Lihat bintang di Timur itu kan?" Sahut orang kedua sambil menunjuk sebuah bintang yang terang di arah Timur. "itu satu2nya arah yang harus kita ikuti…"
"Ini jalan ke mana?" Tanya orang ketiga.
"Kalau tidak salah, ini jalan menuju tanah Yudea, Betlehem." Jawab orang kedua.
"Ya… Mari kita lanjutkan perjalanan."
Lalu mereka bertiga segera memacu onta, bergegas menuju ke arah bintang Timur itu.

***
Episode 4: Ngeronda

"Akang ngeronda lagi…?"
"Iyah Neng…! Ituh… Sejak kaisar Agustus mau men-sensus penduduk, jadi banyak orang lewat ke tanah Yudea ini… Mereka berbondong-bondong daptar… Makanya kegiatan ronda musti digalakkan lagi. Seperti kata bapak RT, merondakan masyarakat dan memasyarakatkan ronda…"
"Ah, akang bisa aja… Kang, Udah bawa kopinya ma pisang gorengnya…?"
"Udah neng… Akang berangkat dulu ya Neng… Ituh, neng cek di kandang… Tadi domba Joko kepergok mau ke kandang sebelah. Dia rupanya naksir samah Kembang Domba Tini…"
"Yah, Akang… Biar ajah. Namanya jugah domba lagi kasmaran… Kayak akang gak pernah ajah…"
"Eeeei, ituh kalo si Joko jadian samah si Tini, terus kawin… Keenakan oom Amrin. Tini hamil, punya anak, dianya dapet domba kualitas nomer 1… Entar Joko nggak mau kawin ma domba sendiri… Mending Joko kita kawinin ama Trini, domba kita sendiri…"
"Ya udah ah… Akang ngeronda aja… Nanti Joko biar neng yang urus…"

Sambil mencomot pisang goreng, oom gembala itu pergi ke desa. Bergabung bersama gembala2 lain dan mulai meronda, berpatroli keliling desa.

***
Episode 5:SIP = Surat Izin Pacaran

Setelah ditinggal suaminya, istri gembala segera menuju ke kandang, sambil membawa lilin yang menyala… (karena listrik masih blom masuk tanah Yudea waktu itu…)
"Domba mau pacaran kok dilarang… Pake dijodoh2in ma Trini segala. Emangnya ini zaman Siti Nurbaya yang dijodohin ma Datuk Maringgih? Yang bener aja… Ini blom zamannya."

"Jokkooo…" teriak istri gembala di tengah2 kandang domba. Beberapa domba sudah tertidur. Tapi beberapa lagi masih asyik bermain kartu. Ada juga yang sedang bermain catur dan Othello. Selama obor masih menyala di kandang, memang para domba lebih senang menghabiskan waktu dengan bermain.

"Mbeeek…!" [Joko ada di pojok Tante] Kata salah satu domba
"Mbeeekk..!!" [Lagi patah hati dia Tante] Timpal salah satu domba yang sedang bermain Othello, sambil meletakkan biji hitamnya.
"Mbek!" [sok tau loe] Sahut lawan mainnya sambil meletakkan biji putih di pojok, "Mbeeeek!" [yes, guah dapet pojok!]
"Mmmbeeeek…?" [Ada apaan seh rame amat?] tanya seekor domba yang terganggu tidurnya.

Tampak Joko sedang melamun. Istri gembala tahu kerinduan Joko terhadap Tini.
"Joko…" Kata istri gembala dengan lembut, "kangen samah Tini ya…?"
"Mbek" [iya], jawab Joko pendek. Matanya menerawang, memandang atap kandang itu dengan pandangan kosong.
"Ayo, pergi saja… Tante izinkan kamu pergi."
"Mbek?" [Ha?] "Mbeek kah?" [Benarkah?]
"Tentu saja… Oom gembala sedang meronda. Kira2 jam 1 nanti baru pulang… Ayo temui Tini sana. Katakan bahwa kamu mencintainya… Bawakan rumput segar buat dia…"
"Mbeeek…" [tapi tante...]
"Nanti tante yang urus… tenang saja. Ayo… sana cepat temui Tini…"
"Mbeekkkk!" [makasih tante!] Domba Joko segera bangkit, lalu berlari keluar kandang untuk melepaskan kangen terhadap Tini.

***
Episode 6: Ajakan kencan

Ketika masuk ke kandang di mana Tini berada, beberapa domba pria memandang Joko dengan pandangan "kamu-domba-yang-beruntung-bisa-dapat-Tini".
"Mbeeekk…! Mbek mbek…?" [Tiniiii! Dimana kamu?] Teriak Joko.
Tini sebenarnya sudah hampir terlelap ketika dia mendengar teriakan itu.
"Mbeek!" [di sini] teriak Tini spontan. Sebagai domba sanguin, Tini hampir tidak pernah berpikir siapa yang memanggilnya. Dia langsung menjawab begitu ada yang memanggilnya.
"Hai sweety…"
"Hah…? Kamu Jok? Kirain nggak dateng…" Tini sudah lupa dengan kekesalannya. Melihat pujaan hatinya datang, dia menjadi berbunga2, apalagi melihat rumput segar di tangan Joko.
"Iya, aku tadi kepergok oom gembala. Tapi tante mengizinkan aku pergi ketika oom gembala lagi ngeronda… Loh, emang pesanku nggak nyampe apa?"
"Pesan apaan…?" Tanya Tuti penuh tanda tanya, lalu melirik domba2 di sekelilingnya dengan pandangan "pasti-loe-gak-nyampein-ke-gue".
Domba Murni, yang gagal menyampaikan pesan kepada domba Suratman, beringsut2 pergi menjauhi mereka…
"Udahlah, yang penting kita di sini… Inih, aku bawa kudapan rumput buat kamu. Dimakan sambil jalan2 keluar yuk…"
"Ayukkk…"

***
Episode 7: Tamu misterius

Tapi, pada saat yang bersamaan, dari pintu masuk kandang tampak dua sosok manusia. Seorang pria dan wanita. Pria itu berjalan dengan memapah sang wanita yang nampaknya kesakitan… Beberapa domba langsung menghentikan kegiatan mereka, memandang ke arah dua sosok tersebut dengan tertegun…
"Mbeekk…!" [wanita itu gendut banget yak...?] celetuk seekor domba…
* Bletaak !* Seekor domba langsung menjitak kepala domba itu… "Mbeeeekkk!" [wanita itu hamil, goblok....!]
"Mbeek mbeek…?" [hamil itu apaan sih?] tanyanya sambil mengelus2 benjolan akibat jitakan tadi…
"Mbeek…!" [Emang susah ngomong sama domba!] Kata Roki, seperti biasa (karena dia memang paling pinter di antara para domba lain).
"Ini dia tamunya…" Pikir Roki… "Siapa gerangan kedua orang ini…? Firasatku mengatakan kedua orang ini bukan orang biasa…!"

Pria itu membaringkan wanita di tumpukan jerami. Joko dan Tini saling berpandangan.
"Yusuf… uhhh… ehh… Sudah… waktunyaa…"
Pria itu, berusaha sekuat tenaga menenangkan sang wanita. Pria itu tahu, bahwa malam inilah kelahiran Anak sulungnya… Lahir pada saat dia dan istrinya harus pergi ke kota untuk mendaftarkan diri, sesuai dengan perintah Kaisar Agustus. Tidak ada tempat tidur nyaman untuk kelahiran Anak pertamanya. Hanya sebuah kandang domba…

Tanpa disadarinya, di langit sebuah bintang bersinar dengan sangat terang. Bersinar tepat di atas kandang itu. Bintang Timur. Bintang yang dicari-cari oleh tiga orang majus. Bintang yang juga dicari Raja Herodes, tapi dengan motivasi yang berbeda dengan ketiga orang majus tersebut.

***
Episode 8: Gembala-gembala
Lukas 2:8-20

***
Episode 9: Malam itu…

  • Malam itu, seorang Bayi telah lahir di kandang domba. Dibungkus kain lampin.
  • Malam itu, para gembala (yang dengan terburu2 pergi ke kandang tersebut pada saat mereka me-ronda) takjub melihat hal itu (termasuk para domba). Domba Joko lega melihat oom gembalanya (dan para gembala lain) lebih memperhatikan kelahiran Bayi itu daripada memperhatikan dia yang sedang berpacaran.
  • Malam itu, Joko menyatakan cintanya kepada Tini. Tini terharu, dan menerima cinta Joko.
  • Malam itu, Bintang timur telah menuntun tiga orang majus untuk mengunjungi kandang domba itu, dan mempersembahkan harta mereka untuk Bayi tersebut.
  • Malam itu, Joko berjanji akan mencintai Tini seumur hidupnya dan berharap Tini mau menjadi ibu dari anak-anaknya…
  • Malam itu, adalah malam yang akan dikenang sebagai malam natal…
***
Episode 10: Merry Christmas

Merry Christmas semuanya…
[buat semuanyah... There's always miracle in Christmas. Expect one...]

No comments:

Post a Comment